Peringatan Ekonom Senior: Krisis Ekonomi 98 Terkait Anjloknya Rupiah

0
215
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang berkelanjutan dalam  empat tahun terakhir menimbulkan kekhawatiran baru. Bukan saja mengkhawatirkan pelaku ekonomi dan bisnis. Ekonom senior, Rizal Ramli pun mengaku khawatir.

Bahkan, ekonom senior, Rizal Ramli khawatir jangan-jangan anjloknya nilai tukar rupiah kali ini lebih parah daripada krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998. Kemudian, Rizal Ramli menyebut bahwa anjloknya nilai kurs rupiah sudah masuk kategori setengah lampu merah.

“Hari ini nyaris krisis finansial. Sudah setengah lampu merah,” ujar Rizal di Kampus Universitas Pasundan, Bandung, Jumat (31/8/2018).

Lebih lanjut Rizal mengingatkan bahwa krisis ekonomi pada tahun 1998 berbeda dengan yang terjadi saat ini.

Pada krisis ekonomi tahun 1998, lanjut Rizal, Indonesia memiliki tabungan, exportir neto minyak bumi sebanyak 1,3 juta barel per hari.

Masih banyak memiliki kapasitas lebih dari komoditas sawit, cokelat, karet, dan sebagainya.

“Hari ini kondisinya beda kita sudah tidak punya tabungan lagi,” tegasnya.

Kini, kata Rizal, Indonesia bukan bertindak sebagai eksportir minyak bumi lagi. Akan tetapi, kini Indonesia  justru bertindak sebagai importir 1,1 barel per hari.

Pada saat ini, tambah Rizal, tidak ada kapasitas lebih pada komoditas kelapa sawit, kakao, cokelat, dan lain lainnya. Dengan demikian, ketika rupiah anjlok ke angka Rp 15.000, Indonesia belum mampu melonjakkan eksport, tidak ada excess capacity.

“Inilah kenapa kita justru harus lebih hati-hati dibandingkan 1998, perlu cara-cara inovatif dan terobosan untuk keluar dari kondisi ini,” ujar Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI itu.

Sebagaimana diketahui bahwa sejak Jumat (31/8/2018), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS atau kurs terus menurun.

Nilai tukar rupiah atau kurs terhadap dollar dari sebelumnya sebesar Rp 14.734 per USD pada Kamis (30/8/2018) naik menjadi Rp 14.800 per USD pada pukul 07.00 WIB.

Hari ini, Senin (3/9/2018) hingga pukul 21.50 WIB nilai tukar rupiah (kurs) terhadap dolar mencapai Rp 14.830 per Dolar AS.

Dilansir TribunWow.com dari asia.nikkei.com, Jumat (31/8/2018), nilai tukar rupiah mencapai Rp 14.840 pada tengah malam.

Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 1998 setelah terjadinya krisis keuangan Asia.

Melemahnya mata uang rupiah menunjukkan total penurunan sebesar 8,7 persen sejak awal tahun.

Terkait hal ini, sebelumnya Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga dengan total 125 basis poin sejak Mei.

Selain itu BI juga melakukan intervensi untuk menopang mata uang rupiah.

Menyikapi kondisi nilai tukar rupiah yang terus menurun tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menuturkan komitmennya. BI, tutur Perry, berkomitmen   sangat kuat untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama stabilitas nilai tukar rupiah.

Oleh sebab itu, BI meningkatkan intervensi di pasar forex.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here