Ustaz Somad Muncul di Bursa Cawapres, Begini Tanggapan Ali Ngabalin

0
133

Jakarta, namalonews.com – Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jusfri dan Ustaz Abdul Somad masuk ke dalam dua nama calon wakil presiden terbaik pendamping Prabowo Subianto rekomendasi Forum Ijtima Ulama.

Nama terakhir, Ustaz Abdul Somad, justru menjadi sorotan sebab tengah naik daun. Hampir setiap hari, Ustaz Abdul Somad selalu mengisi acara-acara tausiyah, ceramah-ceramah keagamaan yang didatangi oleh ribuan bahkan puluhan ribu jemaah.

Tak heran jika sejumlah pihak menyebut Ustaz Abdul Somad sebagai jawaban atas kerinduan umat Islam terhadap figur yang berasal dari kalangan Islam yang lalu menjadi pemimpin negara.

Kabar munculnya nama Ustaz Abdul Somad juga sudah sampai ke Istana Negara. Dalam hal ini ialah Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin. Salah satu politikus Partai Golkar tersebut lantas memberikan komentar.

“Beliau ingin konsentrasi sebagai pendakwah,” ujar Ngabalin, Rabu, 1 Agustus 2018.

Menurut Ngabalin, Jokowi sendiri telah memberikan apresiasi kepada Prabowo yang direkomendasikan Forum Ijtima Ulama sebagai capres. Akan tetapi, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut belum memberi tanggapan atas munculnya nama Ustaz Abdul Somad.

“Ya syukur alhamdulillah kalau ulama telah memilih bapak Prabowo sebagai capres, beliau memberikan apresiasi,” kata Ngabalin.

“Belum ada, yang saya tahu Ustaz Somad tidak bersedia,” kata Ngabalin ketika ditanyakan reaksi Jokowi mengenai Ustaz Abdul Somad.

Walau demikian, Ngabalin menyampaikan bahwa Jokowi tetap mengimbau kepada semua pihak untuk mengedepankan komunikasi yang santun serta beradab di tengah dinamika politik yang berlangsung. Tak boleh saling gontok-gontokan.

Dalam acara Prime Talk yang ditayangkan oleh MetroTV pada Rabu (1/8/2018), Ali Ngabalin juga mengatakan jika hasil pertemuan antara para Sekretaris Jenderal (Sekjen) partai koalisi serta Joko Widodo (Jokowi) menghasilkan pembahasan-pembahasan teknis mengenai pemenangan sang petahana.

Selain itu, Ali Ngabalin juga mengungkapkan bahwa ulama seharusnya mewakili suara umat. Dengan begitu, seharusnya menyodorkan kriteria, bukan nama (capres atau cawapres).

“Sebetulnya, perkumpulan ulama Ijtima Ulama itu menyodorkan beberapa persyaratan-persyaratan, amanah, tabligh, siddiq dan lain-lain,” kata Ngabalin.

“Hampir tidak pernah kita temukan hasil Ijtima Ulama itu menyodorkan nama. Itu bisa diragukan, itu bisa dipertanyakan kualifikasi, kualitas kumpulnya teman-teman (ulama) itu,” tambah Ngabalin.

“Tapi ini kan muncul nama, makanya saya bilang jangan membawa nama ulama dalam politik praktis. Tapi ini saya laporkan kepada bapak presiden, ya Alhamdulillah, selamat demokrasi kita telah tumbuh,” pungkasnya.

Sementara itu, Burhanudin Muhtadi dari Indikator Politik Indonesia menyampaikan bahwa hawa politik Indonesia sekarang ini sangat dipengaruhi oleh Pilkada DKI Jakarta 2017 kemarin. Hal tersebut tampak dari menguatnya beberapa tokoh berbasis agama.

Menurut Burhan, pekerjaan rumah (pr) untuk dua kubu nantinya ialah mencari cawapres yang bisa diterima oleh seluruh kalangan, tak terkecuali bisa menangkal politik identitas.

Di sisi lain, dalam acara Apa Kabar Indonesia yang disiarkan oleh tvOne, Sabtu (28/7/2018) Ketua DPP Gerindra Sodik Mudjahid yang ikut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan jika sekarang ini semangat GNPF tak lagi karena pelecehan agama, akan tetapi semangat persatuan antara kaum agamis serta nasionalis, sampai semangat perubahan.

Sodik menuturkan bahwa ulama yang hadir cukup represntatif, baik dari ulama 212 maupun organisasi masyarakat lainnya.

“Walaupun tidak 100 persen seluruh ulama yang ada di Indonesia, tetapi oleh ulama yang disimbolkan oleh 212 itu terwakili,” kata Sodik. (disadur dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here