Tim Ekonomi Jokowi Payah, Ekonomi Rakyat Mlempem!

0
167

Jakarta, namalonews.com- Tim Ekonomi Presiden Jokowi terdiri atas Menko Perekonomian, Darmin Nasution; Menteri Keuangan, Sri Mulyani; Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo; dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Wimboh Santoso. Tim Ekonomi Presiden Jokowi telah bekerja dengan maksimal, namun hasilnya belum memuaskan, bahkan mengecewakan.

Hasil yang belum memuaskan itu antara lain ditandai oleh semakin lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS),  emakin banyaknya jumlah utang luar negeri  Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah ekspektasi, dan melemahnya tingkat konsumsi serta daya beli masyarakat.

Di antara sekian permasalahan ekonomi Indonesia, yang  termasuk mengkhawatirkan adalah masalah utang dan penurunan nilai rupiah terhadap dollar AS.

Perihal nilai tukar rupiah yang melemah, Bank Indonesia (BI) telah melakukan upaya untuk mengatasinya atau mencari solusi. BI menaikkan suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate menjadi 5,25 persen atau naik 50 basis poin (bps) dari 4,75 persen pada Jumat pekan lalu belum cukup ampuh meredam gejolak dollar AS.

Pasca dibuka Selasa pagi (3/7/2018), rupiah diperdagangkan 0,37 persen di pasar spot ke level Rp 14.428 per dollar AS.

“Rupiah terus merosot karena hanya mengandalkan kebijakan moneter. Tidak ada terobosan baru di sektor riil dan tidak ada kebijakan pengelolaan utang yang inovatif,” tutur ekonom senior, Rizal Ramli.

Mengandalkan kenaikan suku bunga, menurut Rizal, justru akan menambah masalah baru. Apalagi kalau akhirnya total kenaikan bunga setahun bisa 3-4 persen.

Selanjutnya, mantan kepala Bulog dan mantan menteri perekonomian di era Presiden Abdurahman Wahid serta mantan menteri kemaritiman yang diganti oleh Presiden Jokowi tersebut menjelaskan perihal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru akan menurun.

“Dicicil-cicil atau sekaligus tahun 2018, pertumbuhan ekonomi akan tambah nyungsep ke bawah 4,5 persen, pertumbuhan kredit akan anjlok di bawah 8 persen, kredit macet dan default akan meningkat, daya beli tambah merosot,” urainya.

Menurut Rizal, pengelolaan makro ekonomi tidak berbanding lurus dengan pembangunan infrastruktur.

Program pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi, menurut Rizal, memang patut diapresiasi. Namun demikian, pengelolaan makroekonomi dinilai sangatlah payah.

“Ekonomi bukannya meroket tapi nyungsep,” kritiknya.

Tidak sampai di situ saja Rizal mengkritik pemerintahan Presiden Jokowi:

“Mohon maaf, Mas Jokowi. Tim Ekonomi Mas ternyata benar-benar ndak mampu menyelesaikan masalah. Bahkan, mereka bagian dari masalah,” imbuh Rizal.

Menurut Rizal, cara berpikir, kompetensi, dan kepemimpinan yang payah adalah persoalan utama tim ekonomi Jokowi. “Hati-hati, kami ingin Mas Jokowi bertahan sampai 2019,” cetus Rizal megakhiri.

Karena Tim Ekonomi Jokowi tidak dapat menyelesaikan masalah ekonomi yang dihadapi bangsa Indnesia, akhirnya kondisi ekonomi rakyat pun menjadi lemah.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here