Kolaborasikan Tarian Tradisional Indonesia dalam Tarian Jepang, Beginilah Keseruannya

0
186

Jakarta, namalonews.com- Pemerintah Kota Surabaya kembali menggelar Festival Tari Remo asal Surabaya Indonesia dan Yosakoi asal negeri sakura, Jepang. Kegiatan ini merupakan implementasi perpaduan dua budaya dari hubungan kerja sama antara kota Surabaya dengan Kota Kochi, Jepang sejak 2003 silam. Sister city dalam bidang kebudayaan ini adalah agenda rutin yang digelar setiap tahunnya.

Festival yang diselenggarakan di halaman Taman Surya ini juga sebagai upaya melestarikan budaya tradisional, sekaligus mengenalkan kepada generasi jaman now agar dapat menumbuhkan rasa peduli dan memiliki terhadap budaya lokal daerah.

Menurut Wisnu Sakti Buana, Wakil Wali Kota Surabaya Festival Tari Remo dan Yosakoi ini dapat menjadi media pembelajaran untuk saling mengenal budaya antar bangsa. Festival ini semakin diminati oleh masyarakat. Terbukti peserta Festival Tari Remo dan Yosakoi tahun ini meningkat. Tercatat sebanyak 53 tim penari remo dan 28 tim penari Yosakoi turut serta dalam acara tersebut. Jadi, sekitar 500 peserta ikut andil dalam kegiatan Festival tahun ini.

Masaki Tani, Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya mewakili Seiya Okazaki dalam membacakan sambutan dari Walikota Kochi tersebut dan Shoichi Nishiyama Ketua Komisi sister city tidak bisa hadir dalam acara ini.

“Kami menunggu kedatangan para penari terbaik Surabaya untuk turut memeriahkan Festival Yosakoi-Kochi di masa mendatang,” ujarnya.

Pada 2017, Kota Surabaya- Indonesia bersama Kota Kochi-Jepang merayakan penandatanganan kerja sama sister city yang ke 20 tahun. Pihaknya berharap agar ke depannya kerja sama antara Kochi dan Surabaya dapat lebih berkembang.

Selain itu, Festival tahun ini juga bertepatan dengan peringatan 60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dengan Indonesia. “Momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk memperdalam serta mempererat hubungan persahabatan antar kedua negara,” ungkap Masaki.

Sementara itu, peserta asal Indonesia yang berkesempatan menjadi penari Yosakoi begitu bersemangat menikmati alunan musik naruko, perkusi kayu asal Jepang yang beriringan dengan gerakan Yosakoi yang mereka bawakan.

Menurut Nisa salah satu penari Yosakoi asal Indonesia, tarian ini lebih mudah dibandingkan tarian daerah Indonesia. “Di tarian ini kami bisa teriak-teriak,” ungkap Nisa.

Meski begitu ia mengaku senang dapat belajar tarian yang berbeda dalam festival yang mempertemukan puluhan tim ini. Bahkan dapat tampil di depan juri asal Jepang.

“Kedua tarian ini sama-sama tari kerakyatan yang dibawakan khalayak ramai. Kami mencoba mengkreasikan gerakan dari dua tarian yang berbeda ini. Kami memperbanyak gerakan pinggul,” jelas Diaz, salah seorang pelatih tari.

Kegiatan ini hanya dipusatkan di halaman Taman Surya sejak pagi hingga sore hari.

Penulis: Rosida Oktavia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here