102.976 Napi Dapat Remisi, 2.200 di Antaranya Bebas di HUT RI ke-73

0
28
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia  pada hari Jumat, 17 Agustus 2018, Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) memberikan remisi kepada sejumlah 102.976 narapidana.

Remisi atau pemotongan masa tahanan yang diberikan oleh pemerintah kepada sejumlah narapidana yaitu sebanyak 1 – 6 bulan. Pemotongan masa tahanan tersebut hanya diberikan kepada narapidana yang berkelakuan baik.

“2.220 (narapidana) di antaranya, langsung menghirup udara kebebasan”, terang Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami pada hari Kamis, 16 Agustus 2018.

Pemotongan masa tahanan, lebih lanjut dijelaskan Sri Puguh, bukan hanya sekedar pemberian hadiah saja, melainkan juga sebagai momentum untuk mengembalikan marwah lapas.

Indikator utama dalam proses pemasyarakatan, menurut Sri Puguh, ditempatkan pada penilaian perubahan perilaku. Tujuannya adalah untuk menciptakan pemulihan dan menurunnya angka resedivis.

Sampai dengan saat ini, jumlah warga binaan yang menghuni 522 Lapas, Rutan, dan LPKA se-Indonesia, jika ditotal keseluruhan yakni berjumlah 250.452. Dari jumlah tersebut, sebanyak 177.691 merupakan narapidana dan sebanyak 72.761 orang merupakan tahanan. Sementara itu, daya tampung yang ada hanyalah untuk 124.696 orang.

Terkait dengan sejumlah pemotongan masa tahanan yang diberikan kepada sejumlah narapidana, Sri Puguh Budi Utami yang merupakan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham, menjelaskan bahwa pemotongan masa tahanan itu turut memberikan dampak langsung kepada penghematan biaya makan sejumlah narapidana tersebut.

“Remisi tahun ini, juga telah menghemat anggaran biaya makan narapidana, sebesar Rp 118 miliar”, terang Sri Puguh dalam siaran pers, Jakarta, pada hari Kamis, 16 Agustus 2018 kemarin.

Total penghematan anggaran biaya makan tersebut diperoleh dari perhitungan biaya makan per orang tiap harinya, yakni sebesar rata-rata Rp 14.700,-, kemudian dikalikan hari yang dipotong dari adanya remisi tersebut, yakni 8.091.870 hari. Kemudian masih dikalikan dengan 2.200 yang merupakan jumlah narapidana yang mendapatkan remisi dan bisa langsung menghirup udara bebas.

Sri Puguh Budi Utami juga menerangkan bahwa dari 100.776 narapidana yang mendapatkan remisi dan tidak langsung bebas, sejumlah 25.084 orang menerima remisi 1 bulan, dan sejumlah 22.739 orang menerima remisi 2 bulan.

Sementara itu, sejumlah 29.451 narapidana menerima remisi sebanyak 3 bulan, sejumlah 14.170 narapidana menerima remisi 4 bulan, narapidana penerima remisi 5 bulan berjumlah 7.691, dan 1.641 narapidana menerima remisi 6 bulan.

Yasonna Laoly yang merupakan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) menerangkan bahwa, dari sejumlah 102.976 narapidana yang mendapat remisi pada HUT ke-73 RI, terdapat sebagian di antaranya yang merupakan narapidana korupsi dan narapidana terorisme.

“Napi korupsi itu, tentu yang memenuhi syarat, harus memenuhi syarat JC (justice collaborator), sebanyak 264 orang”, terang Yasonna Laoly, ketika ditemui di Kantor Kemenkumham, Jakarta Selatan, pada hari Jumat, 17 Agustus 2018.

“Sedangkan, napi teroris 38 orang yang sudah memenuhi syarat. Kalau teroris harus memenuhi syarat JC dari Densus 88 dan BNPT”, imbuh Yasonna Laoly.

Selain itu, sejumlah 17.921 orang yang merupakan narapidana narkotika yang telah memenuhi syarat dan turut memperoleh remisi.  Adapun jumlah narapidana tindak pidana umum yang mendapatkan remisi adalah 83.259 orang, terbanyak daripada narapidana tindak pidana yang lain.

Hal tersebut  berkaitan dengan jumlah narapidana tindak pidana umum yang jumlahnya juga jauh lebih besar jika dibandingkan tindak pidana lain seperi korupsi, terorisme, dan narkotika. (Gus Anto/Viwi Yusya/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here