Kerugian Banjir Kendari Bertambah Dari Rp 2,5 M Menjadi Rp 3,3 M

0
328

Jakarta, Namalonews.com- Hujan yang mengguyur wilayah Sulawesi Tenggara selama sepekan lebih ini membuat daerah-daerah di Sultra diterjang musibah banjir terutama di beberapa daerah seperti Kota Kendari, Buton Utara, Konawe Selatan, dan Konawe Utara menjadi daerah terparah yang mengalami banjir dibanding daerah lainnya. Hal ini membuat Sultra menjadi wilayah darurat akan musibah banjir.

Salah satunya seperti yang terjadi di bantaran Sungai Wanggu, Kelurahan Lepo-Lepo Kecamatan Baruga, Kota Kendari. Tercatat kurang lebih 100 kepala keluarga diungsikan dari daerah tersebut. Sejumlah posko pengungsian dan pengamanan didirikan untuk menampung para pengungsi yang totalnya berkisar 400-an jiwa. Sampai berita ini diturunkan, bantuan berupa makanan, pakaian dan kebutuhan lainnya untuk para pengungsi masih terus berdatangan dari para donatur dan beberapa tim penggalang bantuan.


Kerugian materiil yang diakibatkan pun terus bertambah. Kabar terbaru kerugian warga bertambah dari kisaran semula Rp 2,5 miliar. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kendari, Suhardin menyebutkan angka kerugian bertambah sekira Rp 800-an juta dari 7 kecamatan dan 14 kelurahan di Kota Kendari. Itu berarti taksiran kerugian akibat banjir saat ini mencapai Rp 3,3 miliar.

“Data yang masuk hasil identifikasi tim BPBD di lapangan yang masuk pada 4 Juli kemarin bisa dipastikan akan bertambah di tengah kondisi cuaca yang belum stabil ini,” ujar Suhardin, Rabu (4/7).

Menanggapi hal itu Pemprov maupun Pemkot bersama-sama memikirkan solusi yang harus dilakukan mengenai masalah banjir ini, untuk saat ini langkah pertama yang dilakukan Pemprov ialah mengidentifikasi penyebab seringnya terjadi banjir di daerah-daerah tersebut lalu mencarikan solusi yang pas sesuai dengan letak akar masalahnya yang sudah teridentifikasi, sementara yakni Sungai Wanggu. Daerah Aliran Sungai (DAS) disekitarnya bermasalah. Solusinya warga harus di relokasi, dan dilakukan penanganan di sungai tersebut. Berbeda dengan di Butur, dan daerah lainnya akar masalahnya masih dibicarakan dengan komprehensif.

Selain banjir, hujan deras juga mengakibatkan dampak lain seperti tanah longsor, pohon tumbang dan jalan rusak di beberapa tempat di Kota Kendari. Hal ini tentu saja membuat warga lebih khawatir dan was-was terlebih masyarakat yang bermukim di daerah yang berpotensi longsor dan pohon tumbang yang menghalangi jalan para pengendara.
Suhardin menyebut ada satu korban jiwa bencana longsor di Kelurahan Tobuuha, Kecamatan Puuwatu. Korban teridentifikasi bernama Fajar yang juga seorang mahasiswa semester akhir. Diketahui seluruh anggota keluarga di rumah tersebut berhasil menyelamatkan diri, namun naas bagi Fajar yang saat itu tengah mengenakan headset di dalam kamarnya. “Kejadiannya sekitar Selasa (3/7) malam di tengah hujan lebat yang mengguyur Kota Kendari,” tambah Suhardin.

Di tengah anomali cuaca saat ini, Suhardin mengingatkan warga khususnya Kota Kendari agar selalu waspada. Sebab dari hasil koordinasi BPBD Kota Kendari dan BMKG diprediksi hujan masih akan terus mengguyur Kota Kendari. “Kami dari tim BPBD akan selalu sigap dalam melakukan pertolongan,” tegas Suhardin. BPBD juga akan mempercepat proses penanganan dan pemulihan pascabencana karena Pemkot telah menetapkan status tanggap darurat siaga bencana yang merujuk dari jumlah pengungsi.

Muthma Chan Adalah peserta lomba menulis berita ala namalonews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here