PDIP Jumawa Anggap Belum Ada Lawan Jokowi

0
195

Jakarta, namalonews.com- Jelang pilpres 2019 partai-partai politik dan elitenya sering melakukan silaturahmi untuk menjajagi kemungkinan berkoalisi. Di samping itu, elite partai yang mengusung calonnya untuk maju pilpres tahun depan juga melakukan manuver dalam berbagai cara dan bentuk.  Manuver bisa dilakukan dengan menggelar suatu acara dengan mengumpulkan masssa, deklarasi,  atau manuver yang bersifat psikologis.

Manuver dilakukan untuk menaikkan  elektabilitas bakal calon yang disusung.  Tingginya elektabilitas calon  dapat menjadi modal untuk menganggap bahwa kompetitornya masih berada di bawahnya. Setidaknya  hal seperti  itu dilakukan oleh PDIP.

PDIP menganggap bahwa belum ada bakal calon presiden yang elektabilitasnya melebihi elektabilitas Jokowi.  Pernyataan itu mengemuka dari Wasekjen PDIP, Eriko Sotarduga.

Menurut Eriko, PDIP mengaku belum ada tokoh kuat yang menjadi penantang Jokowi  menjelang batas pendaftaran Pilpres 2019. Di samping itu, Eriko juga  belum melihat ada tokoh penantang dari lawan koalisi mereka, yaitu Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat. Menurutnya, partai- partai itu belum menentukan capres yang diusung secara resmi.

“Sampai saat in kalau secara jelas kita lihat belum ada calon yang jelas,” kata Eriko di Gedung DPR, Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

“Kalau seperti Gerindra juga, kita melihat PKS dan PAN punya pemikiran lain seperti itu kan, PAN, Demokrat juga ada keinginan bersama begitu juga Gerindra dan Demokrat. Ya,  kita tunggu saja beberapa hari ke depan,” lanjutnya.

Tentang kemungkinan munculnya poros ketiga, Eriko tak khawatir. Sebab, dalam pandangannya, koalisi yang terbentuk itu harus memenuhi syarat ambang batas atau presidential threshold , yakni 20 persen.

“Terkait elektabilitas partai untuk ke depan ini dari partai-partai tentu memajukan calon masing-masing strategi. Namun, kalau juga tidak bisa berkumpul untuk 20 persen,  maka tidak bisa mencalonkan antara capres dan cawapres” jelasnya.

Sampai dengan detik ini koalisi partai pendukung calon presiden petahana mulai mengerucutkan sejumlah nama yang akan mendampingi Jokowi.  Mereka berasal dari tokoh atau elite  partai pendukung, kalangan profesional, dan tokoh agama.

Sementara itu,  untuk lawan koalisi mereka atau partai yang belum menyatakan  bergabung dengan koalisi partai  Jokowi,  yaitu Partai Gerindra, PAN, dan PKS, serta   Partai Demokrat masih dalam proses kesepakatan atau penjajagan. Mereka melakukan silaturhmi antartokoh atau elite partai secara intensif.

Mereka melakukan hal itu bertujuan untuk mengerucutkan calon yang akan dimajukan atau diusung  pada gelaran pilpres 2019. Pada saat yang tepat, calon yang mereka usung, baik capres mapun cawapres, tentu akan segera  dideklarasikan secara resmi kepada publik. Selanjutnya, jago mereka itu  akan didaftarkan  ke KPU oleh partai  atau gabungan partai yang mengusungnya sebagai  calon presiden atau calon wakil presiden.

Perlu diketahui bahwa pendaftaran pemilihan calon presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019 akan dibuka pada 4-10 Agustus 2018. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2017 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2019.

Dalam pesta demokrasi 2019, rakyat akan memilih presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.  Rakyat memilih presiden dan wakil presiden disebut pilpres, sedangkan rakyat memilih anggota DPR, DPD,  DPRD  Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota  disebut pileg.  Mereka akan melakukan pencoblosan pada tanggal 17 April 2019.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here