Bersiap-Siaplah, Harga Mamin Naik Imbas Rupiah Nyungsep!

0
229

Jakarta, namalonews.com- Saat ini nilai tukar rupah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sedang nyungsep. Kenapa? Rupiah nyungsep karena berada pada level Rp 14.400 per dollar AS. Itulah sebabnya, berhati-hatilah jika Anda membeli makanan dan minuman (mamin).

Peringatan itu disampaikan oleh ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman. Adhi mengingatkan bahwa para pelaku industri sedang dalam kesulitan untuk mempertahankan bisnisnya di tengah keterpurukan nilai rupiah.

Maklum, bahan baku industri sektor ini masih mengandalkan impor. Tak ayal, ketika dollar AS menguat hal itu menyebabkan biaya produksi membengkak. Sementara itu, harga jual produk menggunakan rupiah, karena lebih banyak menyasar pasar domestik.

Sebelum nilai tukar rupiah terhadap dollar AS nyungsep, para pelaku industri mematok  batas level kurs rupiah di pasar spot berkisar antara Rp 13.600 sampai Rp 14.000 per dollar AS. Menurut Adhi, bukan itu saja kesulitan pengusaha makanan dan minuman mempertahankan bisnisnya.

Ternyata, lanjut Adhi, asumsi pemerintah juga meleset. Pemerintah dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2018 mengasumsikan bahwa batas level rupiah adalah sebesar Rp 13.400 per dollar AS. Apalagi, kini nilai tukar rupiah tidak stabil karena mengalami fluktuasi.

“Kita sebenarnya ingin stabil. Akan tetapi, kalau tahun ini telanjur mengikuti APBN yang  patokannya adalah Rp 13.600. Walaupun begitu, biasanya industri ada toleransinya, yakni  Rp 14.000. Ternyata Rp 14.000 sudah melewati. Ancamannya masih terjadi. Makanya,  saya katakan industri ini lagi hitung-hitungan,” kata Adhi di Jakarta.

Kestabilan nilai tukar rupiah bagi dunia industri juga disampaikan oleh seorang analis keuangan.

Menurut Analis Indosurya Sekuritas, William Surya Wijaya, dunia usaha dan investor sebenarnya tidak berharap rupiah menguat, mereka hanya ingin agar pergerakan Rupiah stabil.

“Jadi yang penting itu lebih ke arah stabil, bukan terlalu berfluktuatif yang membuat tidak nyaman bagi pelaku usaha maupun investor,” tuturnya.

Baik dunia usaha maupun investor akan lebih nyaman jika rupiah stabil. Sebab, dengan begitu, mereka bisa melakukan strategi investasi sesuai dengan prediksinya.

“Selama nilai rupiah stabil, seharusnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kalau stabil itu artinya kondisinya sudah mudah diperkirakan, langkah antisipasinya lebih mudah,” tambahnya.

Menurut William, rentang kestabilan dollar AS terhadap Rupiah saat ini di kisaran Rp 13.800- Rp14.200.

Akibat melemahnya rupiah terhadap dollar AS, para pelaku industri makanan dan minuman  sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga jual.

“Saya perkirakan pengaruhnya terhadap bahan pokok sekitar 3 sampai 6 persen, tergantung industrinya, jenis bahan kategori pangannya apa. Semakin besar ketergantungan impornya, maka  emakin tinggi harga kenaikan pokok produksinya. Ini kita sedang me-review apakah perlu naik harga pokoknya atau tidak?” pungkas Adhi.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here