Rupiah Tembus Rp 14.360 Per Dollar Amerika Serikat

0
88

Jakarta, namalonews.com- Pada perdagangan hari Jumat siang, 29 Juni 2018, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat  berada pada level Rp 14.360. Level yang dicapai oleh nilai tukar rupiah ini tercatat dari pukul 11.40 WIB Jumat siang. Sebagai mana disampaikan dalam laman cnbc.com, rupiah foreign exchange spot rate menunjukkan bahwa rupiah tampak melemah sebesar 25 poin atau minus 0,1738 persen.

Pada hari ini, rupiah diperdagangkan pada kisaran Rp 14.355 sampai dengan Rp 14.410 per dollar Amerika Serikat. Dalam beberapa hari terakhir, penguatan dollar Amerika Serikat menjadi salah satu efek terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. Tidak hanya mata uang rupiah yang terkena imbas dari penguatan dollar Amerika Serikat, akan tetapi hampir semua mata uang negara maju maupun berkembang turut terkena dampak dari penguatan dollar Amerika Serikat ini.

Bank Indonesia dalam menanggapi tren pelemahan nilai tukar  rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, berencana akan menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan. Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia, sebelumnya beberapa kali telah menyampaikan bahwa pihaknya akan membuka peluang untuk menaikkan suku bunga acuan dalam rangka menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Sebelumnya, meskipun terjadi perbaikan peringkat kredit pemerintah, disampaikan oleh Arif Budimanta selaku Wakil Ketua Komie Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bahwa, pasar telah melihat adanya pelemahan data fundamental Indonesia.

Arif juga menyampaikan bahwa meskipun rasio hutang terhadap PDB masih berada di bawah batas, namun dikhawatirkan dapat memaksa pemerintah untuk menambah hutangnya.

“Rasio hutang terhadap PDB, walaupun berdasarkan UU masih di bawah batasU, apabla melihat pada defisit neraca perdagangan yang cenderung membesar, dikhawatirkan akan memaksa pemerintah untuk menambah utang yang lebih banyak lagi,” jelas Arif pada hari Jumat, 29 Juni 2018 melalui keterangan tertulisnya.

Ia menyampaikan, apabila keadaan terus seperti saat ini, maka cadangan devisa yang sejak awal tahun terus mengalami penurunan, dikhawatirkan juga akan terus tergerus lantaran kondisi eksternal. Kondisi eksternal tersebut adalah perang dagang antara AS dan China, sehingga akan memberikan efek yang besar terhadap perekonomian Indonesia.

Tidak Hanya Rupiah, Mata Uang Negara Lain Turut Terkena Imbas Perang Dagang

Mata uang yuan China terus melemah terhadap dollar AS, seiring dengan terjadinya eskalasi ketegangan antara AS dan China yang juga memunculkan potensi terjadinya perang dagang. negara-Negara Asia lain yang memiliki hubungan dagang dengan China, termasuk di antaranya adalah Indonesia, diprediksi akan mengalami tekanan mata uang yang cukup tajam akibat adanya pelemahan ini.

Dari akhir tahun 2017  sampai dengan perdagangan terakhir, yaitu hari Kamis, 28 Juni 2018, data yang disampaikan oleh Nasdaq menunjukkan bahwa yuan telah melemah dari 6,5069 yuan per dollar Amerika Serikat menjadi 6,607 yuan per dollar Amerika Serikat, atau mengalami pelemahan sebesar 1,67 persen. Mata uang seperti won Korea Selatan dan dollar Taiwan yang memiliki ketergantungan ekspor tinggi, masing-masing telah mengalami pelemahan sebesar 4,52 persen dan 2,25 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu (year on year).

Mata uang Korea Selatan menunjukkan pelemahan menjadi 1121,2 won per dollar Amerika Serikat yang awalnya pada level 1070,5 won per dollar Amerika Serikat. Selain itu, mata uang Taiwan mengalami pelemahan menjadi 30,53 dollar Taiwan per dollar Amerika Serikat, yang awalanya sebesar 29,84 dollar Taiwan per dollar Amerika Serikat.

Bank Khoon Goh selaku Head of Asia Research ANZ, mengatakan bahwa saat ini, sentimen terhadap pasar Asia sedang melemah, sehingga dana asing akan terus keluar, baik dari pasar saham ataupun dari pasar obligasi Asia. Menurutnya hal ini lah yang akan menjadi penyebab utama terjadinya pelemahan nilai mata uang.

Imbas Terparah dari Perang Dagang

Mata uang yang diprediksi akan mendapatkan imbas terbesar lantaran perang dagang kali ini adalah mata uang rupiah dan rupee India. Sejak akhir tahun 2017 yang lalu, rupiah sendiri telah mengalami pelemahan sebesar 5,01 persen, dari Rp 13.565 menjadi Rp 14.280 dalam sesi perdagangan kemarin.

Kali ini, sejak bulan Oktober 2015, pelemahan rupiah terhadap penguatan dollar Amerika Serikat adalah yang terparah. Bahkan, berdasarkan pada data yang disampaikan oleh ANZ yang dirilis pada hari Kamis lalu, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk ketiga.

Keterpurukan yang dialami oleh mata uang rupiah dijelaskan oleh Goh, terjadi lantaran banyaknya dana yang masuk ke Indonesia selama 2017 hingga awal 2018, namun karena adanya perubahan  posisi fundamental ekonomi Indonesia, dana asing tersebut secara perlahan berbondong-bondong keluar.

Sementara itu, rupee India, telah mengalami pelemahan dari 63,87 rupee per dollar AS menjadi 68,91 rupee per dollar Amerika Serikat, atau dengan penurunan sebesar 7,32 persen. Bahkan, pada sesi perdagangan hari Jumat, rupee sempat menyentuh harga terendahnya yaitu pada level 69,09.

Kondisi keuangan dan inflasi yang terjadi di India telah menekan rupee akibat ketergantungan defisit neraca berjalan terhadap harga minyak dunia. Jika dibandingkan dengan harga perdagangan terakhir pada bulan Februari lalu, Brent pada penutupan perdagangan Rabu lalu telah meningkat hingga sebesar 25 persen.

BI Putuskan untuk Menaikkan Suku Bunga Acuan 50 Basis Poin

Berdasarkan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dilaksanakan pada Kamis, 28 Juni 2018 kemarin sampai dengan hari Jumat,  29 Juni 2018, Bank Indonesia atau BI memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen.

Menurut Perry Warjiyo, selaku Gubernur Bank Indonesia, keputusan tersebut mulai berlaku pada hari Jumat, 29 Juni 2018. Hal ini disampaikannya melalui konferensi pers seusai pelaksanaan  rapat.

Di lain sisi, Deposit Facility Rate diketahui juga mengalami kenaikan sebesar 50 bps menjadi 4,5 persen, sama halnya dengan suku bunga landing  facility yang juga mengalami kenaikan sebesar 50 bps menjadi 6 persen.

Dasar pertimbangan keputusan ini, dijelaskan oleh Perry Warjiyo sebagai langkah preventif yang dilakukan oleh Bank Indonesia guna memperkuat stabilitas ekonomi, terutama stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga Amerika sampai 4 kali tahun, dan meningkatnya resiko di pasar keuangan global.

Intervansi ganda di pasar valas dan pasar utang negara tetap digunakan sebagai penopang kebijakan tersebut. Bank Indonesia meyakini bahwa dengan adanya kebijakan ini, stabilitas ekonomi mata uang rupiah dapat terus terjaga.

Sebelumnya, Bank Indonesia juga telah telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 2 kali pada Mei lalu, yaitu masing-masing sebesar 25 bps. Langkah menaikkan suku bunga acuan ini, dinyatakan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia, dilatarbelakangi oleh adanya ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global. Selain itu, kebijakan tersebut juga ditujukan  untuk menjaga cadangan devisa yang sudah tergerus untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejak awal 2018.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here