SBY: 100 juta Penduduk Indonesia Miskin. Termasukkah Anda?

0
198

Jakarta, namalonews.com – Berdasarkan proyeksi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2013 jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Jumlah tersebut terdiri atas 133,17 juta jiwa laki-laki dan 131,88 juta jiwa perempuan.

Menurut kelompok umur, penduduk Indonesia yang masih tergolong anak-anak (0-14 tahun) mencapai 70,49 juta jiwa atau sekitar 26,6% dari total populasi. Untuk populasi yang masuk kategori usia produktif (14-64 tahun) 179,13 juta jiwa (67,6%) dan penduduk usia lanjut 65 ke atas sebanyak 85,89 juta jiwa (5,8%).

Dari proyeksi tersebut, jumlah kelahiran pada tahun ini mencapai 4,81 juta jiwa sedangkan jumlah kematian 1,72 juta jiwa. Adapun rasio angka ketergantungan (usia produktif terhadap usia nonproduktif) sebesar 47,9%, lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 48,1% dan juga turun dari posisi 2010 yang mencapai 50,5%.

Adapun jumlah penduduk Indonesia yang miskin mencapai jumlah 100 juta jiwa. Hal itu disampaikan oleh Pesiden ke-6 Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  saat bertemu di kediaman Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Selanjutnya, SBY yang mendukung Prabowo sebagai capres berharap mantan Danjen Kopassus itu bisa mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia apabila nantinya memenangi pemilu.

“Yang paling penting menyangkut ekonomi dan kesejahteraan rakyat adalah penghasilan atau income dan daya beli golongan orang mampu dan golongan orang miskin yang kita sebut dengan the bottom forty, 40 persen kalangan bawah yang jumlahnya sekitar 100 juta orang,” kata SBY usai bertemu di kediaman Ketua Gerindra Prabowo Subianto di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

SBY saat mendatangi kediaman Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto mengaku selama dua jam membicarakan permasalahan yang tengah dihadapi negeri ini diantaranya kemiskinan.

“Apa saja persoalan yang dihadapi rakyat kita. Terutama saudara-saudara kita golongan tidak mampu dan golongan miskin yang jumlahnya mencapai sekitar 100 juta orang,” kata SBY saat jumpa pers usai sepakat koalisi dengan Partai Gerindra, kemarin.

Pernyataan SBY tersebut dibenarkan oleh Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Marwan Cik Asan.  Marwan memastikan bahwa angka yang disebut SBY itu sudah berdasarkan perhitungan yang matang. Lanjut Marwan,  SBY menggunakan data Bank Dunia dalam menentukan batas kemiskinan.

Berdasarkan  perhitungan Bank Dunia, seseorang bisa dikategorikan sebagai orang miskin apabila penghasilannya di bawah 2 dollar Amerika Serkat (AS)  per hari.  Asumsinya adalah  kurs 1 dollar AS sama dengan Rp 13.000. Dengan daar itu,  maka diperoleh angka Rp 26.000 per hari atau Rp 780.000 per kapita per bulan.

“Maka, penduduk miskin Indonesia masih sangat tinggi, yakni diperkirakan mencapai 47 persen atau 120 juta jiwa dari total populasi,” kata Marwan saat dihubungi, Selasa (31/7/2018).

Lebih lanjut, Marwan menyatakan bahwa  SBY tidak menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS).  Kenapa? Menurut Marawan, SBY tidak menggunakan data BPS  karena standar batas kemiskinan yang dipakai terlalu rendah.

Sementara itu,  angka kemiskinan yang dirilis BPS per Maret 2018 sebesar 25,95 juta jiwa. Angka kemiskinan yang mencapai 9,8 persen dari total penduduk itu merupakan yang terendah dalam sejarah Indonesia.

Namun demikian, tambah Marwan, patokan garis kemiskinan yang ditetapkan adalah Rp 401.220 per kapita per bulan. Angka itu setara denganr Rp 13.374 per hari.

“Artinya, jika masyarakat di Indonesia mempunyai  pendapatan di atas dari batas yang ada per Maret 2018, maka tidak tergolong sebagai orang miskin,” pungkas Marwan.

Apakah Anda termasuk orang miskin atau tidak? (sulis sutrisna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here