“Permusuhan” Abadi antara Mega dan SBY Berlanjut Hingga Pilpres 2019

0
194

Jakarta, namalonews.com – Antara  Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ada persamaannya. Persamaannya adalah keduanya pernah menjadi Presiden Indonesia.  Megawati Soekarnoputri pernah menjadi presiden Indonesia dari 23 Juli 2001 – 20 Oktober 2004. Sementara itu,  SBY menjadi presiden Indonesia dari 20 Oktober 2004 – 20 Oktober 2014.

Di samping itu, masih ada lagi kesamaan lainnya. Yakni mereka kini adalah ketua umum partai politik. Megawati adalah Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sedangkan SBY  adalah Ketua Umum Partai Demokrat.

Dalam menghadapi pilpres 2019, mereka mempunyai pandangan politik yang berbeda.  Megawati mengusung Jokowi sebagai capres, sedangkan SBY mengsung Prabowo Subianto.

Karena  berbeda pilihan politiknya itulah, pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Muslim Arbi, menyatakan bahwa  Megawati akan melakukan balasan. Karena, dalam pandangan Muslim,  akan  terjadinya permusuhan lanjutan.

“Permusuhan” Mega dan SBY terjadi ketika SBY sebagai menteri yang membantu Presiden Megawati waktu itu mundur dari anggota kabinet pimpinan putri Soekarno itu. Setelah  mundur dari kabinet Megawati, SBY mncalonkan diri sebagai presiden. Dalam pemilihan presiden waktu itu, Megawati kalah melawan SBY. Lebih-lebih kemudian SBY menjadi presiden selama dua periode, yakni 2004-2009 dan 2009-2014.

Itulah awal mula timbulnya permusuhan antara keduanya.

“Ini persoalan utamanya. Lalu, Mega kelihatannya membalas sakit hatinya atas SBY dan kekalahan PDIP selama 10 tahun itu dengan memanfaatkan Jokowi,” ujarnya.

Menanggapi hasil pilkada Jawa Timur, dalam kaitannya dengn permusuhan antara SBY dan Megawati, Muslim menyatakan  bahwa, sebenarnya tidak ada perang antara SBY dan Jokowi. Karena keduanya, tambah Muslim, malah bersekutu dan berhasil membuat   Khofifah menang.

“Pada Pilpres 2019 ini, pertarungan itu makin seru lagi dengan framming koalisi antara SBY dengan Prabowo sebagai pionnya lawan Mega dan gank nya Jokowi sebagai pionnya,” paparnya.

Lebih lanjut, Muslim menuturkan bahwa  jika Jokowi mau cari aman maka menit terakhir pendaftaran peserta Pilpres 2019 bisa merapat ke SBY. Apalagi, tambah Muslim,  jika kans SBY lebih kuat dan bakal menang calonnya maka bisa saja Jokowi menyerah pada SBY dan meninggalkan Mega. Hal ini dapat terlihat dari dahsyatnya gerakan tagar #2019GantiPresiden 2019.

Fenomena #2019GantiPresiden ini pasti akan jadi kalkulasi cermat dari SBY maupun Mega di Pilpres 2019.

“Dan ini bisa membuat Mega dan PDIP hancur seperti gambaran pada pilkada lalu. Selain itu, jangan sampai posisi tawar ulama dan umat pada Ijtima Ulama dimanfaatkan oleh SBY saja. Apalagi kecenderungan Jokowi dan Mega yang terkesan lindungi Ahok pada kasus penistaan agama sehingga membuat ulama dan umat makin solid untuk menghadapi isu-isu nasional pada Pilpres 2019. Ulama dan Umat jangan sampai hanya menjadi alat untuk mendorong dan perkuat SBY dalam pertempuran ini. Ulama dan umat harus punya posisi tawar yang kuat,” jelasnya.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here