Ditanya Pilih Jokowi Atau Prabowo, Inilah Jawaban Mahfud MD

0
422
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) 2019 akan digelar serentak pada 17 April 2019. Rangkaian tahapannya pun sudah  dilakukan sejak tahun lalu, tepatnya pada Oktober 2017.

Pemilihan Presiden tahun 2019 memunculkan dua pasangan bakal calon presiden (capres)  dan calon wakil presiden (cawapres). Mereka adalah pasangan capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi) – Maruf Amin dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahudin Uno.

Pada pilpres periode sebelumnya, yakni tahun 2014, capres Jokowi berhadapan dengan capres Prabowo. Pada waktu itu, capres Jokowi berpasangan dengan cawapres Jusuf Kalla dan capres Prabowo berpasangan dengan cawapres Hatta Rajasa.

Sebagai pemenangnya adalah capres–cawapres Jokowi – Jusuf Kalla. Bagaimana dengan pilpres pada periode kali ini?

Siapakah pilihan Mahfud MD terkait pilpres kali ini? Atau dengan kata lain, pasangan capres-cawapres yang mana yang akan dipilih oleh mantan ketua MK yang juga cawapres  yang gagal dari pasangan Jokowi ini?

Mahfud MD pun memberikan jawabannya terkait siapa yang ia dukung pada pilpres 2019.

Hal tersebut diungkapkan Mahfud melalui Twitter miliknya, @Mohmahfudmd, Rabu (5/9/2018).

Pada mulanya, netizen dengan akun @mnoorrahim_ bertanya terkait pilihan Mahfud.

“Prof ini pertanyaan mayoritas temen kampus dan kompleks saya kepada Prof: Pada 2019 nanti, Prof dukung siapa?”

“Memang sudah ada yang didukung tapi belum dipublikasi/sebaliknya? Mungkin juga pertanyaan mayoritas seluruh rakyat Indonesia,” tulis akun @mnoorrahim_.

Menanggapi hal tersebut, Mahfud mengatakan bahwa dirinya memastikan akan memberikan suara pada pilpres 2019. Walaupun menurutnya, tidak ada pasangan yang ideal untuk dipilih.

“Saya pasti memilih. Tak ada pasangan yang ideal. Tetapi kita harus memilih pasangan yang lebih banyak hasil kalkulasi baiknya daripada jeleknya.”

“Yang mana itu? Masing-masing kita bisa membuat matriks penilaian sendiri-sendiri dahulu,” tulis Mahfud.

Sementara itu, sebelumnya Mahfud pun pernah menolak menjadi bagian dari tim sukses (timses) kampanye pasangan Jokowi dan Maruf. Sebab, ia kini masih menjabat sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

“Saya tidak bisa menjadi ketua timses karena saya berada di BPIP,” katanya.

Mahfud merasa bahwa jabatan di BPIP mengharuskan dirinya bersikap netral. Sebab, pekerjaannya itu berkaitan dengan ideologi Pancasila.

“BPIP ditugaskan Presiden untuk menata ideologi, tentu termasuk bagaimana netralitas penyelenggara negara karena BPIP itu badan penyelenggara juga,” ujarnya.

Mahfud yang sempat menjadi kandidat kuat cawapres Jokowi ini juga mengaku, sejauh ini tidak ada tawaran untuk dirinya menjadi ketua timses Jokowi-Maruf.

“Tidak ada tawaran,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menolak untuk menjadi ketua tim sukses Jokowi-Maruf.

Ha itu disampaikan oleh Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofyan Wanandi. Sofyan  mengungkapan bahwa Presiden Jokowi meminta Kalla untuk menjadi ketua tim sukses. Masalahnya, jika Jokowi cuti kampanye, dirinya harus menjalankan tugas presiden.

“Pak Jokowi itu mintanya (agar JK jadi) ketua tim sukses, tapi setelah berbicara dengan Bu Mega dan lain-lain, Pak JK memberitahukan bahwa secara teknis susah pemerintah siapa yang jalankan?” ujar Sofyan di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

JK, tambah Sofyan menilai bahwa jika seorang wapres ikut masuk di tim pemenangan kampanye 2019, sama saja dua pimpinan negara, presiden dan wakil presiden, ikut turun langsung di pilpres.

Itulah sebabnya, menurut JK, pemerintahan harus tetap berjalan dan perlu ada yang mengendalikan secara langsung. Maka, Kalla memilih ingin fokus sebagai wapres dan menolak tawaran jadi ketua tim pemenangan Jokowi-Maruf Amin.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here