PLN Rugi Rp 6 Triliun Akibat Melemahnya Rupiah

0
297

Jakarta, namalonews.com- PLN (Perusahaan Listrik Negara) atau nama resminya adalah PT PLN (Persero) adalah sebuah badan usaha milik negara (BUMN) yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia. Di Indonesia  BUMN  adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.

Sejak tahun 2001 seluruh entitas BUMN berada di bawah pengawasan dan pengelolaan Kementerian BUMN yang dipimpin oleh Menteri BUMN. BUMN di Indonesia berbentuk perusahaan perseroan, perusahaan umum, dan perusahaan jawatan.

Adalah hal yang wajar apabila suatu perusahaan dalam usahanya mendapat keuntungan. Namun, juga bukan hal yang aneh apabila perusahaan mengalami kerugian.  Keuntungan atau kerugian pada suatu perusahaan dialami oleh suatu perusahan karena banyak faktor penyebab.

Sehubungan dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (A) dalam beberapa tahun terakhir,  PLN mengalami kerugian.  Kerugian yang diderita oleh PLN akibat melemahnya nilai tukar rupaih tehadap dollar AS mencapai jumlah Rp 6 triliun.

Kerugian itu terungkap saat Komisi VI DPR RI menggelar rapat kerja bersama Direksi PT PLN (Persero) dan Kementerian BUMN. Rapat tersebut  membahas usulan Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2019.

Dalam rapat antara wakil rakyat dengan perusahaan pelat merah itu, Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengungkapkan bahwa  melemahnya atau turunnya nilai tukar rupiah berdampak negatif terhadap kinerja keuangan perseroan.  Menurut Sofyan hingga Juni 2018 lalu,  PLN menderita kerugian hingga Rp 6 triliun. Kerugian itu diakibatkan oleh  pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

“Ada kenaikan biaya Rp 1,3 triliun setiap kenaikan Rp 100 rupiah (penguatan dollar AS) yang  menjadi tambahan biaya biaya PLN. Kami estimasi rugi Rp 6 triliun,” katanya di Ruang Rapat Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (11/7/208).

Lebih lanjut, Sofyan  menambahkan bahwa kerugian sebesar Rp 6 triliun itu belum termasuk kerugian yang diakibatkan oleh inflasi hingga faktor harga bahan bakar minyak (BBM). Itulah sebabnya, tambah Sofyan, PLN hingga kini terus menghitung total kerugian yang disebabkan berbagai faktor itu.

“Belum termasuk adanya kenaikan BBM, inflasi. Ini di luar perkiraan kami,” tegas Sofyan.

Sementara itu, walaupun mengalami kerugian akibat fluktuasi kurs rupiah,  menurut  Direktur Keuangan PLN, Sarwono Sudarto,  laba operasi perseroan masih untung. Pada bulan Juli ini, tambah Sarwono,, dia optimistis bahwa kurs rupiah terhadap dollar AS akan lebih baik.

“Lebih bagus ini, kursnya enggak seperti itu. Kalau you mau tanya betul, setelah diaudit saja. Karena iDalam  hitung-hitungan Sarwono,  kerugian yang diderita oleh PLN adalah  akibat fluktuasi kurs rupiah yang disebabkan oleh beberapa pos pengeluaran PLN dibayar dalam bentuk dollar AS. Semakin rupiah melemah, semakin besar pula pengeluaran perseroan.tu angka yang sebetulnya masih kita kumpulkan,” ucapnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here