Dari 39 Janji Jokowi tentang Papua, Baru 2 Terealisasi. Akankah Semua Terealisasi?

0
702

Jakarta, namalonews.com- Sewaktu kampanye pemilihan presiden tahun 2014 yang lalu, Jokowi membuat sejumlah janji. Janji-janji itu hingga kini masih diingat dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Hingga kini masyarakat Indonesia masih menunggu realisasi dari janji Presiden Jokowi mengingat bahwa  masa kekuasaan  mantan Gubernur di Jakarta itu sebagai presiden tidak lama lagi akan segera berakhir.

Salah satu warga masyarakat Indonesia yang masih mengingat dengan baik  janji Jokowi sewaktu mencalonkan diri sebagai presiden adalah Natalius Pigai. Natalius Pigai merupakan warga negara Indonesia yang berasal dari kwasan Indonesia timur, yakni Papua atau dulu namanya Irian Barat, kemudian berganti menjadi Irian Jaya. Irian Jaya pun akhirnya berganti nama menjadi Papua.dengan

Mantan Komisioner Komisi Nasional  Hak Asasi Mansia (Komnas HAM), Natalius Pigai mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait dengan janji-janji politiknya sewaktu kampanye pada tahun 2014 lalu. Janji-janji Jokowi itu kini belum sepenuhnya diwujudkan.

Khusus yang terkait dengan Papua, Natlius mencatat ada 39 janji Jokowi. Akan tetapi, dalam catatan Natalius,   sampai menjelang berakhirnya masa jabatan Jokowi, hanya dua janji yang berhasil diwujudkan.

“Di tingkat nasional yang kami hitung itu kurang lebih 66 janji presiden yang secara langsung dan tidak tercatat itu lebih dari mungkin ratusan, lebih dari itu. Di Papua saja, 39 janji. Setelah kami hitung di Papua hanya dua yang realisasi,” jelas Natalius saat menghdiri acara dialog kebangsaan ‘2019 Presiden Harapan Rakyat’ di Jalan Buncit Raya, Pancoran, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Lebih lanjut, Natalius menyebutkan bahwa dua janji yang Jokowi berhasil wujudkan hanya pembangunan jalan trans Wamena-Nduga dan pasar kecil untuk para mama Papua.

“Hanya dua itu dari 39 janji. Di tingkat nasional dari 66 janji itu masih didalami bahwa tidak semua janji itu telah ditepati secara baik dan benar,” ujarnya.

Natalius menambahkan bahwa berkumpulnya para tokoh dalam diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Gentari (Generasi Cinta Negeri) adalah kepedulan terhadap nasib bangsa. Mereka selama empat tahun ini menyelami penderitaan rakyat. Mereka melihat secara langsung kondisi riil di lapangan dalam empat tahun terakhir dalam pemerintahan Presiden Jokowi.

“Jadi setelah mengevaluasi, mengukur antara perkataan dan perbuatan oleh presiden, janji-janji oleh presiden ternyata tahun yang keempat ini rata-rata tidak menepati janji,” tambahnya.

Dalam catatan Natalius, selain janji pembangunan Papua yang hanya terwujud dua infrastruktur, angka kemiskinan di negara ini juga meningkat. Rasio angka kematian ibu dan anak, jelas Natalius,  juga cukup tinggi. Termasuk kasus kelaparan di Asmat.

“Beberapa waktu lalu kita juga lihat hampir sekian puluhan orang mati di Asmat. Pada saat yang sama lebih dari 40 orang mati di Kabupaten Dogiya di Papua. Di tempat lain juga mengalami hal yang sama. Karena ini jaminan kepastian hidup yang tidak begitu mampu ditepati oleh presiden,” jelasnya.

Berdasarkan fakta tersebut, Natalius mengingatkan  bahwa banyaknya janji yang tak ditepati Jokowi, maka rakyat bisa mencabut mandatnya untuk mendukung Jokowi sebagai Presiden. “Janji-janji yang tidak mampu ditepati presiden maka rakyat Indonesia mencabut kedaulatannya karena kedaulatan itu dimiliki oleh rakyat. Kedaulatan tersebut diberikan oleh presiden pada saat pemilihan. Rakyat kalau merasa janji-janji dan harapannya tidak terpenuhi, rakyat berhak mencabut kedaulatannya tersebut,” pungkas Natalius.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here