Membela Kadernya, Akbar Tandjung Minta Airlangga Mundur sebagai Menteri Setelah Mahfud MD di-PHP Jokowi

0
379
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Adalah politisi senior Partai Golkar, Akbar Tandjung. Ia angkat bicara terkait dengan gagalnya, Mahfud M.D. sebagai cawapres Jokowi. Mahfud adalah kolega Akbar Tandjung.

Mahfud urung menjadi pendamping capres Jokowi setelah ditetapkannya Ma’ruf Amin sebagai bakal cawapres Jokowi. Prosesnya  naiknya Ma’ruf sebagai bakal cawapres Jokowi pun terbilang mengejutkan.

Kenapa dikatakan mengejutkan? Mengejutkan karena Mahfud ibarat lari yang kemudian  disalip di tikungan terakhir. Pada saat segala sesuatunya sudah disiapkan  untuk mengikuti acara deklarasi capres-cawapres  petahana sesuai dengan jadwal yang telah disusun, ternyata Mahfud urung menjadi cawapres Jokowi. Di situlah Mahfud terkena PHP.

Atas kegagalan Mahfud yang sedari awal hingga detik-detik terakhir digadang-gadang sebagai bakal cawapres Jokowi, sejumlah tokoh memberi komentar. Salah satunya adalah Akbar Tandjung. Memang, antara Akbar dan Mahfud adalah kolega yang sama-sama duduk di KAHMI (Korps Himpunan Mahasiswa Islam).

Dalam pengakuannya, Akbar mengaku kecewa atas gagalnya Mahfud bersanding dengan Jokowi untuk pilpres 2019.  Itulah sebabnya, Akbar khawatir Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto, tidak bisa memenuhi target untuk meningkatkan kursi Golkar di parlemen, Sabtu (11/8/2018).

Hal itu disebabkan oleh serentaknya pelaksanaan pemilihan umum presiden (pilpres) dan pemilihan umum legislatif (pileg) pada 17 April2019.

“Panja RUU Pemilu DPR dan pemerintah, setelah berkoordinasi dengan KPU dan Bawaslu, menyepakati Pemilu 2019 akan dilaksanakan hari Rabu, 17 April 2019,” ujar Ketua Panja RUU Penyelenggaraan Pemilu Lukman Edy kepada wartawan, Selasa (25/4/2017)

Akbar lebih lanjut menjelaskan bahwa Airlangga perlu memilih antara menjadi menteri perindustrian atau Ketua Umum Partai Golkar.

“Jika dia (Airlangga Hartarto, red) memilih menjadi menteri, berarti konsekuensinya ia harus menyerahkan wewenang kepada seseorang yang bisa mengurus partai untuk bisa meraih dukungan yang tinggi. Tidak mungkin dua-duanya akan dipimpin,” jelas Akbar.

Dalam menghadapi pileg dan pilpres yang serentak tersebut, Akbar memberikan saran kepada Airlangga agar lebih fokus mengurus partai. Jika perlu, tambah Akbar, Airlangga  belusukan ke daerah-daerah agar perolehan  suara Partai Golkar meningkat.

“Atau mungkin sebaliknya, dia full mengurus partai, bilamana perlu dia pergi ke daerah-daerah untuk menjamin meningkatnya perolehan suara partai,” ucap mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di era awal reformasi ini.

Sebagaimana diketahui bahwa capres petahana, Jokowi telah mengumumkan cawapres pendampingnya di Pilpres 2019. Jokowi mengumumkan hal tersebut pada Kamis (9/8/2018), satu hari menjelang penutupan pendaftaran bakal Capres dan Cawapres di Komisi Pemilihan Umum (KPU), di Restoran Plataran, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Secara terpisah, Mahfud merasa tidak kecewa karena namanya dicoret di detik-detik akhir. Hanya saja, dia mengaku sangat terkejut atas apa yang dialaminya.

“Saya tidak kecewa ya, kaget saja karena sudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail,” ucap mantan Ketua MK ini kepada wartawan, Kamis (9/8/2018).

“Ya, menurut saya, itu sudah pilihan Pak Jokowi. Sesuai dengan wewenangnya, dengan pertimbangan-pertimbangan politik yang matang sesuai dengan konfigurasinya.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here