Kontestasi Caleg Publik Figur Menuai Pro-Kontra

0
1317

Jakarta, namalonews.com- Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 akan semakin diramaikan calon legislatif (caleg) dari kalangan artis di banding Pemilu 2014. Ini bukan hal yang baru dan acap kali muncul menjelang pesta demokrasi lima tahunan. Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI telah menyelesaikan tahapan pendaftaran caleg di tingkat DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Ribuan nama yang didaftarkan itu akan bertarung memperebutkan 575 kursi DPR RI dari 80 daerah pemilihan yang tersebar di 34 provinsi. Pendaftar caleg tersebut berasal dari berbagai macam latar belakang yang berbeda, di antaranya dari kalangan publik figur.

Berbagai macam strategi dilakukan untuk memperebutkan kursi legislatif yang telah disediakan, mulai dari memasang caleg dari kalangan artis atau publik figur, mantan kepala daerah yang sudah menjabat dua periode, calon kepala daerah yang gagal pada pilkada 2018, hingga kandidat yang berasal dari dinasti politik.

Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan mengatakan bahwa partai politik telah mempunyai pertimbangan tertentu mengapa mendaftarkan caleg dari latar belakang publik figur. “Kami percaya parpol (partai politik-red) dalam mencalonkan seseorang menjadi bacaleg (bakal calon legislatif-red) DPR dan DPRD itu semestinya sudah mempertimbangkan banyak hal, utamanya kemampuan dan rekam jejak,” tutur Wahyu Setiawan, Kamis (19/7/2018).

KPU RI tidak menilai kemampuan personal dari caleg DPR dan DPRD. Akan tetapi, KPU memiliki kewenangan memastikan yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan berdasarkan PKPU Nomor 20 Tahun 2018 tentang Pencalonan Anggota DPR RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota.

“KPU hanya berwenang memastikan bahwa semua bacaleg (bakal calon legislatif-red) DPR, DPRD benar-benar memenuhi persyaratan sesuai peraturan undang-undang dan PKPU,” ujarnya.

Terhitung sebanyak 71 artis mulai dari pemain film hingga penyanyi terdaftar di KPU setelah pendaftaran caleg resmi ditutup sejak tanggal 17 Juli 2018. Ke-71 publik figur tersebut berasal dari sepuluh partai. Partai Nasional Demokrat (Nasdem) tercatat paling banyak memiliki caleg dari kalangan artis. Sedangkan partai baru, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengusung hanya satu artis. Sementara empat partai lainnya yakni PKS, Gerindra, PPP, dan Hanura tidak memiliki caleg dari kalangan artis. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengan pemilu tahun 2014 yang mengajukan 60 artis dari sembilan partai.

Menurut Pangi Syarwi Chaniago, selaku pengamat politik memberi pendapat bahwa partai politik saat ini menjadi match all party atau mengambil figur dari seluruh kalangan. “Parpol (partai politik-red) sudah bergerak menjadi match all party. Bertumpu pada kutub populis dan menjual nama publik figur dalam rangka mendulang elektorat,” ucap Pangi, Jumat (20/7/2018).

Hampir semua parpol mengalami masalah dalam internal partainya. Masalah yang kerap kali muncul terkait dengan kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik. Maka dari itu, pihak partai mengambil jalan pintas dengan merekrut kaum populis. “Kita memahami apa yang terjadi belakangan ini, karena hampir semua parpol (partai politik-red) mengalami problem yang sama soal kaderisasi macet. Partai terkesan panik, menjadikan artis, publik figur dan bermain dengan populis,” kritiknya.

Populis yang dimaksudkan adalah orang-orang yang pada umumnya berasal dari kalangan publik figur atau artis yang digunakan untuk menjadi daya tarik partai agar mendapatkan suara dan target kursi di parlemen terpenuhi. “Mendapatkan popularitas artis sebagai vote getter, dalam rangka mendulang elektorat, sehingga parpol (partai politik-red) bisa selamat dari parlementary threshold dan jumlah kursi bisa mencapai target,” tambahnya.

Hal tersebut dirasa sangat memprihatinkan. Parpol yang seharusnya merekrut anggota berdasarkan tingkat kompetensi dengan melakukan seleksi berlapis. “Mestinya partai bergerak pada catch all party atau merekrut caleg (calon legislatif-red) bertumpu pada platform, program, ideologi, jam terbang, integritas, kapabilitas, loyalitas, kredibilitas, bukan hanya merekrut sebatas popularitas dan logistik,” tegurnya.

Sementara itu, Ketua DPR, Bambang Soesatyo menduga, beberapa partai politik yang menggaet caleg dari kalangan artis agar menuai simpati pemilih. “Pengalaman tahun 2014-2019 memang membuka ruang sangat luar biasa bagi artis-artis untuk meraih simpati publik dan mendapatkan kursi. Barangkali itulah yang dilihat kenapa beberapa partai politik merekrut para artis untuk menjadi caleg (calon legislatif-red),” ujar Bamsoet, Rabu (18/7/2018).

Wahyu Setiawan menghimbau kepada masyarakat untuk menilai mengenai kelayakan caleg dari latar belakang publik figur untuk mewakili masyarakat di parlemen. “Pada saatnya nanti, masyarakat yang akan menilai. Kemudian, memilih melalui hak politiknya,” tutupnya.

Penulis: Muhammad Rizal Pahleviannur (Peserta Lomba Menulis namalonews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here