Komentar Menteri Susi Perihal Ikan Arapaima Dilepas Ke Sungai Brantas

0
223

Jakarta, namalonews.com- Terkait dengan permasalahan pelepasan ikan Arapaima yang dilepas di sungai Brantas yang sempat menjadi polemik di kalangan masyarakat, Susi Pudjiastuti selaku Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia turut memberikan tanggapannya. Menteri Susi mengharapkan kepada seluruh masyarakat agar dapat ikut serta dalam menyosialisasikan ke tengah-tengah masyarakat terkait dengan bahayanya melepaskan serta membudidayakan ikan Arapaima ke dalam kawasan perairan Indonesia.

Menteri Susi mengatakan bahwa tidak sedikit masyarakat yang belum mengetahui mengenai seluk beluk ikan Arapaima, sehingga perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas. Dengan adanya penjelasan kepada masyarakat, maka dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari pelepasan ikan Arapaima di perairan bebas tidak akan terjadi.

“Peristiwa seperti ini harus disosialisasikan atau dikampanyekan kepada masyarakat. Banyak masyarakat yang tidak tahu apa ikan Arapaima itu, dan mengapa ikan itu tidak boleh dilepasliarkan,” terang Menteri Susi dalam keterangan yang disampaikan di kantor KKP, Jakarta, pada hari Kamis, 28 Juni 2018 kemarin.

Menteri Susi menyampaikan bahwa dirinya mencemaskan apabila adanya sejumlah pihak yang memelihara ikan Arapaima sebagai hobi. Kemudian, ikan Arapaima kemudian dilepas di perairan lepas karena berbagai alasan, seperti halnya tidak tega untuk mematikannya, atau bisa juga karena alasan malas memberi makan ikan tersebut, lalu akhirnya ikan Arapaima dilepasliarkan di wilayah perairan di Indonesia.

Menteri Kelautan dan Perikanan yang terkenal dengan slogannya “tenggelamkan” ini juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa panjang ikan Arapaima dapat mencapai 1 sampai dengan 2 meter. Dengan ukurannya yang besar seeprti ini, apabila ikan Arapaima lapar, maka akan memangsa ikan-ikan lokal yang ada di perairan Indonesia.

Oleh karena itu, diharapkan, para pihak Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan atau BKIPM KKP bersama dengan pihak lainnya seperti Badan Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA, bisa bersama-sama menjerat pelaku pelepasan dan pemelihara ikan Arapaima tanpa mendapatkan izin dari pihak yang berwenang. Hal ini, menurut Susi, dapat menyebabkan ikan lokal di perairan Indonesia akan habis diburu oleh ikan Arapaima yang sifatnya sebagai ikan predator.

“Karena, apabila tidak dilakukan, maka sumber daya ikan hayati kita bisa habis karena arapaima ini,” terang Menteri Susi.

Agar ke depannya tidak terjadi pindah tangan atau hanya diperjualbelikan kepada orang lain, maka Menteri Susi menjelaskan bahwa setelah hal ini selesai diproses, maka barang bukti berupa ikan Arapaima tidak boleh menunggu lama untuk dimusnahkan.

Selain itu, Menteri Susi juga menginginkan supaya sosialisasi mengenai seluk beluk dan positif-negatifnya ikan Arapaima di kawasan perairan di Indonesia dapat lebih digencarkan. Salah satunya juga dengan melakukan sosialisasi ke bea cukai dan bandara, sehingga nantinya sosialisasi juga dapat dilakukan dengan memasang banner yang berisi mengenai infpormasi tersebut.

Seperti yang telah diberitakan di masyarakat, setelah mendapatkan informasi dari media sosial terkait dengan adanya pelepasan ikan Arapaima di sungai Brantas, Mojokerto, Jawa Timur, Rina, selaku Kepala BKIPM KKP, menyampaikan bahwa pihaknya segera melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti hal yang disampaikan di media sosial tersebut.

Rina mengungakpkan, setelah hal tersebut ditindaklanjuti, saat ini telah ditemukan bahwa seorang warga Surabaya yang memiliki dan memelihara ikan Arapaima hingga sejumlah 18 ekor. Dari 18 ekor ikan yang dimilikinya, sejumlah empat ekor ikan Arapaima telah diserahkan kepada masyarakat dan delapan ekor ikan lainnya telah dilepaskan di sungai Brantas.

Saat ini, empat ikan Arapaima yang diserahkan kepada masyarakat, dua di antaranya telah ditemukan di penampungan, sedangkan dua ikan lainnya telah mati. Kemudian, untuk 8 ikan Arapaima yang dilepaskan di Sungai Brantas, sebanyak tujuh ikan di antaranya telah ditangkap. Bahkan, selain penangkapan ikan Arapaima yang diduga dilepaskan oleh orang Surabaya ini, terdapat informasi pula bahwa telah ditemukan sekitar 30 ikan Arapaima di penampungan yang ada di wilayah Sidoarjo juga.

Berdasarkan aturan yang telah berlaku, pelaku yang memelihara atau melepasliarkan sumber daya ikan, yang memiliki sifat berbahaya untuk kawasan perairan yang ada di Indonesia, dapat dipidanakan.

Sementara itu, dikarenakan jenis ikan Arapaima merupakan ikan predator berbahaya, maka Nilanto Perbowo selaku Dirjen Penguatan Daya Saing Kelautan dan Perikanan KKP mengimbau kepada pemilik ikan Arapaima untuk berkenan secara sukarela menyerahkan ikan yang dipeliharanya kepada pihak pemerintah.

Akhir Keberadaan Ikan Arapaima di Sungai Brantas

Warga di sekitar Sungai Brantas, Jawa Timur sempat dihebohkan oleh kemunculan sejumlah ikan predator dengan spesies Arapaima gigas yang habitat asalnya adalah di sungai Amazon. Setelah sempat dilepasliarkan di wilayah perairan yang ada di Indonesia, akhirnya seluruh ikan Arapaima yang ada di Sungai Brantas berhasil ditangkap.

Sebelumnya, keberadaan ikan-ikan Arapaima tersebut diketahui dari video yang viral dan banyak diperbincangkan di media sosial seperti facebook, instagram, dan twitter. Sejumlah delapan ikan Arapaima, berdasarkan video yang beredar tersebut, telah dilepaskan di aliran Sungai Brantas, Jawa Timur.

Setelah dilakukan penyelidikan yang lebih lanjut, diketahui bahwa pemilik ikan yang dilepasliarkan di sungai Brantas adalah seorang warga Surabaya yang berinisial HG. Berdasarkan keterangan dari Muhlin selaku Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan (KIPM) Wilayah Surabaya I, ketika diselidiki, HG sang pemilik ikan menyebutkan bahwa ada 30 ekor ikan Arapaima yang dia miliki.

Dari pengakuannya, HG berkata bahwa dirinya tidak melepas ikan predator tersebut ke aliran Sungai Brantas. Dia mengaku hanya memberikan ikan yang dimilikinya dan sudah lama dipeliharanya itu kepada sejumlah temannya.

Terdapat sejumlah empat ikan Arapaima yang ditangkap di kolam budi daya di rumah HG yang berada di Desa Canggu, Mojokerto. Selain itu, sejumlah 18 ikan Arapaima lainnya ditemukan di rumah HG yang terletak di Desa Trosobo, Sidoarjo, sedangkan delapan ikan Arapaima lainnya telah dilepasliarkan di Sungai Brantas.

Muhlin mengatakan, delapan ikan predator yang dilepasliarkan di Sungai Brantas, saat ini semuanya telah berhasil ditangkap dan diamankan oleh pihak yang berwajib.

Berdasarkan pada penuturan yang disampaikan oleh HG, pemilik ikan Arapaima, dirinya telah memeilhara ikan jenis predator tersebut dari yang masih memiliki ukuran kecil. Ia mengaku telah memeliharanya sejak 7 tahun yang lalu.

HG mengaku memelihara ikan Arapaima tersebut di rumahnya, dari ukuran 20 – 30 cm hingga saat ini telah mencapai ukuran 1,5 meter, dengan berat 20 hingga 40 kilogram. Karena ukurannya yang sangat besar, apalagi bila dibandingkan dengan ikan-ikan kali atau ikan lokal, Ikan predator Arapaima ini  menjadi viral dan membuat geger warga yang tinggal di dekat Sungai Brantas. Keberadaan ikan Arapaima di Sungai Brantas semakin viral karena diposting oleh seorang netizen dan akhirnya disebarluaskan oleh netizen lainnya melalui berbagai media sosial.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here