Pemimpin Empot-Empotan, Kapan Majunya?

0
135

Jakarta, namalonews.com- Presiden Indonesia yang akan datang sebaiknya mempunyai figure, tekstur, maupun kecakapan seperti mantan Presiden Indonesia pertama. Bapak proklamator tersebut disinyalir cakap dalam mengatur urusan kenegaraan.

Seperti yang pernah disampakan oleh Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR RI, beliau berharap Presiden RI mendatang harus setara dengan Sukarno. Lebih lanjut Fahri menyayangkan jika pemimpin RI seperti kesusahan dalam mengelola negara dan kurang paham dalam pemerintahan.

“Yang jadi presiden kita itu yang terbaik dong, yang jago dong. Standar presiden kita itu Sukarno gitu dong, raksasa intelektual dunia,” kata Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/7/2018) pada media.

“Ini nggak, susah kita Indonesia. Gimana mau maju kalau pemimpinnya empot-empotan ya,” imbuhnya menjelaskan.

Yang dimaksud Fahri dalam perkataannya lalu menjelaskan maksud ‘empot-empotan’ itu. Menurut dia, pemimpin RI tak bisa mengangkat kejayaan RI. Negara Republik Indonesia yang telah maju, harusnya diangkat dan ditunjukkan kenyataannya ke dunia inrternasioal.

“Kan ini pemimpin empot-empotan nggak bisa ngangkat sayap republik. Kita cari yang jago yang bisa ngangkat sayap republik, republik ini terbang tinggi. Kalau kayak begini, nggak terbang kita, Bos,” sebut Fahri pada media.

Lebih lanjut, Wakil Ketua DPR RI tersebut berbicara mengenai pilpres yang sebentar lagi dialami oleh rakyat Indonesia. Jelas sekali beliau mendukung tentang gugatannya presidensial threshold atau ambang batas pengajuan calon presiden yang sedang berjalan di Mahkamah Konstitusi(MK), sehingga dengan harapan Pilpres tahun mendatang seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

“Saya sendiri berkepentingan supaya masyarakat itu banyak kandidatnya. Kalau saya inginnya tuh pilpres kita kayak pilpres di Amerika, wah debatnya banyak,” terangnya pada media.

Selain hal tersebut Fahri Hamzah juga menghendaki dalam kontestasi pesta demokrasi nanti seperti layaknya di Amerika. Yakni salah satunya bisa dibebani dalam debat. Bahkan proses kampanye pun pinginnya diperpanjang.

“Bila perlu setahun itu prosesnya. Wah, partai-partai keliling Indonesia, Sabang sampai Merauke, keliling di kampus-kampus besar di daerah itu, debat. Di Aceh, dia berdebat tentang masa depan Aceh, di Papua di Universitas Cendrawasih, berdebat tentang masa depan pengelolaan Papua, masa depan tambang dan sebagainya,” jelas Fahri pada media.

Lebih lagi, jika dikehendaki para capres nantinya harus berjalan kekliling seluruh wilayahnya. Seluruh pelosok dengan permasalahannya juga diketahui. Itu merupakan hal yang tak kalah pentingnya.

Sehingga dilihatnya tidak ada pembatasan yang berkaitan dengan pengajuan calon presiden.

“Kan enak rakyat yang nonton banyak. Ini kandidat berantem dulu ya kan, lalu dikerucutkan calon partai-partai. Berantem putaran satu selesai, putaran kedua suruh berantem lagi dia orang itu. Kan asyik rakyatnya kalau kayak begitu. Kita bisa lihat bener ini siapa yang kredibel,” ucap Fahri.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here