Terjadinya Gempa Lombok Gara-Gara TGB dan Jokowi, Itu Kata Pengungsi

0
310
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Jumlah korban gempa yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat dan Bali terus bertambah. Hingga Senin (13/8/2018), sebanyak 436 orang meninggal dunia.

“Jumlah 436 orang meninggal dunia tersebut adalah korban yang sudah terdata oleh Kepala Desa dan babinsa. Korban yang sudah terverifikasi dan ada surat kematian di Dinas Dukcapil tercatat 259 orang. Sisanya dalam proses administrasi di Dinas Dukcapil masing-masing kabupaten.

Laporan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan bahwa gempa Lombok pada awal Agustus dengan berkekuatan tujuh pada skala Richter menyebabkan kenaikan daratan pulau tersebut setinggi 25 sentimenter.

“Berdasarkan pola deformasi pada peta, para ilmuwan menyimpulkan pergeseran bidang patahan akibat gempa terjadi pada patahan di bawah bagian barat laut Pulau Lombok dan menyebabkan kenaikan permukaan daratan sampai 10 inci (25 sentimeter),” demikian dimuat pada situs NASA.

Data baru satelit digunakan NASA untuk membuat peta perubahan bentuk daratan Lombok setelah gempa yang telah menewaskan 436 orang dan jumlah pengungsi mencapai 352.793 orang sampai hari Senin (13/08/2018).

Bagaimana pendapat warga pengungsi berkaitan dengan gempa yang mereka alami?

Iskandar Zulkarnain (47), adalah salah satu korban gempa Lombok yang kemudian mengungsi di pos pengungsian di Dusun Pakel, Desa Gunungsari, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Iskandar Zulkarnain menyayangkan bahwa sejumlah informasi di media sosial mencampuradukan antara bencana dengan politik.

Itulah sebabnya, ia memohon masyarakat supaya bijak dalam berkomentar dan tidak menambah perih penderitaan yang dialami warga terdampak gempa.

“Cukup kita sayangkan di media sosial, gempa orang bilang ini gara-gara Jokowi nyalon lagi, Lombok diazab karena gubernurnya Zainul Majdi keluar dari ijtima ulama. Saudaraku semua, gempa ini murni dari Allah SWT, tidak disebabkan oleh pilkada,” ujarnya di Dusun Pakel, Lombok Barat, NTB, Jumat (17/8/2018).

Selanjutnya Iskandar Zulkarnain mengajak masyarakat untuk membangun demokrasi dengan akal sehat. Di samping itu, tambahnya, agar masyarakat tidak mempolitisasi bencana karena perbedaan pilihan politik. Maka, Iskandar pun mengajak seluruh pengungsi untuk memaknai HUT Republik Indonesia dengan merdeka dari kata mengeluh.

“Karena Alquran telah memberikan kita rekomendasi, petunjuk bahwa musibah yang menimpa kita sudah dikehendaki dari Allah SWT,” lanjutnya.

Ia menilai, siapa saja yang percaya bahwa gempa berasal dari Allah dan sebagai ujian, maka Allah akan memberi petunjuk agar hati hambanya tetap teguh, istiqamah, semangat, dan membangun, serta berkata-kata yang baik.

“Kita harap kita juga merdeka dari efek gempa 7 SR, dari rasa panik trauma, segera kita hilangkan, mari bangun kembali Lombok,” tambah Iskandar.

Kini, kondisi para pengungsi, khususnya anak-anak dan balita mulai terserang penyakit diare akut dan ISPA. Itu khususnya para pengungsi anak dan balita yang di Lombok Utara.

“Sejak RS Lapangan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dibuka pada Sabtu (11//2018) lalu, selalu ada penambahan 20-an pasien anak dan balita setiap hari,” kata Ketua Tim RS Lapangan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dr Mangaraja Victor, Kamis (16/8/2018).

Lebih lanjut, Victor menambahkan bahwa anak-anak memang rentan terserang penyakit. Khususnya ketika anak-anak tinggal di pengungsian. Ketika itu pula anak-anak menerima  asupan makanan yang kurang bervariasi. Hal itu menyebabkan munculnya berdampak pada melemahnya daya tahan tubuh.

“Makanan di sini umumnya nasi dan mie sehingga asupan gizi kurang bervariasi. Ditambah lagi dengan cuaca yang panas sehingga anak-anak dan balita terpapar debu,” papar Victor di RS Lapangan BSMI, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Kamis (16/8/2018).

Penulis  : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here