Kronologi OTT Kalapas Sukamiskin dan Fasiitas Wah Napi yang Terungkap

0
67

Jakarta, namalonews.com- Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK telah menangkap Wahid Huesin yang merupakan Kepala Lapas Sukamiskin atas dugaan kasus korupsi pemberian izin khusus dan penyediaan fasilitas bagi sejumlah narapidana. Laode Muhammad Syarif selaku Wakil Ketua KPK menyampaikan bahwa penyelidikan kasus tersebut berawal dari laporan masyarakat tentang adanya dugaan jualbeli izin keluar lapas dan sel tahanan, sehingga KPK mulai menyelidiki kasus tersebut pada bulan April 2018 lalu. Setelah mengumpulkan sejumlah bukti yang kuat mengenai kasus tersebut, akhirnya KPK melakukan operasi tangkap tangan pada hari Jumat, 20 Juli 2018 malam sampai dengan Sabtu dini hari.

Berikut beberapa kronologi operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK berdasarkan hasil jumpa pers bersama pimpinan KPK:

Jumat, 20 Juli 2018, pukul 22.15 WIB

Tim KPK melakukan penangkapan terhadap Wahid beserta istrinya Dian Anggraini, di kediamannya yang terletak di Bojongasang, Bandung. Selain itu, dalam OTT ini KPK turut mengamankan uang sebesar Rp 20.505.000 dan 410 Dolar AS, mobil Mitsubishi Pajero Sport Dakar warna hitam, dan mobil Mitsubishi Triton Exceed warna hitam. Setelah penangkapan ini, Wahid beserta istri langsung dibawa menuju Lapas Sukamiskin.

Sabtu, 21 Juli 2018, pukul 00.00 WIB

KPK menangkap staf Wahid, yakni Hendry Saputra, saat di kediamannya yang ada di Rancasari, Bandung Timur. Dari penangkapan tersebut, KPK juga berhasil mengamankan uang tunai sebesar Rp 27.255.000. Selanjutnya Hendry juga dibawa menuju Lapas Sukamiskin.

Pada saat yang bersamaan, KPK melakukan penangkapan terhadap Fahmi Darmawansyah, narapidana korupsi dari selnya. Uang sebesar Rp 139.300.000 dan sejumlah catatan sumber uang berhasil diamankan oleh tim KPK pada penangkapan tersebut.

Berdasarkan keterangan dari KPK, Fahmi merupakan pelaku utama yang menyuap Wahid untuk memperoleh fasilitas dan izin khusus agar bisa keluar dari lapas dengan. Di dalam sel tahanan Fahmi tersebut, KPK menjumpai adanya fasilitas mewah seperti AC, televisi dan kulkas.

Selanjutnya, KPK beralih ke sel Andri Rahmat, yang merupakan narapidana kasus pidana umum yang didiuga telah melancarkan Fahmi untuk menyuap Kalapas. Dalam penangkapan tersebut, tim KPK juga berhasil mengamankan uang senilai Rp 92.260.000, 1.000 Dolar AS, sejumlah telepon genggam serta dokumen pembelian dan pengiriman mobil Mitsubishi Triton beserta kuncinya.

Tim KPK kemudian menuju tiga sel tahanan narapidana Charles Jones Messang, Tubagus Chaeri Wardana dan Fuad Amin. Akan tetapi, Fuad dan Tubagus tidak berada di sel tahanan, sehingga sel mereka disegel oleh tim KPK.

Sabtu, 21 Juli 2018, pukul 00.30 WIB

Tim KPK selanjutnya menuju Menteng, Jakarta, yaitu di kediaman istri Fahmi, Inneke Koesherawati. Tim juga mengamankan Inneke untuk dimintai keterangan terkait dengan kasus yang menyangkut suaminya.

Sabtu, 21 Juli 2018, pukul 20.00 WIB

KPK mengumumkan bahwa Wahid, Fahmi, Hendry dan Andri sebagai tersangka melalui jumpa pers. Wahid dan stafnya diduga telah melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b, atau Pasal 11, atau Pasal 12 B UU Pemberantasan Tindak PIdana Korupsi karena sebagai penerima suap. Sedangkan Fahmi dan Andri diduga telah melanggar Pasal 5 ayat 1, atau Pasal 13 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP atau Pasal 64 ayat 1 KUHP, sebagai pihak penyuap.

Semua orang tersebut telah berhasil ditahan oleh KPK, sementara istri Wahid dan istri Fahmi yang berstatus sebagai saksi telah kembali dilepas oleh tim.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here