Indonesia Gagal Bayar Utang?

0
197

Jakarta, namalonews.com- Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS)  sepanjang tahun 2018 melemah. Sepanjang tahun politik tersebut nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berkisar antara Rp 13.000 hingga Rp 14.000-an.

Dalam pergerakannya,nilai tukar rupiah sempat naik, namun hanya sementara. Akan teapi, nilai tukar rupiah  selanjutnya melemah lagi. Kalau naik, nilai tukar rupiah hanya tipis, tetapi pelan-pelan dan pasti justru turun lagi yang lebih besar penurunannya.

Hal seperti itu dikemukakan oleh Fuad Bawazir, Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VII di era Presiden Soeharto. Sebelum menjabat sebagai menteri keuangan, Fuad Bawazir menjabat sebagai Dirjen Pajak.

“Jadi kalau ditarik garis lurus atau berjangka relatif panjang, pergerakan rupiah akan terus melemah,” ungkap Fuad di Jakarta (02/07/2018)

Jika rupiah menguat, tambah Fuad, sifatnya hanya sementara saja. Misalnya, karena bunga rupiah dinaikkan atau dollar memang sedang melemah karena faktor yang tidak ada hubungannya dengan ekonomi Indonesia. Atau karena sedang ada intervensi di pasar valas oleh Bank Indonesia dan lainnya.

“Akan tetapi, semua ‘obat kuat’ itu bukannya tidak berisiko. Menaikkan bunga akan memberatkan perekonomian kita dan semakin sulit bersaing dengan negara lain.  Intervensi valas akan menggerus cadangan devisa kita yang terus menurun,” lanjut  Fuad.

Menurut mantan calon ketua umum PAN itu, inti persoalan melemahnya rupiah terhadap dollar AS adalah supply dollar atau pemasukan dolar ke ekonomi Indonesia lebih kecil dari demand atau permintaan atau kebutuhan akan dollar. Hal itulah yang menyebabkan  nilai tukar rupiah melemah.

Dengan bekal pengalamannya sebagai pejabat nomer satu di Departemen Keuangan, di era Orde Baru, Fuad  selanjutnya membeberkan teori dan ilmu ekonomi keuangan yang dimilikinya.

“Dalam bahasa ekonominya adalah karena defisit transaksi berjalan Indonesia tahun ini diperkirakan mencapai jumlah 25 miliar dollar AS. Defisit atau ketekoran inilah sumber utama melemahnya rupiah terhadap dollar,” jelas Fuad.

Atas kondisi keuangan Indonesia seperti yang disebutkan di atas, Fuad memberikan saran. Saran itu khususnya diberikan kepada pejabat yang terkait dengan masalah keuangan di Indonesia.

Jangan bingung atau terus menerus menyalahkan ekonomi global dan sebagainya. Defisit transaksi berjalan ini terjadi karena Neraca Perdagangan (ekspor minus import barang dagangan). Begitu pula Neraca Transaksi Jasa yang defisit.

Untuk mengatasi hal itu, kata Fuad, Pemerintah mencoba menutupi defisit valas ini dengan banyak cara, antara lain dengan menarik utang valas atau hot money lainnya.

“Ini bukan cara yang sehat dan bahkan bisa semakin terjerumus. Fundamental ekonomi yang lemah ini juga diikuti dengan defist APBN. Jadi, praktis ekonomi Indonesia ini defisit atau tekor dari semua jurusan,” papar Fuad.

Tak hanya itu, Fuad mengingatkan, utang valas pemerintah dan swasta termasuk BUMN yang konsisten naik tajam juga mulai mengkhawatirkan kreditur pada umumnya, bahwa jangan-jangan ke depannya Indonesia akan kesulitan atau gagal bayar utang.

Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang diterbitkan Bank Indonesia (BI) menyebutkan jumlah utang luar negeri (ULN) secara total tercatat  358,7 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 5.021 triliun (kurs Rp 14.000). Tumbuh 8,7% melambat dibandingkan kuartal sebelumnya 10,4%.

Jika demikian benar apa yang disampaikan oleh Fuad Bawazir, bukan tanpa alasan jika Indonesia berpotensi gagal membayar utang luar negerinya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here