Jokowi Sudah Kalah Sebelum Bertanding, Akibat Rupiah Anjlok Indonesia Pun Punya Presiden Baru

0
572
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi yang cukup tinggi terhadap dollar Amerika Serikat (AS) di masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Faktor eksternal dan internal menjadi salah satu penyebab melemahnya nilai tukar rupiah.

Sementara itu, menurut Jokowi, pemerintah menilai bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat disebabkan oleh banyak faktor. Presiden Jokowi menegaskan peningkatan ekspor dan investasi menjadi kunci penting perbaikan ekonomi Indonesia.

Presiden Jokowi mengakui bahwa melemahnya rupiah terjadi karena faktor eksternal yang datang bertubi-tubi di antaranya kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan perang dagang Amerika Serikat dengan China, serta imbas krisis Turki dan Argentina.

Pelemahan nilai tukar rupiah yang berlangsung terus-menerus dan bertubi-tubi itu memberikan pengaruh besar bagi pemerintahan Presiden Jokowi. Hal itu kian parah karena Jokowi dinilai telah gagal melakukan perubahan ekonomi Indonesia sebagaimana dijanjikannya saat Pilpres 2014 silam.

Dengan semakin terpuruknya nilai tukat rupiah terhadap dollar AS hingga mencapai Rp15.000, jelas makin merugikan pemerintahan Presiden Jokowi. Lebih-lebih bagi Jokowi yang maju sebagai capres petahanan di Pilpres 2019.

Hal seperti itu disampaikan oleh Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI), Panji Nugraha dalam keterangannya, Rabu (5/9/2018).

Lebih lanjut, Panji menyebut bahwa dengan kondisi ekonomi Indonesia yang ada saat ini, ia menilai strategi ekonomi Joko Widodo telah gagal membuat perubahan.

“Pelemahan rupiah ini membuat negara harus membayar bunga utang yang semakin tinggi,” katanya.

Keadaan seperti itu, lanjutnya, dipastikan akan membuat banyak proyek pembangunan infrastruktur yang bakal mangkrak.

“Artinya prestasi yang digadang-gadang selama ini oleh Jokowi dan kolega pun gagal,” lanjutnya.

Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika kemudian muncul anggapan bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta itu sudah kalah lebih dulu sebelum bertanding pada pesta demokrasi pilpres 2019 adalah sebuah kewajaran.

“Wajar saja jika Jokowi di Pilpres 2019 ini dinyatakan kalah sebelum bertanding karena pelemahan rupiah saat ini bukanlah prestasi yang membanggakan,” tambahnya.

Di samping itu, dalam pandangan Panji, Jokowi seakan mengabaikan persoalan ekonomi sehingga mengarah kepada krisis.

Anjloknya nilai tukar mata uang nasional itu, lanjut Panji, adalah juga disebutnya menjadi bentuk aktualisasi ketidakpercayaan publik kepada Jokowi.

“Dengan anjloknya nilai tukar rupiah saat ini jelas hal tersebut disinyalir karena ketidakpercayaan publik atau pasar kepada pemerintahan Jokowi,” bebernya.

Panji melanjutkan dengan menyatakan bahwa imbas lain yang bakal diterima dan berpotensi menggerus perolehan suara Jokowi pada  pilpres 2019 mendatang adalah sejumlah kebijakannya.

Sebab, Panji menambahkan, dalam kondisi pelemahan rupiah ini membuat presiden terpaksa membuat kebijakan tidak populis.

Di antaranya, lanjut Panji, adalah dengan mencabut subsidi sejumlah komoditas atau BBM adalah jelas akan membuat harga-harga bahan pokok saat ini makin tak terjangkau dan mahal.

“Faktor tersebut jelas menjadi penentu kekalahan Jokowi dan bisa dipastikan Indonesia ke depan mempunyai Presiden baru,” tutupnya.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here