Bagaimana Kabar Poros Maritim Jokowi?

0
118

Jakarta, namalonews.com- “Dengan membangun potensi maritim, maka suatu saat Indonesia akan menjadi poros maritim dunia,” kata Jokowi. Hal itu ia sampaikan pada saat Debat Capres yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum dan disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta pada kampanye pilpres 2014.

Lebih lanjut, Jokowi menegaskan bahwa jika Indonesia mampu membangun potensi maritimnya menjadi poros maritim dunia, maka Indonesia akan berwibawa dan dihormati di dunia.

Karena, menurut Jokowi, dengan menjadi poros maritim dunia, maka negara-negara lain, termasuk negara maju saat ini, berkepentingan memasuki wilayah maritim Indonesia yang merupakan kewenangan Indonesia.

Jika tekad Jokowi menjadikan Indonesia poros maritim dunia dapat diimplementasikan secara nyata, ini berarti terobosan strategis dalam pembangunan nasional. Juga dapat dimaknai membangkitkan kembali pudarnya mental budaya maritim dalam masyarakat Indonesia.

Tekad Jokowi  untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia itu digemakan lagi setelah ia menjadi presiden. Hal itu ia sampaikan lagi di forum dunia pada sebuah konferensi tingkat tinggi.

Dalam pidatonya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-9 East Asia Summit (EAS) tanggal 13 November 2014 di Nay Pyi Taw, Myanmar, Presiden Jokowi menegaskan konsep Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia sehingga agenda pembangunan akan difokuskan pada lima pilar utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Membangun kembali budaya maritim Indonesia;
  2. Menjaga sumber daya laut dan menciptakan kedaulatan pangan laut dengan menempatkan nelayan pada pilar utama;
  3. Memberi prioritas pada pembangunan infrastruktur dan konektivitas maritim dengan membangun tol laut, deep seaport, logistik, industri perkapalan, dan pariwisata maritim;
  4. Menerapkan diplomasi maritim, melalui usulan peningkatan kerja sama di bidang maritim dan upaya menangani sumber konflik, seperti pencurian ikan, pelanggaran kedaulatan, sengketa wilayah, perompakan, dan pencemaran laut dengan penekanan bahwa laut harus menyatukan berbagai bangsa dan negara dan bukan memisahkan;
  5. Membangun kekuatan maritim sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keselamatan pelayaran dan keamanan maritim.

Empat tahun sudah berlalu sejak visi Jokowi tentang  poros maritim dikampanyekan dan didengungkan. Kini poros maritim tersebut dipertanyakan. Wajar hal itu dipertanyakan.

Pertanyaan itu muncul dari seorang anggota  DPR. Haryo Soekartono, anggota Banggar DPR Fraksi Partai Gerindra mempertanyakan hal itu karena dalam pandangannya, implementasi Indonesia sebagai poros maritim dunia tersebut belum tampak.

“Mana itu visi poros maritim dunia yang digagas oleh pemerintahan Pak Jokowi? Sampai sekarang tidak terlihat,” ujarnya saat rapat Banggar bersama Dirjen Anggaran Kemenkeu di Gedung DPR, Jakarta, Rabu, (4/7/2018).

Lebih lanjut, Haryo menyayangkan posisi silang Indonesia yang berada di antara Samudra Hindia dan Pasifik serta memiliki Selat Malaka, sebagai selat paling ramai di dunia tidak mampu dimanfaatkan secara maksimal sehingga banyak potensi ekonomi yang terbuang.

“Di mana poros maritim dunia itu di posisi yang kita memang seharusnya sudah poros maritim berdasarkan posisinya. Kita lihat di Selat Malaka, itu miliaran dolar Pak nilai ekonominya, kalau kita bisa manfaatkan itu kan baik sekali,”  tanya Haryo.

Dalam pandangan Haryo, visi Jokowi yang begitu menjanjikan itu kini tinggal sebuah visi kosong, mengingat banyak permasalahan maritim yang tak kunjung selesai. Begitu juga dengan nilai ekonomi dari sektor maritim yang ditaksir sebesar Rp 7200 triliun per tahun atau setara dengan tiga kali APBN tahun 2018.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here