Sulitnya Jokowi Mencari Pendamping. Ada Apa Sebenarnya?

0
299

Jakarta, namalonews.com- Hingga kini  calon presiden petahana untuk Pilpres 2019, Jokowi,  belum mendapatkan calon pendamping. Hal itu ditengarai dengan belum diumumkannya cawapres Jokowi.  Itu artinya,  bahwa pada kubu Jokowi dan koalisi pengusungnya belum menemui titik temu di antara tarik ulur berbagai kepentingan  yang ada di dalamnya.

Kondisi itu, dalam pandangan  peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, adalah karena  Presiden Jokowi  masih berada dalam posisi yang rumit menjelang Pilpres 2019. Kerumitan itu, dalam pandangan Adjie adalah seperti berikut.

Pertama, posisi elektoral Jokowi lebih rendah daripada elektoral  Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pada kontestasi politik keduanya.  Pada waktu itu, dalam berbagai survei, elektabilitas SBY pada periode keduanya berada di atas 60 persen.

Sementara itu,  saat ini elektoral  Jokowi masih berada di bawah 50 persen dalam berbagai lembaga survei.

“Sehingga Pak SBY begitu leluasa memilih siapa cawapres di Pilpres 2009. Karena itu, kita surprise saat muncul nama Boediono sebagai pendamping SBY. Sehingga memang poin pertama faktor elektoral membuat situasi siapa cawapres Jokowi makin rumit,” ujarnya di kantor LSI, Jakarta, belum lama ini.

Lebih lanjut Adjie  menuturkan bahwa faktor elektorallah yang  membuat posisi Jokowi  kian sulit. Apalagi, Jokowi di PDIP adalah  petugas partai. Dengan demikian,  kian menyulitkan posisi Jokowi untuk memilih calon pendampingnya.

Sebagaimana diketahui bahwa  calon presiden  dari partai biasanya harus mengikuti keputusan partai yang datang dari ketua umumnya, dalam hal ini Megawati Soekarnoputri.  Atau dengan kata lain, calon presiden dari partai harus mengikuti mekanisme yang diatur oleh partai, baik AD maupun ART-nya.

Di samping itu, Adjie juga menduga bahwa  ada proses diskusi dan perdebatan yang  alot dan panjang  di internal koalisi Jokowi maupun internal PDIP dalam penentuan cawapres.

“Mengapa sampai saat ini nama cawapres belum muncul? Salah satu faktornya adalah soal perdebatan di internal koalisi Pak Jokowi,” kata Adjie.

“Sehingga ini menjadi posisi yang rumit. Akan tetapi, di sisi lain kita lihat, Jokowi diuntungkan beberapa partai yang telah secara resmi mendeklarasikan dukungan ke Pak Jokowi,” tambahnya.

Adjie menilai bahwa dengan tiket atau dukungan dari partai koalisi lainnya,  posisi Jokowi cenderung lebih kuat dan sedikit leluasa dalam menentukan nama cawapresnya daripada  posisi Megawati.

“Kalau kita lihat dari sisi bergaining, saat ini, PDIP tidak punya pilihan yang banyak  untuk memaksakan internal dari PDIP. Karena tadi tiket sudah diraih Jokowi. Jadi, posisi Pak Jokowi lebih kuat dibandingkan posisi Megawati untuk menentukan siapa cawapres Pak Jokowi,” jelas Adjie.

Lanjut Adjie, PDIP tidak bisa memaksa Jokowi untuk menentukan cawapresnya dari internal PDI-P. Sebab,  tambahnya, PDIP tidak memiliki kader hebat, popular, dan mengakar pada rakyat sehingga  mampu mendongkrak elektabilitas Jokowi secara signifikan, di samping mampu  meningkatkan kualitas pemerintahan nantinya.

“Dari nama yang sempat muncul, seperti Puan Maharani. Itu adalah nama yang sebetulnya tidak populer di publik dan secara kualitatif tidak kuat meningkatkan kualitas pemerintahan,” pungkas Adjie.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here