Ini Pemetaan Pilkada 2018 Rasa Pilpres 2019

0
186

Jakarta, namalonews.com- Pilkada Serentak 2018 telah diyakini memiliki pengaruh yang sangat banyak pada Pilpres tahun 2019.

Pelaksanaan Pilkada Serentak 2018 yang dilangsungkan  ini memang diyakini sebagai pemanasan Pilpres 2019. Pertarungan panas pilkada serentak kali ini diprediksi berdampak hingga pemilihan presiden tahun depan.

Pada tahun ini, tercatat sebanyak 171 daerah akan menggelar pilkada. Jumlah ini merupakan terbesar kedua setelah Pilkada 2015, yang berjumlah 272.

Meski demikian, perlu cicatat bahwa perhelatan pilkada kali ini berlangsung di daerah-daerah besar. Bahkan untuk wilayah Jawa secara keseluruhan, pilkada kali ini merupakan lumbung suara nasional.

Sebagaimana tahun-tahun politik pada umumnya, muncul banyak manuver dan akrobat elite politik, di mana partai politik beradu cepat menggenjot mesin mereka untuk dapat memenangi perhelatan Pilpres 2019.

Semua partai akan all out, berpikir keras merancang strategi dan taktik awal guna memuluskan langkah mereka. Kuat dugaan, dalam batasan-batasan tertentu, peta komunikasi politik Pilkada 2018 akan mempengaruhi atau bahkan berlanjut pada perhelatan politik di tahun berikutnya.

Pada hari Selasa 26 Juni 2018 kemarin, Pengamat Politik Gun Gun Heryanto dalam perbincangan  mengatakan bahwa Pilkada Serentak 2018 memang punya makna strategis konstelasi politik jelang Pilpres 2019.

Ada berbagai macam alasan mengapa Pilkada Serentak 2018 yang dijalankan ini memiliki ‘rasa’ seperti Pilpres 2019.

Untuk alasan yang pertama adalah karena Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2018 jumlahnya lebih dari 50% Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pemilu 2019. DPT Pilkada 2018 sebesar 152.067.680, sementara DPS Pemilu 2019 sekitar 186 juta orang.

Walaupun koalisi di Pilkada tidak sama dengan koalisi nasional, bukan berarti partai-partai tak menjadikannya modal untuk pemenangan Pilpres. Dari Pilkada Serentak 2018, para parpol akan bisa memastikan infrastruktur pemenangan partai mereka. Terutama untuk daerah-daerah kunci, seperti Jawa, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.

Pertarungan di Jawa dalam Pilkada Serentak 2018 adalah di Pilgub Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Pilgub Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan juga termasuk yang menjadi penentu. Ada sebanyak 5 provinsi dari sebanyak 171 pilkada yang termasuk daerah pemilih terbesar.

Yang pertama yaitu Jabar dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 31.730.042, yang kemudian disusul oleh  Jatim 30.155.719, Jateng 27.068.500, Sumut 9.050.622, dan Sulsel 6.022.298.

“Battle ground seperti pertarungan di Jawa, Sumut, Sulsel. Ini bisa jadi bacaan peta politik di pilpres,” ucap Gun Gun.

Untuk diketahui, Pilgub Jabar juga diikuti oleh empat pasang calon. Mereka diantaranya yaitu Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang telah diusung oleh PKS, Gerindra, dan PAN.

Dan selanjutnya TB Hasanuddin-Anton Charliyan yang hanya diusung oleh partai PDIP, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi diusung Golkar dan Demokrat.

Kemudian untuk yang terakhir yaitu Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum dengan koalisi PPP, PKB, Hanura, juga  NasDem.

Pilgub Jatim memiliki dua pasangan calon. Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak diusung oleh Golkar, Demokrat, PPP, Hanura, NasDem, dan PAN. Lalu Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno diusung PDIP, PKB, PKS, dan Gerindra.

Sama halnya dengan Jatim, Pilgub Jateng juga hanya diikuti oleh dua pasangan calon. Ganjar Pranowo-Taj Yasin saat mendaftar ke KPU diusung oleh PDIP, NasDem,PPP, dan Demokrat.

Akan tetapi akhir akhir ini Golkar ikut menyatakan mendukung pasangan ini. Keduanya pun akan bersaing dengan Sudirman Said-Ida Fauziyah yang telah diusung Gerindra, PAN, PKS, dan juga PKB.

Di Pilgub Sumut, KPU pada mulanya menetapkan tiga pasangan calon. Mereka yaitu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah yang didukung Partai Golkar, Gerindra, Hanura, PKS, PAN, dan NasDem.

Selanjutnya yaitu pasangan JR Saragih-Ance Selian yang diusung Partai Demokrat, PKB, dan PKPI, lalu Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus yang didukung PDIP dan PPP.  Akan tetapi pada akhirnya JR Saragih tidak bisa ikut pilkada sebab ada masalah legalitas persyaratan dokumen.

Kemudian untuk Pilgub Sulsel, ada 3 pasangan calon yang diusung koalisi partai dan satu pasangan yang maju lewat jalur independen. Nurdin Halid dan Aziz Qahhar Mudzakkar diusung koalisi Partai Golkar, NasDem, Hanura, PKB, dan PKPI.

Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman diusung PDIP, PKS, dan PAN. Dan untuk yang selanjutnya ada pasangan Agus Arifin Nu’mang serta Tanribali Lamo diusung tiga parpol, yakni Gerindra, PBB, dan PAN.

Kemudian untuk yang terakhir adalah Ichsan Yasin Limpo dan Andi Mudzakkar yang maju lewat jalur independen.

Walaupun di dalam pilkada koalisi partai berbeda dengan peta nasional, parpol-parpol juga dapat melihat bagaimana kondisi konstituen. Parpol juga bisa melihat peluang kemenangan pilpres dari hasil pilkada tahun 2018.

“Terutama di daerah yang jelas polarisasinya. Ini bisa jadi polarisasi dukungan pilpres,” terang Gun Gun.

Melalui Pilkada 2018 kali ini, parpol yang masih ‘galau’ juga bisa menentukan arah dukungan kepada kandidat pasangan calon.

Pilkada yang dilakukan tahun  2018 juga akan menjadi pergerakan partai untuk konsolidasi dengan Pilpres 2019. Khususnya untuk partai-partai yang belum memutuskan arah dukungan, seperti Partai Demokrat, PAN, dan PKB.

“Partai-partai ini menunggu Pilkada Serentak untuk memastikan apakah 2 atau 3 poros, yang paling mungkin,” kata Gun Gun.

Sejumlah partai juga setuju Pilkada Serentak 2018 kali ini memiliki rasa seperti Pilpres 2019. Tak heran beberapa partai menunggu hasil dari Pilkada sebelum mengumumkan arah koalisi mereka.

“Hasil pilkada akan mempengaruhi peta pilpres untuk semua partai termasuk PKB,” ungkap Wasekjen PKB Daniel Johan, Selasa (26/7).

Ada sebanyak lima provinsi yang berpotensi menjadi untuk menjadi lumbung suara. Oleh sebab itu jika parpol bisa menaklukkannya pada pilkada. Bahkan juga diprediksi bisa jadi penentu bagi pasangan calon yang mereka usung.

Pertarungan di Jawa dalam Pilkada Serentak 2018 diantaranya yaitu di Pilgub Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Pilgub Sumatera Utara dan juga Sulawesi Selatan juga termasuk yang menjadi penentu pilkada tersebut.

Ada lima provinsi  dari 171 daerah yang diyakini menjadi daerah dengan pemilih yang paling besar. Untuk yang pertama yaitu wilayah Jabar dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 31.730.042. Setelah itu juga disusul Jatim 30.155.719, Jateng 27.068.500, Sumut 9.050.622, dan juga  Sulsel 6.022.298.

Plkada Serentak 2018 juga untuk menentukan arah dukungan untuk menentukan siapa pasangan yang akan dipilih jagoannya.

Dari kubu petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan juga dari kubu Ketum Gerindra Prabowo Subianto, juga masih belum jelas siapa nantinya yang akan dipilih jadi calon wakil presiden

Dia juga menuturkan bahwa Cawapres Jokowi, cawapres Prabowo, maupun untuk poros ketiga setelah bacaan politik pilkada.

Pilkada Serentak yang dilakukan pada tahun 2018 akan selesai pada bulan Juli. Sebulan kemudian, tahapan Pilpres 2019 pun sudah akan dimulai. Pendaftaran untuk pasangan calon wakil presiden juga  akan dibuka pada tanggal 4 -10 Agustus 2018.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here