Torehan Sejarah Di Balik Kemenangan Belgia

0
286

Jakarta, namalonews.com- Kesabaran Belgia di tengah menipisnya harapan akan lolos membuahkan hasil yang menyenangkan. Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kemenangan Timnas Belgia di laga 16 besar saat menjamu Jepang.

Bermain di hadapan ribuan penonton, Belgia menunjukkan permainan yang luar biasa. Harapan anak asuh Roberto Martinez sempat menipis karena tertinggal 0-2 terlebih dahulu. Namun, Hazard dkk berhasil membalikkan keadaan hingga keluar sebagai pemenang.

Hingga peluit akhir dibunyikan, Belgia menang 3-2 atas Samurai Biru. Berkat kemenangan itu, Belgia pun berhak melaju ke perempatfinal.

Keberhasilan Belgia di pertandingan dini hari WIB tadi tidak hanya membuat Hazard dkk bertahan di Piala Dunia 2018. Tetapi, mereka juga menorehkan sejarah baru bagi “Setan Merah.”

Belgia telah menunjukkan penampilan comeback terbaik di Piala Dunia pada babak gugur dalam lebih dari setengah abad. Penampilan serupa pernah ditunjukkan oleh Portugal di Piala Dunia 1966.

Membuka kembali pintu ingatan, kala itu Portugal tertinggal tiga gol dari Korea Utara. Namun di ujung pertandingan, Eusebio dan kawan-kawan berhasil melengserkan Korea Utara.

Selain itu, pada Piala Dunia 1970, pasukan Jerman Barat juga melakukan cameback yang luar biasa atas Inggris setelah tertinggal 2-0. Namun, tim Panser membutuhkan babak perpanjangan waktu untuk menghempaskan Inggris.

Di balik kenangan dan kisah menakjubkan tersebut, kemenangan Belgia ini membukukan suatu rekor baru dalam sejarah sepak bola dunia. Belgia menjadi tim pertama di Piala Dunia yang membuat dua gol melalui pemain pengganti yakni Fellaini dan Chadli.

Selain itu, sundulan parabola Vertongen juga dinobatkan sebagai gol sundulan terjauh di Piala Dunia. Ia berhasil membuat gol melalui sundulan berjarak 18,6 meter dari gawang Jepang yang dikawal oleh Eiji Kawashima.

Menanggapi kekalahan tersebut, Pelatih Timnas Jepang-Akira Nishino menyebut kekalahan atas Belgia merupakan suatu pukulan telak bagi dirinya, dan seluruh tim. Jepang harus bersedia mengubur impian untuk melaju ke babak perempat final Piala Dunia 2018.

“Saya hancur, ya kami memimpin tapi kami tidak bisa menang. Itu mungkin perbedaan yang sangat kecil tapi saya merasa tidak ada apa-apa di dalamnya,” ujarnya.

Ia mengakui anak asuhnya mulai lengah usai memimpi dua gol di awal babak kedua. Dalam situasi itu, timnya tidak juga meningkatkan permainan. Hal ini kemudian dimanfaatkan Belgia sehingga bisa membalikan keadaan.

“Saya merasa memang itu tragedi, tetapi saya harus menerima kekalahan itu sebagai fakta,” tutupnya.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here