Pemerintah Antisipasi Dinamika Dagang AS-China

0
103

Jakarta, namalonews.com- Pemerintah Indonesia mulai mewaspadai dinamika kebijakan perdagangan antara Amerika Serikat dan China. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut perseteruan antara kedua negara tersebut akan berlanjut dalam jangka waktu yang panjang.

“Indonesia tentu sangat perlu untuk mewaspadai terjadinya dinamika yang tinggi di antara negara-negara barat dan Cina. Jika itu terjadi maka akan memunculkan spillover,” ujar Sri Mulyani di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta pada Selasa (3/7/2018).

Mantan Direkut Pelaksana Bank Dunia tersebut menyebut gejolak tersebut akan membuat beberapa indikator mengalami pergerakn dan bisa melahirkan tekanan ke pertumbuhan ekonomi.

“Indonesia sedang dihadapkan pada suasana global yang bergerak. Harus diakui dampaknya adalah kenaikan suku bunga, mungkin pertumbuhan ekonomi akan tertekan itu tidak akan bisa dihindari,” tambahnya.

Ia melanjutkan situasi dunia sekarang mengalami kondisi normal baru. Dalam situasi tersebut, tingkat suku bunga meningkat, adanya ketidakpastian karena perang tarif dan perubahan harga minyak.

Penyesuaian akibat membaiknya perekonomian Amerika Serikat masih akan terus berlangsung dan reaksi dari negara-negara lain yang terpengaruh kebijakan AS di sektor perdagangan juga sedang dimulai.

“Presiden AS Donald Trump itu bisa setiap saat melakukan pernyataan yang bisa mengubah kebijakan ekonomi dunia. Bahkan, Trump juga bisa meminta timnya melakukan review prinsip-prinsip di WTO,” kata Sri.

Ia menilai kondisi tersebut pasti akan diolah oleh pasar. Seluruh situasi ini akan berjalan hingga tahun depan atau sepanjang siklus kenaikan suku bunga The Fed sudah dicerna pasar secara lebih normal.

Oleh karena itu, Sri menyebut pemerintah akan terus memantau dan menjaga dampak turunannya terhadap ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Pemerintah disebutkan akan melakukan bauran kebijakan untuk mengisi kebijakan suku bunga dan relaksasi kredit yang dilakukan BI.

Selain itu, BI memutuskan kenaikan suku bunga acuannya BI 7 Days Reverser Repo Rate sebesar 50 basis poin. Dengan kenaikan tersebut, kini suku bunga ditetapkan sebesar 5,25 persen dari sebelumnya 4,75 persen.

Gubernur BI menyebut langkah ini ditempuh demi menstabilkan nilai tukar rupiah di tengah berbagai tekanan global, terutama dari AS.

Bahkan, tidak hanya suku bunga acuan, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility sebesar 50 basis poin, masing-masing menjadi 4,5 persen serta 6 persen.

BI menyebut keputusan kenaikan suku bunga tersebut merupakan langkah lanjutan untuk secara Preemptive, front-loading, dan a head of the curve menjaga daya saing pasar keuangan domestik terhadap perubahan kebijakan moneter sejumlah negara. Hal ini diperkuat dengan ketidakjelasan pasar keuangan global yang masih tinggi.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here