Pelanggaran Pilgub di NTT, Adakan Pemungutan Suara Ulang

0
130

Jakarta, namalonews.com- Pimilihan Gubernur di NTT tahun 2018 sementara ini yang di menangkan oleh pasangan dengan nomor urut empat yakni, Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Vicktory-Joss). Sedangkan dengan adanya penghitungan secara resmi versi KPU ini ternyata masih dilakukan yakni terdapat sebanyak 23 TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang tersebar di tujuh kabupaten pada Provinsi NTT yang akan melakukan pemungutan suara ulang. Hal ini di lakukan karena ada beberapa hal dan menurut beberapa pertimbangan pula.

Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu NTT Jemris Fointuna, di Kupang pada hari Jumat (29/6/2018) menyatakan bahwa “Dari 23 TPS tersebut, yang sudah ada rekomendasi untuk melakukan pemungutan suara ulang dari Panwascam atau Panwaskab kepada KPU kabupaten sebanyak 15 TPS,” katanya menerangkan.

Jemris mengemukakan bahwa dengan adanya hal tersebut maka akan sangat berkaitan dengan hasil pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan suara pada Pilgub NTT yang berlangsung pada hari Rabu, 27 Juni 2018 kemarin.

Menurut beliau bahwa ada sebanyak 15 TPS yang akan segera mungkin untuk melaksanakan acara pemungutan suara ulang tersebut kemudian yang terdapat di empat kabupaten. Empat kabupaten tersebut beberapa diantaranya yakni berasal dari Kabupaten Alor 3 TPS, di Kabupaten Sumba Barat Daya terdapat 2 TPS, di Kabupaten Kupan terdapat g 3 TPS, dan di Kabupaten Belu terdapat 1 TPS.

sedangkan dari TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang belum ada rekomendasi ini alasannya karena masih melakukan beberapa kajian di Panwas dengan sebanyak 14 TPS. Lokasinya tersebut memang sudah tersebar di beberapa Kabupaten diantaranya yakni di Kabupaten Malaka terdapat 1 TPS, Kabupaten Rote Ndao terdapat 1 TPS, dan Kabupaten Kupang terdapat 1 TPS, Kabupaten TTS terdapat 11 TPS.

Jemris menyatakan dengan tegas bahwa “Rekomendasi ini akan diteruskan ke KPU kabupaten masing masing dan paling lambat yakni pada akhir pekan ini,” paparnya menerangkan.

Terkait dengan adanya beberapa jenis pelanggaran, maka beliau pun mengatakan bahwa di Sumba Barat Daya ini misalnya terdapat TPS yang menggelar pemungutan suara yang dilakukan secara aklamasi.

Jemris menyatakan dengan tegas bahwa “Jadi anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara yang berada di TPS 02 Desa Kalembu Weri, Kecamatan Wewewa Barat mencoblos seluruh surat suara,” katanya menambahkan lagi.

Sementara itu yang ada di TPS 2 di Desa Redang Bolo, Kecamatan Wewewa Barat ini malah sebagian besar surat suara yang dicoblos oleh saksi ini maka kemudian diserahkan kepada anggota KPPS untuk dimasukkan ke dalam kotak suara tersebut.

“Pemilih secara aklamasi inilah yang dapat mendukung pada salah satu paslon, dan pencoblosan tersebut yang akan diwakili oleh salah satu pemilih,” katanya menjelaskan. Kemudian beliau meneruskan kembali bahwa “Pemilih lain tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pencoblosan,” ungkapannya menambahkan.

dari perhitungan tersebut menunjukkan bahwa hasil hitung cepat atau quick count Spasangan aiful Mujani Research and Constulting (SMRC) pada Pilgub NTT 2018 ini menunjukkan Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adreanus Nae Soi ini unggul dari pada pasangan lainnya.

Pasangan dengan nomor urut empat tersebut mendapatkan kartu suara unggul dengan presentase sebesar 35,17 persen kartu suara. Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Adreanus Nae Soi ini maju pada Pilgub NTT 2018 karena mendapatkan usungan dari partai Hanura, partai Golkar dan partai Nasdem.

Hasil quick count SMRC menunjukkan bahwa dari pasangan Marianus Sae dan Ir Emelia Julia Nomleni inilah yang berada pada posisi yang kedua dengan memperoleh nilai yakni sebesar 27,31 persen suara. Marianus Sae merupakan seorang Bupati Ngada dengan periode 2015-2020. Kemudian beliaulah yang menjadi bakal calon gubernur NTT dalam Pilkada 2018 bersama dengan Emelia. Marianus Sae dan Ir Emelia Julia Nomleni ini diusung oleh partai PKB dan partai PDIP.

Esthon Leyloh Foenay selaku Mantan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2008-2013, dan Christian Rotok ini selaku mantan Bupati Manggarai ini sangat puas karena dapat memperoleh kartu suara yakni sebesar 19,83 persen suara. Kemudian dari pasangan nomor urut 1 ini maju ini Pilihan Gubernur di NTT 2018 dengan diusung oleh partai PAN dan partai Gerindra.

Sedangkan dari pasangan yang diusung oleh partai PKS, partai PKPI dan partai Demokrat ialah Benediktus Kabur Harman dan Benny Alexander Litelnoni yang hanya mengantongi sebesar 17,69 persen suara.

Benediktus Kabur Harman ialah merupakan salah satu dari politikus Demokrat yang juga termasuk dari anggota DPR RI. Sedangkan dari Benny Alexander Litelnoni ini merupakan wakil dari gubernur NTT pada periode 2013-2018.

Pada gelaran dalam Pilgub NTT tahun ini terdapat sejumlah pemilih yang mencapai sebesar 3.186.278 orang termasuk pada pemilih difabel yang mencapai sebanyak 11.257.

salah satu dari Juru Bicara Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Yosafat Koli ini menegaskan bahwa dari Marianus Sae akan tetap menjadi calon Gubernur NTT pada periode 2018-2023, beliau berpasangan dengan Emiliana Nomleni.

Yosafat Koli kepada Antara di Kupang, pada hari Senin (12/2/2018) menyatakan bahwa “Marianus Sae-Emiliana Nomleni ini akan tetap menjadi paket Calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT. Penarikan dukungan ini dilakukan terhadap Marianus Sae yang tidak menggugurkan paket calon yang sudah ditetapkan oleh KPU,” katanya menerangkan kembali.

beliau mengemukakan beberapa hal tersebut karena berkaitan dengan status pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT yakni dari Marianus Sae-Emiliana Nomleni setelah partai PDI Perjuangan sebagai partai pendukung utama yang menarik dukungan.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini mencabutkan bahwa memeberikan dukungannya terhadap Bupati Ngada Marianus Sae untuk terus maju sebagai calon Gubernur NTT dalam ajang Pilgub NTT usai terjaring Oeperasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Nusa Tenggara Timur yang di ketuai oleh Yucundianus Lepa juga menyatakan bahwa darinyalah yang akan mencabut dukungan partai tersebut kepada Bupati Ngada Marianus Sae yang telah ditetapkan oleh KPU NTT sebagai calon Gubernur NTT pada periode 2018-2023.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto ini melalui keterangan tertulisnya pada hari Senin, (12/2) menyatakan bahwa “PDIP sebagai pengusung Calon Gubernur Marianus Sae yang tertangkap tangan KPK menegaskan sikapnya untuk konsisten dan tidak menolerir adanya korupsi. Partai bersikap tegas dan tidak akan melanjutkan terhadap dukungan kepada yang bersangkutan,” ujarnya menerangkan.

Yosafat Koli pun menambahkan kepada KPU untuk tetap memberikan hak-hak politik kepada pasangan calon Marianus Sae-Emiliana Nomleni sebagai Calon Gubernur-Wakil Gubernur NTT yang telah ditetapkan.

Hak-hak politik tersebut yang antara lain akan melakukan sebuah kampanye yang sesuai dengan jadwal yang akan ditetapkan. Beliau menyatakan bahwa “KPU akan tetap memberikan waktu untuk kampanye sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan sebelumnya,” katanya menjelaskan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here