Sukses Asian Games 2018, Keuangan Indonesia Masih Tak Baik – Baik Saja

0
69
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Menyaksikan kabar indonesia terkini mengenai kenaikan dollar yang hampir mencapai angka Rp.15000,00 menjadi perbincangan hangat para petinggi – petinggi negara hingga masyarakat umum.

Padahal kita baru – baru ini sukses menyelesaikan pegelaran ajang olahraga tingkat Asia yang menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah. Betapa gencarnya pemerintah melakukan pembenahan infrastruktur dan tentu saja dengan dana yang tidak sedikit. apalagi pembukaannya hampir menghabiskan dana 500 M. Sungguh angka fantastis. Namun itu sejenak saja, sampai ketika  pergerakan rupiah yang terus menurun menggantikan berita-berita utama di media pemberitaan.

Grafik Kenaikan dollar

Lalu bagaimana kondisi kenaikan dollar saat ini? Melihat grafik yang tertera selama 1 bulan terakhir bahwa kenaikan harga Dollar (USD) mencapai 0,000069. Hal ini menjadi kilas balik dari krisis moneter yang terjadi 20 tahun yang lalu tepatnya 1998. Saat itu, masyarakat harus merelakan diri membeli kebutuhan di lapak – lapak murah yang disediakan dibandingkan toko – toko umum karena nominal Rupiah yang semakin melejit. Saking menderitanya, Saat itu berbagai aliansi mahasiswa dijakarta turut ambil bagian dalam menyelesaikan dampak krisis ini dengan melakukan aksi turun ke jalan. Bagaimana tidak, Nominal Dollar (USD) saat itu terhitung Rp.5000 dan mengalami kenaikan hingga Rp13.000. Ratusan Aparat – Aparat negara dikerahkan guna menghentikan kekacauan tersebut. puncaknya semakin tak terhelakkan ketika 4 mahasiswa tewas tertembak. Namun aksi tersebut tidak berhenti sampai akhirnya Presiden kedua Indonesia Soeharto menyatakan turun dari jabatannya.

Setelah 20 tahun berlalu, kini ketakutan warga negara kembali terjadi. Setelah mengalami fase kenaikan yang cukup fantastis, kini Indonesia kembali menghadapi kenaikan Dollar (USD) hingga mencapai Rp. 14.899,00. Lantas apa tanggapan presiden jokowi mengenai berita tersebut.

“Ada Inflasi juga bisa kita kendalikan kurang lebih 3,5 %. Kegiatan Ekspor kita juga masih baik, definisi neraca juga semakin baik artinya fundamental makro kita baik,” Ujar Jokowi selaku Presiden RI dilansir JPNN.com (01/05/2018)

Jokowi juga menegaskan, masyarakat harus waspada karena fenomena global seperti ini tak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia tetapi negar – negara lain pun ikut bergejolak.

Presiden Jokowidodo 

“Saya kira yang paling penting kita harus waspada, kita harus hati-hati. Saya selalu melakukan koordinasi di sektor fiskal, sektor moneter dan sektor industri, pelaku-pelaku usaha. Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci sehingga jalannya itu segaris semuanya,” tuturnya. (05/09/2018)

Jokowi menambahkan, langkah lain yang perlu dilakukan adalah menggenjot investasi dan ekspor untuk mengurangi defisit transaksi berjalan. “Target sudah saya berikan agar dalam satu tahun betul-betul ada perubahan di penyelesaian defisit transaksi berjalan,” ujarnya lagi.

Sedangkan untuk menekan impor, pemerintah mendorong peningkatan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk seluruh sektor. Harapannya, kebijakan itu bisa mengurangi impor dan menghemat hingga USD 2 miliar hingga USD 3 miliar.

Pedagang di pasar

Dampak peningkatan nilai tukar ini mempengaruh sebagian besar kegiatan – kegiatan perekonomian dan infrastruktur di Indonesia. Mungkin tak semua harga barang – barang dagangan yang beredaran di pasar – pasar tradisional maupun modern meningkat seperti cabai, tomat dan sayuran lainnya namun dari sisi produsen yang tak lain adalah petani mendapatkan cukup kerugian akibat menjual dengan harga yang tak sebanding dengan penjualannya di pasaran. Terlebih lagi ketika hasil panen di negeri kita sendiri tak diprioritaskan seperti hasil impor lainnya. Cukup merugikan bukan?

Berkali – kali pemerintah melalui menteri keuangan, Sri Mulyani, terus saja menyebut Indonesia tengah baik-baik saja, telah berjalan ke arah yang benar, dan bahkan dapat dimaknai positif. Menurutnya, setiap pelemahan 100 rupiah dari asumsi kurs APBN justru akan mendatangkan tambahan pendapatan 1,7 trilyun. Dilansir mojok.co

Itu pendapat Ibu sri mulyani yang telah menjabat sebagai menteri keuangan sebelumnya. Kita sulit menerima apa yang sebenarnya terjadi, mana kira – kira yang benar merosotnya satu mata uang secara bermakna positif ataukah justru mendorong perekonomian semakin ke di ambang jurang?

Segala pemberitaan tersebut mengalihkan kita pada kondisi Ekonomi yang ternyata tidak baik – baik saja. Seandainya setiap pengerekan bendera merah putih diikuti juga dengan apresiasi rupiah kita, maka itu akan baik – baik saja. Negara berprestasi, ekonomi kuat, penduduknya bahagia. Sayangnya hanya menjadi harapan yang tak kunjung terealisasikan. Walau pemerintah tidak mendiamkan nilai rupiah anjlok dari waktu ke waktu. Tapi sejauh ini, intervensi yang dilakukan pemerintah belum menampakkan hasil yang kita kehendaki.

Ya kita doakan saja semoga keuangan Indonesia dapat kembali normal seperti sebelumnya dan pemerintah diharapkan lebih memprioritaskan barang – barang hasil sendiri sehingga akan memakmurkan seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

Triana Wulandari adalah peserta lomba menulis berita ala namalonews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here