Dolar AS Mengamuk, Sandiaga: Prabowo Minta Tidak Saling Menyalahkan

0
84
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Melalui bakal calon wakil presiden yang akan mendampinginya di Pilpres 2019 nanti, bakal calon presiden Prabowo Subiantio menitipkan pesan dalam kepada masyarakat terkait dengan situasi nilai tukar dolar AS yang akhir-akhir ini tengah “ngamuk”. Disampaikan oleh Sandiaga Uno, bahwa Prabowo, menginginkan agar tidak ada pihak yang saling menyalahkan terkait dengan amukan nilai tukar dolar AS ini.

“Harapan Pak Prabowo, tentu tidak saling menyalahkan. Tapi, ini sebuah hal yang sudah diprediksi empat tahun sebelumnya, 2014 yang lalu oleh beliau”, terang Sandiaga di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, pada hari Selasa, 4 September 2018.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan bahwa meroketnya nilai tukar dolar AS dikarenakan oleh adanya kebocoran. Belum lagi, menurutnya, ekonomi Indonesia tidak terjadi reformasi struktural, sehingga nilai tukar dolar AS terhadap rupiah semakin meroket.

“Karena ada kebocoran, ekonomi kita tidak terjadi reformasi struktural yang tepat. Biaya-biaya akan meningkat secara tajam, dan hasil ekspor tetap di US Dollar, tidak dikonversi ke rupiah”, terang Sandiaga.

Sandiaga menjelaskan, bahwa permasalahan ini menjadi catatan Prabowo bersama dirinya, dan memerlukan pemikiran yang lebih serius.

“Jadi ini yang menjadi catatan. Tadi beliau sampaikan sangat serius. Dan kita harus memikirkan (permasalahan ini) dalam satu dua hari”, imbuh Sandiaga.

Bersama dengan partai koalisi, permasalahan ekonomi ini akan dibahas lebih lanjut lagi, yakni setelah Prabowo bertolak ke Lombok dan Jawa Timur. Setelahnya, Prabowo dan Sandiaga akan bersikap terkait masalah ekonomi Indonesia sekarang.

“Dia (Prabowo) akan pergi ke Lombok besok. Setelah itu ke Jawa Timur. Kembali diinginkan ada pertemuan di tingkat high level antara mitra koalisi untuk menyikapi keadaan ekonomi sekarang”, jelas Sandiaga.

Di samping itu, terkait dengan meroketnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, Gerindra menganggap bahwa hal ini dapat menggerus elektabilitas Joko Widodo di Pilpres 2019 mendatang. Sebab, dengan meroketnya nilai tukar dolar AS, akan berimbas pada kenaikan harga-harga kebutuhan pokok.

Hal ini disampaikan oleh Habiburrokhman yang merupakan Ketua Bidang Advokasi dan Hukum DPP Gerindra ketika ditemui di Jalan Daksa Nomor 10, Jakarta Selatan, pada hari Selasa, 4 September 2018.

“Ya, saya rasa ada pemilu atau ga ada pemilu, namanya pemerintahan kalau ga bisa memenuhi ekspektasi, apalagi janji soal dolar begitu, pasti akan bermasalah. Kan itu akan berimbas, dan sudah berimbas pada harga-harga (kebutuhan pokok). Jadi kita jangan ngomong pemilu, ga ada pemilu pasti akan mempengaruhi (suara rakyat)”, terang Habiburrokhman.

Tokoh politik yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) itu pun menyampaikan bahwa, meroketnya nilai dolar sudah berdampak pada perekonomian masyarakat. Ia mengaku mendapatkan keluhan dari banyak masyarakat yang merasa kesulitan karena naiknya harga bahan-bahan pokok.

Pada kesempatan yang sama, Habiburokhman mengatakan bahwa nilai tukar rupiah atas dolar AS terus merosot dan perekonomian juga tak kunjung membaik. Dengan kondisi yang seperti ini, ia yakin bahwa suara untuk pasangan Jokowi dan Ma’ruf akan berkurang.

“Kalau Anda bilang terpengaruh, persepsi masyarakat terhadap pemerintah mengatasi persoalan hidup mereka, pasti sangat berpengaruh”, pungkas Habiburrokhman.

Seperti yang telah diketahui, sampai sejauh ini, dolar AS hampir menyentuh angka Rp 15.000,-. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar dolar AS terhadap rupiah mencapai Rp 14.840,-. Sedangkan dari perdagangan Reuters, tercatat mencapai Rp 14.897,-. (Rico/Gus Anto/Viwi Yusya/Thoriq/Izzul/Dari berbagai sumber)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here