Membasmi Konten Negatif di Internet, Lawan Berita Palsu dan Hoaks

0
205

Jakarta, namalonews.com- Dunia maya sejatinya adalah cermin hati. Aktivitas yang terekam di data digital adalah gambaran dari isi pikiran yang biasanya tak nampak di dunia nyata. Ia ibarat terminal yang menghubungkan perbuatan kita di dunia dengan tempat berlabuh di akhirat sana. Rekam jejak buruk berujung di neraka, rekam jejak baik bermuara di surga. Alhasil, ketika memilih aktif di ranah maya, maka seringlah berkaca ke mana arah kita sesungguhnya. Dunia maya kita sedang dilanda kontestasi penyakit sosial. Sampah informasi bertebaran secara masif tanpa verifikasi dan konfirmasi. Hoax,  fitnah, dan hujatan bersahut-sahutan nyaris tiada henti.

Maraknya beredar berita hoax ini dapat berakibat buruk bagi perkembangan negara Indonesia. Hoax dapat menyebabkan perdebatan hingga bukan tidak mungkin sampai memutuskan pertemanan. Apalagi hoax tersebut yang mengandung SARA yang sangat rentan mengundang gesekan antar masyarakat mengganggu stabilitas negara dan kebinekaan. Hoax dalam konteks pemberitaan yang tidak jelas asal-usul pembuatnya, Masyarakat sekarang ini bisa membuat sebuah berita dan menulis di situs atau blog milik pribadi, atau diakun media sosial yang jika dilihat materi dan substansinya bisa lebih baik dari berita-berita di media mainstream. Kurangnya pengetahuan di masyarakat dan faktor kemalasan mencari tahu kebenaran suatu berita membuat penyebaran hoax terjadi sangat cepat. Umumnya masyarakat saat ini amat sangat minim memiliki minat membaca. Bagi mereka cukuplah membaca judul dan paragraf pertamanya saja mereka sudah mendapatkan inti dari berita tersebut. Hal ini juga didukung dengan format berita daring, dimana portal berita yang paling banyak dibaca adalah berita yang hanya terdiri dari beberapa alinea atau paragraf saja, bahkan penyajiannya cenderung tidak lengkap. Pemberitaan palsu diolah sedemikian rupa agar menarik minat pembaca. Para netizan turut serta dalam kolom komentar untuk membahas suatu berita dengan anggapan mereka dapat meluruskan berita tersebut melalui opininya. Padahal belum tentu apa yang mereka sampaikan dapat dimengerti orang lain, sehingga semakin banyak yang ikut serta baik mengomentari berita itu sendiri maupun argumen orang lain.

Anak muda sekarang yang terlahir sebagai agent of change merupakan generasi yang sedang berkembang dan akan matang pada saatnya. Mereka adalah calon generasi pemimpin bangsa yang akan membawa negara ke arah perubahan yang lebih baik. Salah satu perubahan yang bisa dilakukan adalah melakukan partisipasi aktif dalam memerangi kedzaliman dan ketidakadilan di muka bumi. bisa berperang melawan hoax yang disebar melalui dunia digital maupun dunia nyata yang semakin lama semakin deras tak terkontrol. Ini merupakan masalah kita bersama selaku warga Negara Indonesia. Hoax mendapatkan kesempatan dan momentum besar di era perkembangan teknologi digital saat ini. Di tengah arus informasi di mana “kecepatan” menjadi yang utama, informasi menjadi mudah dibagikan tanpa melalui proses verifikasi, sehingga siapa saja, di mana saja, dan kapan saja bisa memproduksi, reproduksi dan mengkonsumsi konten hoax semudah menggerakkan ujung jarinya di gadget. Jika dahulu ada peribahasa “mulutmu harimaumu”, di era digital seperti sekarang ini peribahasa tersebut mungkin bermetamorfosa menjadi “jarimu harimaumu”.

Di zaman digital, persaingan global makin bersifat total. Jika ingin jadi bangsa handal, tiada pilihan kecuali meningkatkan kualitas diri secara optimal. Jadikan air bah informasi sebagai modal produktif menuju level lebih tinggi. Manfaatkan jejaring sosial untuk bersinergi meningkatkan produktivitas dan mencapai kesejahteraan bersama. Janganlah puas hanya menjadi generasi pemangsa berita bohong, penyantap kabar burung, atau penikmat konten negatif lainnya. Di era kebebasan berpendapat dan bermedsos ria, berempati dan menggunakan rasa makin perlu dilakukan bersama. Setidaknya untuk menjaga kata-kata agar tak melukai sesama. Aksi menebar kabar hoax bukanlah sedekah yang berpahala. Sebaliknya, itu menabur benih keburukan yang akan kembali pada diri kita semua. Kegemaran copas (copy paste) bisa mematikan kreativitas kita dan menuai malapetaka. Di sisi lain memanipulasi pesan dan mendistorsi informasi untuk memantik emosi, termasuk perbuatan tak terpuji. Berkomentar di medsos tanpa memperhitungkan dampaknya juga mestinya dihindari. Melatih empati dengan berpikir bahwa orang lain bisa terluka karena kalimat kita di ranah maya, sama artinya melatih diri untuk menjaga hati.

Solusi

Masyarakat harus mau belajar dan memahami komunikasi dan budaya, karena keduanya sangat penting dan bermanfaat bagi masyarakat. Di mana, agar masyarakat mampu memahami informasi yang diterima atau disebar luaskan ke orang lain atau ke publik. Etika komunikasi sebagaimana terpaparkan dalam pembahasan di atas memberikan rambu-rambu dan juga petunjuk yang positif kepada seseorang dalam melakukan komunikasi baik secara individu maupun komunikasi massa dan ke publik Dengan demakin pahamnya masyarakat terhadap perihal komunikasi dan budaya maka akan terjadi proses yang positif pada masyarakat dalam berkomunikasi dan penggunaan sekaligus pemanfaatan media sosial yang ada. Sehingga masyarakat akan terhindar dari berita-berita hoax, baik sebagai pembuat dan pengirim berita hoax maupun sebagai penerima dan konsumen berita hoax. Dengan makna lain masyarakat baik secara individu maupun kelompok mampu dan dapat melakuakan rekontruksi terhadap pemanfaatan sosial media atas realitas sosial yang terjadi di dinegeri ini (Indonesia) tanpa harus pemerintah membuat regulasi yang dapat menjerat masyarakat dalam hukum. Dengan semakin pahamnya masyarakat terhadap perihal komunikasi dan budaya maka akan terjadi proses yang positif pada masyarakat dalam berkomunikasi dan penggunaan sekaligus pemanfaatan media sosiall yang ada. Sehingga masyarakat akan terhindar dari berita-berita hoax, baik sebagai pembuat dan pengirim berita hoax maupun sebagai penerima dan konsumen berita hoax.

Saran

Kita semua bersaudara. Seperti hubungan kaki, tangan, kepala, dan anggota badan lainnya yang saling terkait. Jika salah satunya terhimpit, yang lain turut merasakan sakit. Karena itu, marilah berlatih empati Sesama saudara, jangan mencaci jika tak ingin dibenci. Jangan memfitnah karena bakal terkena tulah. Bersikaplah bijak agar sadar dimana tempat berpijak.

Penulis: Mustofa (Peserta Lomba Menulis namalonews.com)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here