Soal Divestasi Saham Freeport, Jangan Ada Kebohongan

0
97

Jakarta, namalonews.com- Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaporkan bahwa holding BUMN Pertambangan yakni Inalum telah sepakat dengan Freeport McMoran terkait akuisisi 51% saham PT Freeport Indonesia.

“Saya telah mendapatkan laporan bahwa holding industri pertambangan kita, Inalum, telah mencapai kesepakatan awal dengan Freeport pengolahan untuk meningkatkan kepemilikan kita menjadi 51% dari yang sebelumnya 9,36 persen. Alhamdulillah,” kata Jokowi di BSD, Kamis (12/7/2018).

Jokowi senang dengan kesepakatan yang akhirnya terjadi. Karena, hampir setengah abad Freeport beroperasi di Indonesia porsi pemerintah di tambang milik perusahaan AS tersebut sangat kecil.

Pernyataan Jokowi terkait dengan divestasi saham Freeport tersebut mendapat tanggapan dari Wakil Ketua Umum Partai Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono.

“Aduh kok mau ngibul lagi sih Kangmas Joko Widodo. Belum berhasil kok. Saham Freeport diakuisisi oleh Holding BUMN Pertambangan, Inalum. Baru tahap kesepakatan. Baru tahap MoU. Belum masuk ke tahap MoA,” katanya melalui pesan elektronik kepada redaksi Rmol, Kamis (12/7/2018).

MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepahaman adalah suatu perjanjian pendahuluan, yang akan diikuti dengan perjanjian lainnya sebagai dasar penyusunan kontrak mendatang yang didasarkan pada hasil permufakatan awal para pihak yang akan mengikatkan diri. Sementara itu, MoA (Memorandung of Agreement) adalah perjanjian  yang sudah diteken yang sebagian besar proyek sudah dilaksanakan.

Lebih lanjut  Arief mengingatkan Jokowi yang dulu pernah menggeluti bisnis kayu. Menurut Arief, dalam dunia bisnis, kalau masih dalam tahap MoU, itu tidak bisa disebut sudah dilakukan akusisi. Sebab, tambahnya, semua kesepakatan yang ada di MoU harus disepakati terlebih dulu oleh kedua belah pihak.

“Itu pun kalau MoU divestasi saham Freeport sudah diteken. Nah, ini MoU nya saja belum diteken, kok sudah klaim berhasil mengakusisi saham Freeport 51 persen. Ngerti ngggak sih Kangmas tentang prosedur akusisi saham,” tambahnya Arief.

Seingat Arif, biasanya dalam MoU, akusisi saham sebelum masuk Memorendum of Agreement, semua klausul yang disepakati harus dipenuhi kedua belah pihak. Tambah Arief, misalnya soal siapa yang menanggung pajak divestasi saham Freeport, atau pembayaran saham Freeport dilakukan dengan mengunakan instrument keuangan dari mana.

“Nah terus apa benar Holding BUMN pertambangan punya dana untuk mengakusisi saham Freeport. Lalu kalau pakai pendanaan pinjaman bank dari dalam negeri, apa saat ini perbankan dalam negeri mau ngucurin dana ke sektor pertambangan yang lagi sunside time? Terus kalau pinjam keluar apa iya portfolio holding BUMN pertambangan untuk ambil alih saham Freeport bisa dipercaya,” tanyanya.

Masalah pendanaan untuk akuisisi saham Freeport, Direktur Inalum, Budi Gunadi Sadikin, memberikan pejelasan. Budi mengatakan bahwa dana untuk pengambilan divestasi saham 51% merupakan pinjaman sindikasi 11 bank baik nasional maupun asing. Pinjaman yang ditawarkan lebih besar daripada jumlah harga yang sudah disepakati yakni  3,85 miliar dollar Amerika Serikat (AS).

“Yang sudah ditawarkan lebih besar daripada yang kami butuhkan. Jadi, tergantung kami mau berapa. Karena tidak mungkin kami butuh 3,8 miliar dollar AS  pinjamnya 7 miliar, dollar AS,” ungkapnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here