Hari Anak Nasional serta PR Besar Pendidikan Anak Indonesia

0
289

Jakarta, namalonews.com- 23 Juli adalah hari yang secara rutin diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Pada tahun ini, HAN mengangkat sebuah tema yaitu “Anak Indonesia, Anak GENIUS”. Genius pada tema tersebut merupakan akronim dari Gesit, Empati, Unggul, dan Sehat.

Wisnu Subekti dan Sabda Subekti yang merupakan pengamat pendidikan sekaligus pendiri media pembelajaran berbasis teknologi Zenius menyampaikan bahwa yang masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa Indonesia adalah  terkait dengan masalah pendidikan anak di Indonesia.

  1. Masih rendahnya standar kualitas

Pemetaan pendidikan yang ada di Indonesia salah satunya adalah melalui PISA (Programme for International Student Assesment) yang diinisiasi oleh OECD atau Organisation for Economic Co- Operation Development.

Ujian PISA dilakukan tiga tahun sekali kepada siswa usia 15 tahun yang setara dengan siswa SMP kelas II atau III dengan fokus menguji pada tiga mata pelajaran yaitu sains, matematika, dan membaca.

Berdasarkan hasil ujian PISA yang dilaksanakan pada tahun 2012, sebesar 76% siswa Indonesia yang mengikuti tes tersebut tidak mampu mencapai level 2, yang artinya baru 2 pertanyaan yang  diberikan, siswa telah gagal.

Jika dibandingkan dengan negara lain dalam lingkup negara-negara ASEAN, Indonesia termasuk pada negara dengan level terbawah versi PISA.

  1. Mengubah metode mengajar

Sabda mengatakan bahwa dalam pendidikan anak di Indonesia, bukan hanya sekedar kurikulum yang harus diganti, melainkan dari segi cara mengajar dan pengajar juga harus berubah. Wisnu juga menambahkan bahwa di Indonesia seringkali diajarkan cara cepat dalam menemukan jawaban dari soal ujian dengan tanpa menyertakan pemahaman mengenai konsep akan setiap soal yang diberikan.

Pada akhirnya, anak-anak hanya akan menghafalkan soal dan rumus cepat, namun tidak mengerti bagaimana konsep soal beserta pemecahannya hingga menemukan jawaban yang tepat.

  1. Persoalan kemampuan dasar

Oleh karena itu, menurut Sabda, yang menjadi persoalan dasar adalah rendahnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh anak-anak. Menurutnya, berdasarkan hasil tes reading competency yang pada dasarnya hanyalah pemahaman mengenai sesuai atau tidaknya kalimat, mayoritas pelajar usia 15 – 26 mengalami kegagalan. Apabila basic skill-nya saja kurang, maka logikanya pasti akan bermasalah. Sedangkan logika itu sangat berkaitan dengan proses demokrasi suatu negara, agar tidak mudah terpecah belah oleh fitnah dan adu domba yang tersebar.

  1. Potensi bahaya dari akses luas

Yang menjadi persoalan berikutnya adalah mengenai akses pendidikan. Saat ini akses tidaklah sulit, melainkan justru sangat mudah dan sangat luas. Apabila akses sudah baik, namun isinya penuh dengan racun, maka yang masuk akan keracunan. Maka, agar hal ini tidak sampai terjadi, maka menurtut Sabda, akses harus diisi dengan konten-konten yang bagus untuk mengasah otak dan logika. Sabda menegaskan, walaupun akses penting, namun kontennya jauh lebih penting.

  1. Pendidikan berbasis Teknologi

Sabda dan Wisnu selanjutnya melihat pada pendidikan yang berbasis teknologi, di mana pada saat ini, pendidikan berbasis teknologi sedang tumbuh dan dapat menjadi solusi alternatif dalam masalah pendidikan saat di Indonesia saat ini.

Menurut Wisnu, kelebihan utama dari pendidikan berbasis teknologi yang pertama adalah mengedepankan great learning experience atau pengalaman belajar yang asyik sesuai dengan karakter anak saat ini. Kedua, pendidikan berbasis teknologi dapat membangun literasi logika dan sains, di mana hal ini sangat penting dalam pendidikan dasar. Dan kelebihan yang ketiga adalah proses pembelajaran dalam pendidikan berbasis teknologi terencana dan dilaksanakan dengan tuntas. Dengan adanya teknologi, anak dapat mengejar ketertinggalan pelajaran, serta mampu memahami seluruh pedidikan yang ditempuhnya. (disadur dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here