Websitenya Diserang Hacker, KPU Segera Lapor Polisi

0
137

Jakarta, namalonews.com- KPU RI sementara waktu harus menunda penggunaan Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) berbasis teknologi untuk menampilkan hasil Pilkada pada 2018 ini.

Situs resmi milik KPU ini dikabarkan memang sempat diretas oleh hacker ketika mulai perhitungan real count dari hasil Pilkada Serentak yang berbasis formulir C1 kepunyaan KPU.

Hal ini disebabkan karena Situng menjadi sasaran peretas. KPU mengungkap website yang menayangkan hasil Pilkada serentak 2018 diserang hacker yang membuat KPU menutup sementara layanan real count tersebut. KPU sudah melaporkan kasus ini ke polisi.

“Sudah dilakukan lapor ke polisi dan memberi tahu kita koordinasi dengan para pihak itu,” ucap Arief Budiman di kantor KPU, Jakarta Pusat, Minggu 1 juli 2018.

Arief mengungkap, serangan itu mulai terjadi sejak Rabu (27/1) lalu. Mereka berupaya mengubah hasil Pilkada yang didapat KPU dari seluruh TPS di Indonesia. Saat bersamaan, website KPU diakses banyak orang yang membuat beban bertambah.

“Walaupun dihentikan, ternyata serangan itu masih datang bertubi-tubi. Lalu kami lakukan koordinasi dengan pihak terkait. Kita bersihkan dulu semuanya sampai bersih kita bentengi,” tuturnya.

Pernyataan itu disampaikan Ketua KPU RI, Arief Budiman.

“Makin banyak serangan itu makin banyak gangguan yang terus menganggu kinerja IT. Atas saran tim IT, kami sebaiknya distop sementara penayangannya,” ujar Arief, ditemui di kantor KPU RI, Minggu (1/7/2018).

Meskipun penayangan hasil Pilkada tidak ditampilkan, tapi tidak menghentikan proses scanning yang dilakukan di daerah.

Selain formilnya discaning terdapat juga entry data pada 28 Juni.

Dia menjelaskan, serangan sudah dimulai sejak selesai pemungutan suara pada 27 Juni lalu.

Pada waktu bersamaan, kata dia, sejumlah pihak membuka situs tersebut karena ingin mengikuti perkembangan pesta demokrasi rakyat.

“Dan bersamaan yang mengakses aplikasi KPU banyak sekali karena pemilihan gubernur, kabupaten/kota terlibat yang semuanya mengunggah data dalam waktu bersamaan. Dan pada saat bersamaan publik juga ingin mengakses,” kata dia.

Menghadapi serangan dari peretas itu, dia meminta masyarakat supaya tidak khawatir dengan proses penghitungan menggunakan teknologi berbasis informasi karena ini menjadi bahas informasi yang cepat.

Namun, dia menegaskan, Situng bukan sarana yang digunakan untuk menetapkan hasil Pemilu secara resmi.

“Hasil resmi dilakukan berjenjang melalui dokumen yang dikirim secara berjenjang. Sekarang di tiap kecamatan petugas PPK (Panitia Pemungutan Kecamatan,-red) sedang melakukan rekapitulasi hasil penghitungan dan itu diperbolehkan secara undang-undang,” katanya.

Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi angkat bicara terkait peristiwa itu. Dirinya telah menjamin aksi peretasan situs KPU ini tidak bisa dan tak akan mempengaruhi hasil akhir dari Pilkada serentak ini.

Pramono mengungkapkan meski dihack seperti apa pun juga tidak pengaruhi hasil akhir nanti. Itu tak akan berpengaruh pada real count.

Dirinya juga menegaskan bahwa hasil resmi pilkada serentak sah secara hukum nantinya akan ditetapkan melalui pleno terbuka. Hasil tersebut juga berdasarkan data rekapitulasi manual.

Karena itu, meski situs KPU diretas, tak akan mengubah, mempengaruhi atau bahkan memanipulasi hasil akhirnya.

“Jadi itu adalah isu yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang enggak bertanggung jawab. Jadi ada serangan hacker iya. Tapi itu bukan hasil resmi,” ucap Pramono.

Meski website KPU ditutup sementara, namun Arief mengatakan proses pengunggahan data dari seluruh TPS ke website tetap berlangsung hingga saat ini. KPU akan kembali membuat layanan itu jika sudah aman.

“Kalau waktunya tepat data yang sampai hari ini sudah dikerjakan semua oleh teman di daerah, proses scanningnya terus berlangsung masuk di dalam alat kerja teman-teman daerah. Pada waktunya akan dikirimkan dan dipublikasi ke masyarakat,” terangnya Arief.

Mantan ketua KPU Jawa Timur itu juga menegaskan bahwa data real count yang ditampilkan KPU di website hanya untuk jadi pertimbangan masyarakat, bukan data resmi hasil Pilkada.

KPU akan menetapkan hasil Pilkada berdasarkan hasil hitung manual berjenjang yang saat ini sebagian sedang dihitung di tingkat kecamatan atau PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan).

“Bisa disaksikan di tiap kecamatan sekarang rekapitulasi hasil penghitungan. Itulah yang menurut ketentuan undang-undag yang akan dijadikan dokumen resmi untuk menetapkan hasil pemungutan suara,” pungkasnya.

Meski website KPU diserang Hacker, namun dipastikan bahwa semua data hasilPilkada itu aman.Website KPU yang menampilkan hasil Pilkada serentak 2018 di 171 daerah ditutup sementara sejak Sabtu (30/6) kemarin.

Ketua KPU Arief Budiman mengungkap penutupan itu terkait pembenahan website yang salah satunya karena ada upaya peretasan.

“Ada orang-orang (hacker) iseng menguji, mengganggu, ada yang menyerang terhadap sistem kita. Terhadap gangguan itu KPU terus menangkal serangan itu. Makin banyak serangan makin gangguan yang terus mengganggu kinerja IT kita sebaiknya disetop dulu penayangannya,” ucap Arief Budiman di Kantor KPU, Jakarta, Minggu (7/1).

Website dimaksud adalah https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2018/hasil/cepat/t1/list/nasional. Saat normal, website ini menayangkan hasil Pilkada yang datanya didapat dari form C1 atau form berisi hasil penghitungan suara di seluruh TPS yang menggelar Pilkada.

Form itu discan dan datanya ditayangkan dalam bentuk tabulasi suara di website KPU.

Arief mengakui serangan itu membuat beberapa perubahan dalam tampilan website KPU, namun KPU yang mengantongi data asli terus memperbaiki hingga pada satu keputusan untuk menghentikan sementara penayangan data Pilkada.

“Serangan itu membuat beberapa hal jadi berubah, terus KPU memperbaiki, kembali ke aslinya. Lalu diserang lagi, berubah lagi memperbaiki kembali ke aslinya. Itu kan saya pikir akan mengganggu pikiran-pikiran masyarakat,” paparnya.

“Bolak-balik kok berubah terus dikembalikan lagi ke aslinya, begitu terus. Nah, untuk itu KPU menghentikan sementara,” tegas mantan ketua KPU Jatim itu.

Selain karena serangan hacker, penghetian sementara tayangan hasil Pilkada karena banyaknya orang yang mengakses website KPU.

“Pada tanggal 28, sebenarnya mulai tanggal 27, gangguan dari pihak luar itu sudah mulai masuk. Datang menyerang terus ke kita. Ini kan pada saat bersamaan yang menggunakan akses sistem informasi begitu besar dan banyak,” tuturnya.

Meski KPU menghentikan sementara penayangan hasil Pilkada secara real count, namun Arief menyebut tak menghentikan proses scanning C1 yang dilakukan petugas KPU di daerah. Arief juga menegaskan data hasil penghitungan suara tetap aman.

“Yang ingin saya tegaskan, masyarakat tak perlu gelisah hasil penghitungan yang menggunakan teknologi informasi. Karena sebetulnya ini hanya menjadi bahan informasi yang cepat untuk masyarakat, bukan bahan (resmi hasil Pilkada),” paparnya.

Data yang ditampilkan KPU di website itu memang meski valid, namun tak akan jadi rujukan KPU. KPU akan menggunakan hasil penghitungan manual berjenjang sebagai dasar menetapkan hasil Pilkada. Data di website hanya sekadar untuk diketahui masyarakat.

“Hasil resmi pungut, hitung suara, akan dilakukan secara berjenjang lewat dokumen-dokumen yang dikirim berjenjang,” tegasnya.

Dengan demikian masyarakat tak perlu khawatir akan kemanan data pilkada di 2018 ini. Meskipun  ada masalah dengan adanya hacker website KPU namun kemanan data pilkada 2018 ini sudah terjamin.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here