Menakar Poros Ketiga di Luar Joko Widodo dan Prabowo Subianto

0
32
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Masa pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden di Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah akan segera berakhir.

Sampai hari ini, Rabu (8/8/2018), dipastikan belum ada satu pun pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang mendaftar ke KPU.

Koalisi sembilan parpol pengusung capres petahana Joko Widodo masih pada strateginya. Mereka mengaku sudah solid menyimpan nama cawapres pendamping Jokowi hingga waktu yang tepat jelang pendaftaran ke KPU.

Pramono Anung  selaku Politikus PDIP menyebutkan akan ada satu parpol lagi yang akan memberikan dukungannya kepada Jokowi sebelum hari terakhir pendaftaran capres-cawapres ke KPU.

Sementara, koalisi parpol pengusun capres Prabowo Subianto masih belum solid lantaran belum ada kesepakatan soal nama cawapres pendamping Prabowo

. Sejauh ini baru Partai Demokrat yang menyatakan berkoalisi dengan Partai Gerindra untuk mengusung capres Prabowo Subianto.

Koalisi kedua partai tersebut cukuk suara untuk mendafaftarkan Prabowo dan cawapresnya sebagai peserta Pilpres 2019. Catatan formal dari Demokrat, nama cawapres diserahkan kepada Prabowo selaku capresnya.

Sementara, dua parpol yang sejak lama berkoalisi dengan Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih tarik-ulur soal nama cawapres pendamping Prabowo.

Kedua partai tersebut masih belum menginginkan agar nama cawapres usulan mereka yang dipilih sebagai pendamping Prabowo.

Lantas, opsi poros ketiga diucapkan oleh Presiden PKS, Sohibul Iman. Menurutnya, masih terbuka peluang koalisi poros ketiga apabila PKB, PAN dan PKS dapat bergabung mengusung satu lagi pasangan calon.

Itupun dapat terlaksana jika PKB kecewa dengan pilihan cawapres yang akan disampaikan oleh Jokowi. Dan hal tersebut telah diugkapkannya kemarin, hari Selasa (7/8).

Menurutnya, komunikasi masih terus berjalan dengan seluruh partai tersebut. Namun, pihaknya tetap menginginkan kadernya, terutama Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri sebagai cawapres pendamping Prabowo Subianto sebagaimana rekomendasi ijtima’ Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

Ketua DPP Gerindra, yakin jika PKS dan PAN tidak akan hengkang dari koalisi.

Meski begitu, masih ada kemungkinan untuk melakukan rapat pleno DPP dalam satu hari untuk memutuskan sikap partai.

Sekjen PKB juga meminta kepada masyarakat untuk tidak meragukan pilihan partai yang telah bersepakat dalam mengusung Jokowi menjadi capres.

Pengamat politik Boni Hargens menilai akan ada kekecewaan di dalam parpol apabila ketua umumnya tidak terpilih oleh Jokowi. Terlebih, kepada ketua umum yang masih terus mengusahakan diri agar terpilih menjadi calon RI 2.

Dia juga menjelaskan”Akan ada yang kecewa itu pasti. Soalnya, Pak Jokowi sudah tidak akan memilih pendamping dari ketua umum partai. Kemungkinan untuk pindah juga masih sangat memungkinkan.

Berpindah yaitu mengajak partai lain untuk berkoalisi membentuk poros baru, atau berkoalisi dengan kubu yang sudah ada.

KPU RI memungkinkan bagi pasangan calon yang belum mendaftar pada 4-10 Agustus 2018, maka masa pendaftaran peserta pilpres akan diperpanjang dalam 2×7 hari secara bertahap.

Jika dalam masa perpanjangan tersebut tak ada yang mendaftar lagi, lanjut Arief, satu paslon yang sudah mendaftar akan melawan kotak kosong. Mekanisme tersebut juga berlaku jika ke depannya hanya ada satu paslon yang dinyatakan memenuhi syarat.

Aturan mengenai mekanisme perpanjangan periode pendaftaran capres-cawapres ini tertuang dalam Peraturan KPU (PKPU) Nomor 22 Tahun 2018 mengenai perpanjangan waktu pendaftaran.

Sekjen NasDem, Johnny G Plate mengatakan perpanjangan waktu tersebut akan masuk ke dalam diskusi koalisi mereka. Pasalnya, KPU telah memberikan ruang tersebut.

Tapi, dia mengatakan koalisi Jokowi sudah solid dan segera memberikan berkas dukungan sebagaimana yang diharuskan oleh KPU pada waktu dekat ini.

(Dikutip dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here