Golkar: Kekalahan PDIP di Pilkada Tak Pengaruhi Koalisi Pengusung Jokowi

0
113

Jakarta, namalonews.com- Menurut dari hasil hitung cepat di berbagai pihak lembaga dalam survei untuk Pilkada dalam 17 Provinsi, PDIP juga harus dapat menelan kekalahan di Jawa Timur, Jawa Barat serta Sumatera Utara. Dalam 17 Provinsi tersebut, pasangan dari calon yang diusung oleh PDIP hanya dapat menang dalam empat daerah yaitu Maluku, Bali, Sumatera Selatan dan Jawa Tengah.

Menurut ketum dari Partai Golkar sendiri yaitu Airlangga Hartarto bahwa kekalahan dari PDIP tersebut tidak berpengaruh terhadap berbagai koalisi pengusung capres pertahana dari Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang. Ia mengatakan bahwa koalisi tersebut berdasarkan pilpres hasil Pemilu tahun 2014 seilam, bukan dari Pilkada.

Airlangga mengatakan, bahwa Pilpres tersebut hanya berdasarkan hasil dari Pemilu 2014 silam. Jadi tentu para pendukung beliau berbasis terhadap hal tersebut.

Mengenai perkembangan dari sebuah koalisi, ia mengatakan bahwa pihaknya tersebut masih telah mengintensifkan pembicaraan dengan berbagai parpol lainnya yang masih belum dapat memutuskan dengan resmi mengenai arah koalisinya tersebut. Menurutnya sebuah peresmian tersebut berbagai koalisi dapat dilakukan dalam tiap menit terakhir pendaftaran tersebut.

Airlangga mengatakan bahwa tiap menit terakhir tersebut tentu jika dilihat makan dalam berbagai pembangunan koalisi berbagai parpol dalam waktu ke depan demokrasi Indonesia tersebut tidak memungkinkan bahwa satu partai dapat meguasai 51 persen. Jadi sebuah koalisi tersebut secara permanen diperlukan.

Terkait mengenai kriteria dari cawapres Jokowi tersebut yang ditetapkan oleh sebuah koalisi, Menteri Perindustrian tersebut enggan untuk menanggapi. Menurutnya, apapun keputusannya nanti semua koalisi merupakan hasil keputusan bersama.

Yang jelas bahwa pertemuan yang tertutup tersebut antara Airlangga dan Romahurmuziy hanya membahas mengenai konsolidasi dari para parpol pengusung menjelang pelaksanaan pendaftaran capres serta cawapres pada bulan Agustus mendatang.

Sekjen PPP yaitu Arsul Sani mengatakan bahwa pihaknya tidak dengan spesifik atau person bahkan kriteria tersebut tidak soal cawapres.

Dan berbagai kesempatan tersebut, Airlangga serta Romi hanya membahas mengenai penguatan sebuah koalisi menjelang pelaksanaan pendaftaran capres yang akan dijadwalkan pada bulan Agustus yang akan datang. Dalam kesempatan tersebut juga belum membicarakan mengenai kapan akan ditetapkan dengan resmi berbagai parpol yang akan segera bergabung dalam sebuah koalisi tersebut.

Sambil menunggu, koalisi para pendukung Jokowi tersebut masih menunggu partai lainnya yang saat ini masih belum memutuskan mengenai arah koalisinya yaitu PAN, PKB dan Demokrat.

Asrul mengatakan bahwa Ia menginginkan secepatnya untuk lebih jelas mengenai tiga yang belum bergabung dalam koalisi tersebut. Ia juga berasumsi apabila dari Partai Gerindra bersama dengan PKS tersebut rasanya akan tertutup kemungkinan untuk segera ditarik. Jadi atas dasar asumsi tersebut bahwa peluang yang ada hanya tiga parpol.

Kans dari pendukung Jokowi dinilai tetap besar walaupun Partai PDIP tersebut megalami kekalahan dalam beberapa daerah yang menjadi sebuah lumbung suara dari Jokowi seperti Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Kalimantan Timur.

Para pengamat politik dari Unpad yaitu Muradi memiliki pendapat bahwa dua ancaman terhadap posisi dari Jokowi sendiri dalam Pilpres 2019 mendatang.

Yang pertama yaitu kehilangan dukungan dari parpol. Kedua yaitu legistimasi dari para masyarakat. Sedangkan Jokowi sendiri tidak mutlak hanya didukung oleh PDIP saja. Oleh sebab itu, jika melihat berbagai peta politik dalam Pilkada Serentak 2018, terlihat bahwa terdapat pemecahan suara seperti Jatim, Jabar serta Jateng.

Di Jabar sendiri, meskipun pasangan yang diusung tersebut kalah, namun yang menang yaitu diusung oleh partai koalisi dari Jokowi. Antara lain yaitu Hanura, PPP, Nasdem dan PKB. Selain itu juga didukung oleh PSI. Apalagi jika parpol yang dipasangkan tersebut akan tetap konsisten dalam mendukung Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Di Jatim sendiri, pasangan yang diusung oleh Golkar tersebut uang merupakan sekitu rezim dari Jokowi. Sebagian besar telah memilih Khofifah serta para NU yang pasti dapat berubah.

Muradi mengatakan bahwa posisi Jokowi dalam Pilpres 2019 yang akan datang saat ini terancam jika parpol koalisi tersebut akan melipir serta merapat pada kubu lainnya, meninggalkan parpol kecil dan PDIP. Seperti Nasdem dan Golkar yang akan melipir dan membawa gerbong bagi pendukungnya yang memungkinkan mengancam Jokowi. Jika ia lihat peta politik sebaliknya. Kekuatan dari mesin politik-red Partai PDIP tersebut memang terbatas. Namun bukan berarti posisi dari Jokowi akan melemah.

Muradi juga mengemukakan bahwa Sumut yaitu Edy Rahmayadi memenangkan Pilgub dari Sumut pada tahun 2018 ini. Akan tetapi, Edy tidak hanya didukung oleh beberapa PKS dan Gerindra, namun juga Partai Golkar yang merupakan sekutu dari Jokowi. Di Lampung serta Riau juga demikian. Di Lampung beberapa suara parpol pendukung Jokowi, jika dikumpulkan yaitu mencapai hingga 60%.

Muradi mengira bahwa masalah stategi dari politik tersebut mungkin hanya terdapat di Lampung yang memang agak lemah-red. Akan tetapi basis dari pendukung PDIP tersebut di Jatim tidak pernah kepegang. Saat ini Pilpres tahun 2014 silam, PDIP memang berada di Jatim. Jadi ia mengira bahwa kemungkinan Jokowi akan menang dalam Pilpres 2019 mendatang serta politik masih akan dinamis.

isinggung mengenai stategi memecah suara tersebut menandakan bahwa PDIP tidak sanggup untuk berhadapan secara head to head dengan Gerindra serta PKS di beberapa daerah, Muradi tersebut tidak akan sependapat. Sebab, jauh sebelum Pilgub tersebut digelar, Ridwan Kamil sudah merapat ke dalam PDIP. Kemudian, Khofifah juga mendekat ke PDIP. Akan tetapi, tidak semua orang paham betul mengenai karakteristik tertentu dari PDIP ini.

Muradi menambahkan bahwa PDIP memang masih kaku dalam menentukan siapa calon yang akan diusung. Namun di sisi lain, PDIP juga dapat menjaga dukungan tersebut. Di Jabar, para pendukung PDIP konsisten naik dibanding dalam Pileg tahun 2014 yang lalu. Ini menjadi hal yang menarik yaitu calonnya tudak kalah, namun partainya tetap akan dipilih. Tinggal saat ini yaitu Pilpres 2019 mendatang, Jokowi dapat mengambil keuntungan dari strategi memecah suara tersebut. Hingga saat ini posisi dari Jokowi masih aman. Ia belum dapat melihat calon lain yang akan mengancam Jokowi. Dengan sebuah komposisi hasil dari Pilgub tersebut, posisi dari Jokowi sendiri akan semakin kuat, ia tidak akan melenggang.

Sebagai partai yang menjadi pemenang dari pemilu serta sukses dalam mengantarkan kadernya menjadi presiden, bukan menjadi jaminan bagi para jagian PDIP untuk memenangkan pilkada. Setelah kehilangan DKI Jakarta serta Banten, maka partai besutan Megawati tersebut kini terancam gagal mendapatkan Jawa Timur serta Jawa Barat.

Setelah menggenggam Jakarta, Jateng dan Banten, mestinya memenangkan Pilpres serta Pemilu, untuk mempermudah PDIP dalam menguasai dua provinsi yang tersisa saat ini yaitu Jatim dan Jabar. Namun pada Pilkada 2017 PDIP justru kehilangan Jakarta dan Banten.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here