Nilai Tukar Rupiah Diharapkan Tetap Terjaga

0
157

Jakarta, namalonews.com- Bank Indonesia berharap stabilitas nilai tukar rupiah akan tetap terjaga melalui berbagai kebijakan termasuk koordinasi erat dengan pemerintah.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut kebijakan kenaikan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25 persen pada 28-29 Juni 2018. Langkah ini mendapat persepsi positif dari investor dan mendorong arus masuk modal asing ke Indonesia.

“Langkah ini juga disambut baik oleh pelaku pasar sehingga turut mendorong terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry pada Rabu (11/7/2018).

Ia menambahkan BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerinta dan otoritas terkait upaya mempertahankan stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan, termasuk memperkuat impelementasi reformasi struktural. Langkah ini diharapkan bisa mendorong ekspor, mengurangi impor, meningkatkan pariwisata dan arus masuk modal asing.

Perry mekanjutkan BI akan terus berada di pasar untuk melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi dan mekanisme pasar.

Laju kurs kembali melemah terhadap dolar AS sepanjang Rabu (11/7/2018) kemarin. Pada spot perdagangan, mata uang garuda melemah 18 poin atau 0,13 persen di level Rp 14.385 per dolar AS.

Sementara, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, mata uang rupiah berada di level Rp 14.391 per dolar AS. Angka itu lebih lemah dibandingkan dengan Selasa (10/7/2018) yang berkisar di Rp 14.326 per dolar AS.

Ekonom Indeh Bhima Yudhistira menjelaskan pergerakan kurs rupiah lebih dipengaruhi neraca perdagangan yang terus naik impornya.

“Jadi kebetulan valasnya besar. Apalagi ada perang dagang AS-Cina. Berawal dari situasi ini, banyak perusahaan memitigasi dengan beli dolar AE lebih awal sebelum kembali menguat,”ujarnya.

Kebijakan tersebut ditopang oleh pelaksanaan operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar valas maupun pasar uang.

“Di samping itu, relaksasi kebijakan LTV yang mendapat sambutan positif dari dunia usaha dan perbankan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan di sektor properti yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara umum,” lanjutnya.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here