Sejak 1 Juli 2018 Harga BBM Pertamax Naik, Pemerintah Bohong

0
334

Jakarta, namalonews.com- Bohong artinya tidak sesuai dengan yang sebenarnya; dusta. Contoh bohong begini. Ketika pemerintah menyatakan bahwa tidak ada kenaikan harga BBM, tetapi kemudian harga BBM naik itulah bohong.

Kebohongan pemerintah itu terbukti sejak 1 Juli 2018 pukul 00.00 WIB. Terhitung sejak hari Ahad, 1 Juli 2018 tersebut PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi, khususnya harga pertamax. Harga pertamax naik naik Rp 800 per liternya.

Kenaikan harga pertamax tersebut dipicu oleh terus meningkatnya harga minyak dunia. Di samping itu, kenaikan itu juga diakibatkan oleh anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

Harga pertamax, khusus di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta, Jawa Barat dan Banten, harga pertamax naik Rp 600  sehingga harganya menjadi  Rp 9.500 per liter, pertamax turbo naik Rp 600 sehingga harganya menjadi  menjadi Rp 10.700 per liter, pertamina dex naik Rp 500 sehingga harganya menjadi Rp 10.500 per liter, dan Dexlite naik Rp 900 sehingga harganya menjadi Rp 9.000 per liter.

Kenaikan harga Pertamax Cs tersebut bertolak belakang dengan janji pemerintah yang komitmen tidak akan menenaikkan harga BBM, elpiji 3 kg dan listrik pada tahun 2017 yang lalu.

Pada tahun 2017, Kementerian Keuangan memproyeksikan bahwa tidak ada kenaikan tarif listrik, bahan bakar minyak, dan elpiji (liquefied petroleum gas/LPG). Pemerintah tak memperhitungkan potensi tren kenaikan harga energi di pasar global dalam alokasi belanja subsidi energi pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2018.

“Ini asumsi sangat eksplisit. Tidak ada kenaikan harga BBM, elpiji, dan tarif listrik pada 2018. Jumlah pelanggan listrik golongan 900 volt ampere (VA) yang barangkali dibatasi,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani, di Jakarta, Senin, 21 Agustus 2017.

Sebagaimana diketahui bahwa pemerintah telah mengajukan RAPBN TA 2018 kepada DPR. Berdasarkan asumsi RAPBN 2018, maka tidak ada kenaikan harga BBM, elpiji 3 kg dan listrik. Asumsi dalam RAPBN 2018, nilai tukar rupiah terhadap dollar (kurs) Rp 13.500 per US$ dan harga minyak dunia US$ 48 per barel.

Sementara  itu, anggaran subsidi energi sebesar Rp 103,4 triliun, dengan rincian Rp 51,1 triliun untuk subsidi BBM dan elpiji 3 kg, dan Rp 52,2 triliun untuk subsidi listrik.

“Subsidi Rp 103,4 triliun dengan asumsi tidak ada perubahan administered prices, tidak ada kenaikan BBM, elpiji dan listrik, itu sudah sesuai,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta pada Agustus 2017.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here