Saran Mantan Ketua Muhammadiyah untuk Cawapres Jokowi

0
328

Jakarta, namalonews.com – Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga ini masih sepi. Kantor yang berada Jalan Imam Bonjol No.29, Menteng, Jakarta Pusat itu sepi dari pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk pemilihan umum presiden (pilpres) 2019.

Hingga hari ini, Ahad,  5 Juli 2018, belum ada pasangan calon presiden dan wakil presiden yang didaftarkan oleh koalisi partai politik peserta pemilu  ke KPU, baik dari pasangan calon presiden petahana, Jokowi, maupun  dari calon penantangnya, Prabowo Subianto.

Memang, pendaftaran  pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk pilpres 2019 baru dibuka kemarin, Sabtu, 4 Agustus 2018. Pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden baru akan ditutup beberapa hari lagi, yakni Jumat,  10 Agustus 2018 pada pukul 00.00.

Belum adanya pendaftaran pasangan calon (psalon) presiden dan wakil presiden itu  layak diduga karena strategi politik, belum ditemukannya kecocokan calon wakil presiden dengan calon presiden, tarik ulur berbagai kepentingan partai  anggota koalisi pendukung paslon, atau pertimbangan yang lain.

Sebagai calon petahana, Jokowi pun hingga kini belum mengumumkan nama pendampingnya untuk maju pada pilpres 2019.

Itulah sebabnya, Jokowi menerima banyak masukan  dan saran dari berbagi pihak terkait dengan calon wakil presiden yang akan mendampinginya, untuk periode kedua, 2019-2024.

Salah satu saran dari pembantu Jokwi di bidang keagamaan, yakni Muhammad Sirajuddin Syamsuddin  atau nama populernya adalah Din Syamsuddin. Din Syamsudin oleh Jokowi diberi tugas  sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban.

Presiden Jokowi menugaskan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu untuk mengembangkan dialog sekaligus kerja sama antaragama, baik di dalam maupun luar negeri.

“Mengembangkan dialog dan kerja sama antarperadaban dengan mempromosikan kebudayaan dan kehidupan Indonesia yang berdasarkan Pancasila,” ujar Jokowi waktu  pelantikan Din di  Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/10/2017)

Mantan Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015, itu  menyarankan kepada petahana Presiden Joko Widodo agar  memilih calon wakil presiden dari kalangan Islam.

“Saya berpikir dan berharap cawapres yang dipilih itu dari kalangan tokoh Islam,” kata Din di Jakarta Selatan, Sabtu (4/8/2018).

Din mempunyai alasan mengapa menyarankan Jokowi untuk memilih cawapres  yang berasal dari tokoh Islam. Menurutnya,  adalah suatu fakta bahwa akhir-akhir ini Islam  di Indonesia  menglami kebangkitan politik.

Hal itu terlihat dari  pascaaksi besar 411 dan 212. Pasca aksi tersebut muncullah  identitas politik keislaman di Indonesia. Kemudian, tampillah  identitas politik keislaman yang kental.

Lebih-lebih, sambung Din, akomodasi kepentingan politik umat Islam di arena nasional posisinya tidak proporsional. Maka, hal ini akan menciptakan tidak seimbangnya ketahanan sosial politik di Indonesia.

“Tetapi syaratnya (untuk cawapres Jokowi) adalah tokoh Islam yang memiliki pandangan kemajemukan Islam yang pluraslis dan bisa mengayomi dan melindungi umat-umat agama lain selain Islam,” sarannya.

Penulis : Sulis Sutrisna

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here