Ekonomi Indonesia Terguncang Jelang Proses Pencapresan, Bagaimana Peran Taipan Istana?

0
182
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Jelang pencapresan hingga kini ekonomi Indonesia masih dalam kondisi sudah ‘lampu kuning setengah merah’. Hal itu antara lain ditandai oleh terjadinya defisit transaksi berjalan, neraca pembayaran negatif, sektor riil mandeg, menurunnya cadangan devisa, dan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.

Selama pemerintahan Presiden Jokowi-JK, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sesuai  dengan harapan. Padahal, pada saat kampanye capres-cawapres 2014, rakyat Indonesia  dijanjikan oleh Capres Jokowi kesejahteraan dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen. Namun, implementasinya hanya dikisaran 5 persen.

Kegagalan mewujudkan capaian ekonomi tersebut menjadi senjata bagi kubu oposisi. Kali ini Jokowi sedang dirundung malang. Menjelang pencapresan dirinya untuk dua periode, situasi ekonomi Indonesia tidak terkendali. Indikasi di antaranya nilai tukar rupiah semakin terpukul terhadap dollar Amerika Serikat, defisit transaksi berjalan makin lebar. Bahkan,  cadangan devisa pun mengalami penurunan.

Atas kondisi ekonomi Indonesia seperti itu, pada Kamis (26/7/2018) Jokowi mengundang setidaknya 40 taipan ke Istana Negara, Bogor, Jawa Barat. Berlangsung hampir dua setengah jam, Presiden Jokowi mengajak para taipan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jika hal itu berhasil dilakukan, setidaknya taipan telah menyelamatkan Jokowi atas guncangan ekonomi nasional pada saat tahun politik.

Beberapa poin penting yang jadi bahan diskusi antara pengusaha dan pemerintah di antaranya adalah masalah kebijakan ekspor dan hambatan investasi serta keinginan pemerintah agar taipan membawa valas mereka masuk ke Tanah Air. Dalam hitungan pemerintah masih ada 15 persen valas para taipan itu tersimpan di luar negeri.

Atas kondisi ekonomi Indonesia seperti itu, menurut pengamat Ekonomi Politik, Salamuddin Daeng, tidaklah mengherankan jika kemudian Jokowi mengundang dan bertemu dengan para taipan.

Dukungan para taipan untuk membawa kekayaannya ke dalam negeri, jelas Daeng, akan sangat membantu meningkatkan cadangan devisa dan penguatan nilai tukar rupiah. Apabila nilai rupiah terhadap dollar AS dapat membaik, pemerintah akan sangat terbantu dari aspek pembayaran bunga utang dalam bentuk dollar AS.

“Presiden cukup beralasan mengingat banyaknya uang para taipan yang ditabung di luar negeri, hasil berbagai kegiatan ekonomi di Indonesia. Presiden tampaknya mengacu kepada data tax amnesty bahwa setidaknya ada Rp10 ribu triliun dana orang kaya Indonesia tersimpan di luar negeri,” lanjut Daeng.

Bagi para taipan, mereka tidak begitu saja bersedia membantu pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi Indonesia tanpa  timbal balik, yang berupa mendapatkan  keuntungan. Kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sulit justru bisa dijadikan sebagai alat tawar bagi taipan kepada Jokowi.

Hasil pertemuan di Istana Negara tersebut antara lain adalah bahwa para taipan meminta agar peran bisnis mereka dibuka lebar. Pemerintah pun mengamini. Salah satunya adalah   rencana pencabutan kewajiban DMO batubara (Domestic Market Obligation- penjualan batubara untuk kepentingan dalam negeri.

Namun, kemudian pemerintah membatalakan rencana pencabutan kewajiban DMO batubara. Hal itu yakni  kenaikan tarif dasar listrik akibat ketidakpastian energi primer untuk Pembangkit Listrik.

Di samping itu, hasil lain dari pertemuan  para taipan dan presiden Jokowi terebut adalah upaya pengurangan impor BBM. Caranya adalah dengan menggenjot biodisel yang akan menyerap minyak kelapa sawit.

Empat puluhan taipan yang diundang ke Istana Negara tersebut, kemudian disebut sebagai Konglomerat Istana. Mereka itu di antaranya pemilik Grup Djarum-R. Budi Hartono, bos Grup Indofood-Anthoni Salim, pemilik  Grup Rajawali-Peter Sondakh, bos Grup Wings- Eddy Katuari, pemilik Grup Medco-Arifin Panigoro, CEO Sritex-Iwan Lukminto, Presiden Direktur Adaro Energy-Garibaldi Thohir, Sudhamek dan beberapa pengusaha perkebunan kelapa sawit. Sederet nama tersebut bertengger mengisi daftar 50 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes tahun 2017.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here