Pilpres 2019, Jokowi Sulit Memenanginya!

0
126

Jakarta, namalonews.com- Pilkada serentak 2018 baru saja usai digelar. PDIP sebagai partai pendukung utama Presiden Jokowi pada Pilkada serentak tahun ini hanya mampu menang di empat provinsi di antara sebelas provinsi. Yaitu pilgub Jateng, pilgub Bali, pilgub Sulsel, pilgub Maluku. Boleh jadi, hasil pilkada tersebut menjadi pertanda bahwa Jokowi sulit memenangi pilpres 2019.

Sebagai petahana, peluang Jokowi masih diperhitungkan untuk menduduki jabatan  presiden periode kedua. Namun, nasibnya sangat tergantung pada figur pesaingnya dan pendampinya (calon wakilnya).

Untuk bisa memenangi pilpres 2019, adalah tugas sangat berat bagi Jokowi. Juga menjadi  tugas berat partai pengusungnya.

Itulah sebabnya, pada tahun 2019, peluang Jokowi menipis. Terutama akibat Presiden ke-7 RI ini gagal memenuhi hampir semua atau sebagian besar janji-janjinya di masa kampanye.

Satu contoh saja misalnya. Yakni, janji mengatasi pengangguran. Janji ini tak kunjung terwujud. Sekadar menjadi pepesan kosong belaka.

Ketidakberhasilan atau juga ketidakmampuannya, apakah karena situasi ekonomi sehingga tidak memungkinkan atau investasi yang tidak mampu menyedot tenaga kerja yang menjadi kendala?

Hal di atas tetap tak bisa dijadikan sebagai alasan atau “excuse”.

Promise remains a promise,” ujar seorang pengamat.

Kalau pada pilpres 2014, Jokowi bisa terpilih karena faktor dalam dan luar negeri. Dua-duanya kondusif mendukung.

Akan tetapi, pada tahun 2019, keduanya, sudah berubah total. Realita baru adalah perubahan.

Di pihak lain, Jokowi tampaknya masih cukup percaya diri dengan berbagai hasil survei yang bermunculan akhir-akhir ini. Semuanya menawarkan pujian.

Beberapa survei memang masih menunjukkan keunggulan. Tingkat popularitas dan elektabilitas Jokowi sebagai kandidat presiden 2019, tetap tinggi. Akan tetapi, hasil survei itu hanya merujuk pada situasi tahun 2017 dan 2018. Bukan memprediksi Pilpres 2019.

Situasi 2019, akan sangat berbeda dengan 2017 dan 2018, terutama jumlah pemilih baru. Dengan demikian, survei itu, akan misleading. Menggunakannya sebagai pegangan tetap akan keliru.

Di samping  faktor di atas, faktor ekonomi juga sangat menentukan. Faktor ekonomi di sini khususnya kian terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat serta kian membengkaknya jumlah utang luar negeri Indonesia.

Masalah ekonomi menjadi faktor yang juga menentukan berhasil atau gagalnya Jokowi memenangi pilpes 2019 dikemukan oleh  Direktur Riset Media Survei Nasional (Median), Sudarto.

Sudarto mengatakan bahwa permasalahan ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat ingin Jokowi selaku presiden diganti pada pilpres 2019.

“Mulai sembako mahal, pekerjaan susah, ekonomi sulit, hingga tarif listrik menjadi faktor utama masyarakat ingin ganti Jokowi dengan pemimpin lain,” ucap Sudarto selepas merilis hasil survei elektabilitas kandidat di Cikini, Jakarta Pusat belum lama ini.

Masalah ekonomi menjadi penentu keberhasilan Jokowi di pilpres 2019 juga dikemukakan oleh Direktur Program Institute for Development of Economics and Financial (INDEF), Berly Martawaday. Berly menyatakan bahwa ekonomi menjadi faktor kunci penentu terpilihnya kembali Presiden Jokowi sebagai inkumben dalam pemilihan presiden  2019 mendatang.

Berly menjelaskan, secara ranking dan data, posisi ekonomi Indonesia dalam keadaan baik, bahkan membaik. Namun, dalam pembangunan infrastruktur yang mengarah kepada ekonomi industri, lanjut dia, Indonesia butuh waktu yang tidak sebentar untuk melakukan pembangunan sejak era deindustrialisasi 1998.

“Apa yang dibangun Jokowi sudah benar, tapi masyarakat kerap tidak punya daya sabar untuk itu menjelang Pilpres 2019,” kata Berly, di Jakarta Selatan beberapa waktu yang lalu.

Berly mengatakan, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen di 2018 atau lebih tinggi 0,2 persen dibanding tahun ini menjadi peluang sekaligus tantangan untuk Jokowi menuju Pilpres 2019.

“Masyarakat pasti punya ekspektasi. Makanya, kalau tahun depan tidak bisa tembus 5,4 persen, posisi Jokowi cukup sulit,” kata dia.

Berly mengatakan, membangun infrastruktur tentu tidak sebentar. Namun, jika Jokowi tidak berhasil menjelaskan kondisi itu kepada masyarakat, lanjutnya. Bukan tidak mungkin hal tersebut justru akan menjadi bumerang untuk Jokowi. “Masyarakat awam kan tidak sabar menunggu bersenang-senang kemudian itu,” tambahnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here