Industri Diminta Terlibat Dalam Penyusunan Kurikulum

0
118

Jakarta, namalonews.com- Industri diimbau terlibat dalam proses belajar mengajar di Kampus maupun lembaga pendidikan. Termasuk di antaranya adalah membantu menyusun atau merencanakan kurikulum pendidikan. Demikian himbauan Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri.

Ia menambahkan keterlibatan industri dalam penyusunan dan perencanaan kurikulum akan sangat efektif dan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan karena pihak industri sudah menguasai pasar secara kekinian. Misalnya, perusahaan besar otomotif yang menguasai pasar di Indonesia, bersinergi dengan merancang kurikulum, khususnya untuk kejuruan otomotif.

“Paling hanya 4-5 brand utama di industri tertentu, kita bisa minta mereka kumpul dan siapkan kurikulum kejuruan yang aktual. Pasti lebih tepat dan sesuai karena brand-brand di bawah mereka, pasti akan terpakai. Ini tentu sesuatu yang sangat sederhana,” ujarnya pada Senin (2/7/2018).

Hanif menjelaskan keterlibatan industri harus dipadukan dengan kurikulum dunia pendidikan. Jika tidak, maka ke depan, akan semakin banyak lulusan perguruan tinggi Indonesia yang tidak terserap di dunia kerja.

“Kalau kita tidak segera melakukan hal ini, pasti yang membuat kurikulum siapa, yang membutuhkan tenaga kerja siapa. Jadi, hal ini berpotensi jalan sendiri-sendiri,” tambah Hanif.

Berdasarkan hasil riset Institut Global menyebut Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian terbesar ketujuh secara global pada 2030. Hal ini disebabkan karena Indonesia akan mengalami bonus demografi.

Oleh karena itu, Hanif memperkirakan Indonesia masih membutuhkan penambahan tenaga terampil sebanyak 3,8 juta orang setiap tahunnya. Pada 2015, tenaga terampil Indonesia tercatat mencapai 56 juta orang.

Hanif menambahkan lulusan perguruan tinggi saat ini di Indonesia per tahun mencapai kurang lebih 800 ribu orang. Jika diasumsikan seluruh lulusan tersebut harus memiliki kompetensi dasar yang bagus, jumlahnya masih dikategorikan terbatas atau kurang.

“Maka untuk menambah tenaga terampil sebanyak 3,8 juta orang per tahun, sudah terbukti tidak hanya mengandalkan jalur pendidikan tetapi kita juga butuh terobosan dari pendidikan vokasi dan pelatihan kerja,” ujarnya.

Selain itu, Hanif juga meminta dunia kampus untuk memperkuat Scinece, Technology, Engineering, and Math. Hal ini diperlukan agar generasi muda mampu menghadapi persaingan jika menggunakan big data di masa mendatang.

“Perguruan tinggi juga harus diperkuat lagi aspke science, Technology, Engineering,and Math. Di luar itu, kita kembali kepada bagaimana upaya untuk menggenjot latiahan atau pendidikan vokasi untuk menghadapi tantangan jangka pendek dan menengah,” tambahnya.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here