Mahfud M.D. Dua Kali Menjadi Korban PHP, Kali ini dari Jokowi

0
81
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Kini, pada gelaran pilpres 2019, Mahfud MD menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu) untuk yang kedua kalinya. Mahfud menjadi korban  PHP untuk yang   pertama kali adalah terjadi  pada gelaran  pilpres 2014.

Awal kejadiannya dimulai ketika  terjadi hubungan mesra antara Mahfud dengan PKB pada jelang pilpres 2014.  Ketika itu namanya pernah dijagokan oleh PKB untuk menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2014. Mahfud kala itu berharap jadi cawapres Jokowi.

“Ya berharaplah,” ujar Mahfud menjawab pertanyaan wartawan soal dukungan PKB terhadap pencawapresannya terhadap Jokowi, pada 7 Mei 2014.

Namun PKB pada akhirnya tidak mendukung Mahfud di Pilpres 2014. Akan tetapi, PKB justru  beralih mendukung Jusuf Kalla (JK) sebagai cawapres Jokowi.

Karena gagal menjadi cawapres Jokowi, Mahfud pun menyeberang ke kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Pada kubu Prabowo Subianto-Hata Rajasa, Mahfud menjadi ketua tim sukses (timses). Otomatis, Mahfud berada di seberang kepentingan politik dari PKB dan koalisi Jokowi-JK saat itu.

Pasca kekalahan Prabowo-Hatta, Mahfud memutuskan untuk mendukung Jokowi. Pada kubu Jokowi Mahfud menjabat sebagai anggota dewan pengarah BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila).

Pada gelaran pilpres 2019 kali ini Mahfud kembali menjadi korban PHP untuk yang kedua kalinya. Kejadiannya bermula ketika hingga menit-menit terakhir pengumuman calon wakil presiden Jokowi diumumkan, nama Mahfud masih menguat sebagai bakal calon wakil presiden Jokowi.

Ketika itu Mahfud masih muncul  sebagai kandidat paling kuat calon wakil presiden Jokowi. Pada saat-saat terakhir ketika Jokowi akan mengumumkan bakal calon wakil  presidennya, justru  prosesnya terbilang mengejutkan. Mahfud yang sebelumnya diprediksi akan diumumkan oleh Jokowi sebagai calon pendampingnya, tiba-tiba ia laksana  disalip di tikungan terakhir.

Padahal, pada hari Kamis (9/8/2018) kemarin, Mahfud sudah mulai menyiapkan berkas kelengkapan untuk menjadi pejabat negara. Ia pun mengajukan surat keterangan tidak pernah menjadi terpidana di Pengadilan Negeri Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bahkan, sebuah sumber menyatakan bahwa Mahfud juga sudah menyerahkan riwayat hidup kepada Jokowi, serta membuat SKCK, dan surat keterangan sehat.

Lebih daripada itu, malahan,  mantan Rektor  UII (Universitas Islam Indonesia), Yogyakarta,  ini sudah diminta untuk mengukur seragam yang bakal dikenakannya saat proses pendaftaran capres dan cawapres di KPU, Jumat (10/8/2018).

Di samping itu,  Mahfud juga sudah mendapatkan susunan acara pengumuman cawapres dan pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU.

Atas sejumlah indikasi dan informasi di media itu, Warganet pun menyuarakan #JokowiMahfud2019.

Akan tetapi, pada akhirnya pada Kamis sore (10/8/2018), Jokowi bersama para ketua umum koalisi  partai politik peserta pemilu dan sekretaris jenderalnya  berkumpul di Restoran Plataran, Jakarta.  Di tempat itulah Jokowi  mengumumkan cawapresnya.

Mahfud    mengenakan kemeja putih celana hitam berada di Restoran Tesate yang berada di seberang Restoran  Plataran.  Bersama sejumlah orang, dia berada di restoran itu selama hampir satu jam.

Berdasarkan informasi, Mahfud bakal mendeklarasikan dirinya sebagai cawapres pada pukul 18.00 WIB. Sementara itu, menurut informasi  bahwa deklarasi itu akan dilakukan di Tugu Proklamasi, Jakarta.

Di Restoran Plataran,  Jokowi bersama elite partai politik peserta pemilu yang mendukungnya mengadakan  rapat tertutup. Akhirnya, rapat  itu pun berakhir. Sebelum konferensi pers pengumuman cawapres oleh Jokowi, Sekjen PKB, Abdul Kadir Karding, memberikan  bocoran. Bocorannya yaitu bahwa cawapres untuk Jokowi adalah Ma’ruf Amin.

Atas keputusan yang mendadak itu, kemudian seorang menteri Jokowi   memberitahukan keputusan yang tiba-tiba itu. Sesaat  kemudian, Mahfud meninggalkan  restoran itu dan menuju kantornya di Kramat VI, Jakarta Pusat untuk mengadakan rapat secara tertutup.

Sementara itu, dalam konferensi persnya, Jokowi mengumumkan bahwa Ma’ruf Amin yang merupakan Rais Aam Nahdlatul Ulama sekaligus juga ketua Majelis Ulama Indonesia itu  sebagai cawapresnya untuk Pilpres 2019.

Kemudian, Jokowi memanggil Mahfud ke Istana Negara.  Di Istana Negara, Mahfud justru  menyampaikan pesan agar Jokowi tidak perlu merasa bersalah. Sebab, menurut Mahud, ada keadaan yang berisiko.

Itulah untuk yang kedua kalinya mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu kena PHP.

Baca juga : Mahfud MD Ungkap Alasan Mengapa Partai Demokrat Merapat ke Gerindra

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here