Panik Bayar Utang, Pemerintah Naikkan Harga BBM, Tak Peduli Kesengsaraan Rakyat

0
242

Jakarta, namalonews.com- Hingga saat ini jumlah utang luar negeri Indonesia terus bertambah alias terus mengalami kenaikan. Kenaikan utang luar negeri Indonesia tersebut  cukup signifikan.

Hal itu diungkapkan oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Riza Annisa Pujarama. Bahkan, Riza mengatakan bahwa hingga saat ini utang luar negeri Indonesia telah mencapai Rp 7.000 triliun. Jumlah tersebut merupakan total utang pemerintah dan swasta.

“Peningkatan utang terus berlanjut hingga APBN 2018 bulan Februari menembus angka Rp 4.034,8 triliun dan pada APBN 2018 mencapai Rp 4.772 triliun,” ujar Riza saat diskusi dengan media di Kantor INDEF, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Terus meningkatnya jumlah utang luar negeri Indonesia mendapat tanggapan Faisal Basri. Ekonom senior INDEF itu menyoroti utang luar negeri Indonesia yang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Menurut dia, saat ini pemerintah terlalu mengobral utang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) yang cenderung dikuasai oleh pihak asing dalam mata uang asing.

“SBN dikuasai asing enggak apa-apa, kalau enggak ada gejolak. Yang menjajah kita sekarang pasar dan pasar itu sekarang gonjang-ganjing. Tolong jujur dikit aja, makin lama makin enek kalau liatnya enggak jujur (pemerintah), Indonesia makin obral utang,” ucapnya beberapa waktu yang lalu.

Akibat banyaknya utang, pemerintahan Jokowi dinilai mengalami kepanikan menyusul tagihan hutang luar negeri yang jatuh tempo. Cara termudahnya yakni dengan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara diam-diam.

“Pemerintahan Jokowi panik luar biasa karena utang luar negeri yang jatuh tempo,” kata Pengamat Kebijakan Publik dari Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah, Minggu (1/7/2018).

Amir mengungkapkan hingga Juli 2019, Jokowi harus membayar utang luar negeri sekitar Rp 810 triliun. Artinya setiap bulannya wajib mencicil Rp 70 triliun.

“Bagimana cara gampang cari uang? Salah satunya menaikkan harga BBM. Pemerintah tidak peduli kesengsaraan rakyat,” ujar Amir.

Ada cara lain untuk mendapatkan dana segar dari masyarakat, sebagai upaya untuk membayar utang. Di antaranya adalah dengan menggalakkan pemakaian yang elektronik seperti e-money.

“Sulit diharapkan lagi pemerintahan saat ini, karena tidak memikirkan nasib mayoritas rakyat,” tegas Amir.

Diketahui, Pertamina menaikkan lagi harga bahan bakar minyak nonsubsidi atau alias bahan bakar khusus (BBK), di antaranya Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, per Minggu, 1 Juli 2018.

Kenaikan harga itu berlaku se-Indonesia namun besaran kenaikannya bervariasi, menyesuaikan dengan provinsi masing-masing. Namun, menurut VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito, besaran kenaikannya antara Rp 600 sampai Rp 900.

Harga baru Pertamax di DKI Jakarta, misal, naik menjadi Rp 9.500 per liter dari sebelumnya Rp 8.900. Harga Pertamax Turbo sebelumnya Rp 10.100 per liter kini menjadi Rp 10.700 per liter. Harga Dexlite dari harga Rp 8.100 per liter menjadi Rp 9.000 per liter. Pertamax Dex dari harga Rp 10.000 per liter menjadi Rp 10.500 per liter.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here