MUI Sebut Agenda Ijtima Para Ulama Disponsori oleh Parpol

0
314
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Masduki Baidlowi selaku Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, menyampaikan bahwa terdapat dugaan agenda ijtimak atau pertemuan para ulama yang diselenggarakan oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama disponsori oleh partai politik.

Hal tersebut disampaikan oleh Masduki ketika menjadi pembicara dalam acara diskusi yang diselenggarakan oleh Wahid Foundation pada hari Rabu, 8 Agustus 2018.

“Saya kira itu bukan ijtima ulama, karena itu disponsori oleh parpol”, jelas Masduki Baidlowi.

Seperti yang diketahui, dari ijtima para ulama dan sejumlah tokoh nasional yang berlangsung antara tanggal 27 sampai dengan 29 Juli itu menghasilkan suatu keputusan berupa dua nama yang direkomendasikan sebagai cawapres pasangan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Parta Gerindra. Dua nama yang menjadi rekomendasi ijtima ulama dan tokoh nasional tersebut adalah Ustadz Abdul Somad serta Habib Salim Segaf Al Jufri.

Dalam penyampaian tersebut, Masduki enggan menyebutkan partai politik mana yang disebutnya telah menjadi sponsor pelaksanaan agenda pertemuan tersebut.

Masduki menilai bahwa agenda ijtima para ulama telah tersubordinasi pada kepentingan politik praktis yang dikendalikan oleh partai politik guna meraih kemenangan di Pemilihan Presiden tahun 2019 mendatang.

“Makanya, ijtima ulama itu tersubordinasi pada sebuah kepentingan politik praktis”, jelas Masduki.

Masduki beranggapan bahwa seharusnya, para ulama tidak digunakan sebagai alat kepentingan politik praktis bagi partai politik tertentu dengan tujuan untuk meraih kemenangan dalam Pilpres nanti.

Seseorang yang telah menyandang status sebagai ulama, menurut Masduki seharusnya bisa berperan dalam melindungi dan membela masyarakat secara keseluruhan, tanpa membeda-bedakan latar belakang politik dan identitasnya.

“Padahal ulama itu adalah cendekiawan, yang harusnya bicara tentang perlindungan terhadap rakyat semuanya”, terang Masduki.

Sebagai informasi, ijtima ulama yang dilaksanakan oleh GNPF Ulama tersebut, mengundang lima partai politik yaitu Partai Gerindra, PAN, PKS, PBB, dan Partai Berkarya. Hasil dari ijtima para ulama tersebut merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres dengan dua opsi cawapres yang akan menjadi pasangannya.

Sohibul Iman sendiri yang merupakan Presiden PKS menegaskan bahwa pihak partainya akan mengambil sikap yang tegas di Pemilihan Presiden 2019, yakni dengan tetap berpegang pada hasil ijtima ulama yang merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai capres dan Salim Segaf Al Jufri atau Ustadz Abdul Somad sebagai cawapres pendamping Prabowo.

“Kami setuju dan kawal hasil rekomendasi ijtima ulama, yang menetapkan dua paslon capres dan cawapres 2019”, terang Sohibul setelah selesai menghadiri musyawarah majelis syuro PKS di Kantor DPP PKS, Jakarta, pada hari Selasa, 7 Agustus 2018 kemarin.

Salah satu hasil dari musyawarah majelis syuro juga mengaskan bahwa Habib Salim Segaf yang merupakan Ketua Majelis Syuro PKS tersebut, tidak akan mundur dari posisi calon wakil presiden PKS. Sohibul mengatakan bahwa hal tersebut merupakan mandat, sehingga tidak bisa dipungkiri.

“Karena ini sudah keputusan institusi, maka tidak ada tempatnya Salim Segaf mundur. Karena dia sudah dapat mandat”, tegas Presiden PKS tersebut.

Pihak PKS juga menegaskan bahwasanya partainya akan tetap kukuh untuk mengedepankan apa yang sudah menjadi hasil rekomendasi para ulama yang memunculkan nama Salim Segaf dan Ustadz Abdul Somad. Sohibul mengatakan bahwa keduanya merupakan keputusan dari institusi sehingga akan terus didukung oleh PKS.

“Kami dukung dua-duanya, siapa pun itu, masuk dalam koridor. Tapi, untuk mundur bukan konteksnya, ini keputusan institusi”, tutup Sohibul.

(Dikutip dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here