Demokrat Bakal Tinggalkan Poros Gerindra di Pilpres 2019

0
111
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Komisi Pemilihan Umum telah diketahui bahwa sudah menetapkan mengenai waktu pendaftaran untuk Pilpres 2019 yang akan datang, yakni 4-10 Agustus.

Wasekjen Partai Demokrat (PD) yang bernama Andi Arief berang terhadap sikap Ketua Umum Prabowo Subianto soal Pilpres 2019. Andi Arief mengatakan besar kemungkinan Demokrat akan meninggalkan Prabowo.

Mengenai hal tersebut, kekuatan koalisi parpol pengusung Prabowo Subianto di Pilpres 2019 yang akan datang sudah terancam berkurang. Partai Demokrat kemungkinan juga akan meninggalkan poros Gerindra dalam Pemilu Presiden 2019 yang akan datang.

Pada saat dihubungi, Rabu malam, (8/8/2018), Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief mengatakan jika, Partai Demokrat akan meninggalkan poros Gerindra dalam Pemilu Presiden 2019 tersebut.

“Besar kemungkinan kami akan tinggalkan koalisi kardus ini. Lebih baik kami konsentrasi pada pencalegan ketimbang masuk lumpur politik PAN, PKS, dan Gerindra,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief.

Keluarnya Partai Demokrat disebut sebut karena Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono ( AHY) terpental dari bursa Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto.

Terpentalnya Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), terlebih dikabarkan karena Wakil gubernur Jakarta Sandiaga Uno juga memberikan mahar kepada PAN dan PKS masing-masing sebesar Rp 500 miliar.

“Bahwa di luar dugaan kami ternyata Prabowo mementingkan uang ketimbang jalan perjuangan yang benar. Sandi uno yang sanggup membayar PAN dan PKS masing-masing 500 M menjadi pilihannya untuk cawapres. benar-benar jenderal di luar dugaan,” katanya.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Andi Arief, dengan sikap Prabowo Subianto dalam menentukan cawapresnya tersebut, Partai Demokrat merasa tidak cocok. Menetukan calon pemimpin melalui uang menurutnya bukan merupakan kultur dari Partai Demokrat.

“Ini bukan DNA Kami,” pungkasnya.

Andi menjelaskan jika Partai Demokrat akan berfokus pada pemilihan tingkat legislatif. Dia menyebut Demokrat tak ingin terjebak di koalisi yang disebutnya koalisi lumpur. Andi belum berbicara detail soal perkara yang membuatnya marah pada Prabowo. Diduga karena duet Prabowo-Sandiaga menguat.

Sebelumnya Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 30 Juli lalu. Dan dalam pertemuan ke dua antara Prabowo dan SBY pada 30 Juli lalu, Demokrat dan Gerindra telah sepakat akan menjalin koalisi. Bahkan usai pertemuan keduanya itu, Susilo Bambang Yudhoyono  telah sepakat untuk mengusung Prabowo Subianto untuk maju sebagai Capres 2019 yang akan datang.

Di dalam pertemuan yang dilakukan tersebut, Prabowo Subianto juga telah mengungkap visi dan misi koalisi yang telah dibangun dengan Demokrat yaitu”mengutamakan rakyat”.

Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menekankan jika mereka berfokus pada “saudara kita yang tidak mampu, masuk golongan miskin, yang mana jumlahnya 100 juta orang”.

Susilo Bambang Yudhoyono  mengulangi bahwa meski koalisinya dengan Prabowo Subianto tidak melupakan pentingnya kebebasan dan nilai demokrasi, penegakan hukum, dan hubungan internasional, “namun dari semuanya itu yang kita utamakan rakyat dulu, bukan yang serba benda, bukan yang material, manusianya.”

Ucapan Susilo Bambang Yudhoyono  yang mengungkit masalah ekonomi sesuai dengan prediksi Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting, Djayadi Hanan.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting, Djayadi Hanan menjelaskan jika peluang dari penantang, dalam hal ini Prabowo, akan bertambah jika kinerja pemerintah menurun dan persepsi masyarakat semakin negatif.

Menurutnya ini mungkin saja terjadi karena salah satu faktor terbesar yang memengaruhi evaluasi masyarakat terhadap pemerintah yaitu berupa situasi ekonomi. (Agus Yanto/Viwi Yusya/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here