PDIP Menjamin SBY Vs JK Pada Pilpres 2019 Bakalan Seru

0
47
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Pada Pilpres 2019 nanti, ada Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY versus Jk Jusuf Kalla. Keduanya merupakan penasihat tim pemenangan masing-masing capres. PDIP juga menjamin bahwa persaingan ini bakalan seru.

Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menjelaskan bahwa kita akan disuguhkan sebuah kontestasi yang menarik, seru namun penuh persahabatan.

Seperti yang diketahui bahwa JK akan menjadi Ketua Dewan Penasihat Tim Pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Sedangkan SBY sendiri juga akan menjadi Penasihat Tim Pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno. Padahal kita tahu bahwa pada periode 2004-2009 lalu, SBY-JK merupakan pasangan Presiden dan juga Wakil Presiden Indonesia.

Hendrawan menuturkan bahwa hal ini patut kita syukuri. Sebab, bila memang benar demikian, maka kita bisa menyaksikan kontestasi antar sahabat. Karena Pak SBY dan juga Pak JK pernah menjadi Presiden dan Wapres.

Tentu ini bukan sekedar perang bintang, akan tetapi demokrasi silaturahmi. Keduanya adalah figur pemimpin yang dihormati banyak orang, termasuk juga oleh PDIP. Meski memang ada perbedaan antara SBY dan JK yang dinilai oleh Hendrawan.

Ini dia kata Hendrawan, “Pak JK itu berorientasi pada solusi, sedangkan pak SBY cenderung berorientasi konsep. Akan tetapi sebuah kesuksesan itu bukan hanya dari satu faktor saja yang menentukan. Semua tim juga ikut menentukan.”

Apakah SBY dan JK akan saling intip strategi? Mengingat kedua tokoh tersebut pernah bekerja sama dalam memimpin bangsa Indonesia ini. Hendrawan mencoba menerka yang akan terjadi selanjutnya. Bahwa itu tidak akan terjadi. Sebab ini adalah demokrasi silaturrahmi.

Lain PDIP lain juga dengan PSI. Sekjen PSI Raja Juli Antoni berujar,”Di tim Jokowi-Ma’ruf sedang difinalisasi kesediaan Pak JK untuk jadi ketua penasihat tim kampanye.”

Jika nanti JK resmi jadi ketua dewan penasihat tim sukses Jokowi-Ma’ruf, Toni menilai bahwa JK akan lebih baik dalam pemenangan pasangan calon dalam pilpres 2019. Dirinya membandingkan JK ketika menjadi wapres SBY di periode 2004-2009.

“Pak JK itu orangnya mirip dengan Pak Jokowi. Doyan kerja, cepat untuk memutuskan dan juga mengeksekusi kebijakan. Intinya sedikit bicara banyak kerja,” Lanjut Toni.

Toni juga mengimbuhkan,”Dulu Pak JK itu sering disebut orang sebagai ‘the real president’ saat beliau menjabat sebagai wapres SBY. Karena beliau selalu ‘ngegas’. SBY selalu ‘ngerem’. Ada banyak pertimbangan dan bimbang sebab selalu mempertimbangkan aspek citra-politis.”

Toni juga sempat mengkritisi cara SBY saat itu. Dirinya menganggap bahwa SBY lebih mementingkan popularitas.

Saat menaikkan harga BBM, menterinya yang diminta untuk mengumumkan. Giliran harga BBM diturunkan, beliau umumkan sendiri supaya bisa menaikkan popularitas pribadi. Tak jelas apa posisi paradigmatiknya mengenai subsidi BBM. Itu hanya kebijakan pragmatis jangka pendek untuk sebuah popularitas.

Oleh sebab itu, Toni merasa yakin bahwa JK bisa mempunyai banyak keunggulan dalam posisi tim sukses. Sementara itu, SBY lebih banyak kelemahannya.

Sebagai presiden, dulu SBY harusnya lebih punya power secara konstitusi. Namun tidak pernah pergunakan power-nya dengan maksimal demi kepentingan rakyat. Masih terlalu banyak pertimbangan. Peragu. Akhirnya ada banyak program nggak jalan, banyak proyek mangkrak,” kata Toni.

Sebaliknya, Pak JK dengan keterbatasan power-nya selalu berbuat cepat untuk kepentingan rakyat. Makanya dia dikenal sebagai ‘the real president’.

Meski begitu, Toni tetap menghormati SBY sebagai salah seorang tokoh bangsa. Apalagi, selain ketum partai, SBY pernah menjabat presiden dua periode.

“Saya menghormati kedua senior bangsa, Pak SBY dan Pak JK. Keduanya orang hebat yang sudah berkontribusi banyak terhadap negara, dengan segala kekurangan dan kelebihan mereka,” ucap Toni. (Gus Anto/Viwi Yusya/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here