Peringatan! Jokowi Jangan Menjadi Musuh Sejarah

0
236
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Pada tanggal 5 September 2018 Bandar Udara Internasional Lombok (Lombok International Airport/LIA) berubah nama. Namanya berubah menjadi  Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Majid.

Hal itu berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia, Nomor KP 1421 tahun 2018. Pengubahan itu mengacu pada Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Salah satunya adalah untuk Tuan Guru Kiai Haji (TGKH) Muhammad  Zainuddin Abdul Madjid yang merupakan tokoh asal Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebagaimana diketahui bahwa M. Zainuddin Abdul Madjid merupakan kakek dari Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB).

Pergantian nama bandara tersebut rupanya menjadi polemik. Salah satunya diributkan oleh pihak elite Partai Demokrat (PD). PD menduga bahwa perubahan nama bandara tersebut  menjadi modus untuk mengubah prasasti yang ditandatangani oleh ketua umum mereka, SBY, di bandara tersebut.

Penggantian nama bandara tersebut sontak mendapat tanggapan dari Partai Demokrat. Hal itu tampak dari pernyataan sejumlah pengurus Partai Demokrat.

Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, menilai  bahwa pembongkaran prasasti SBY akan menegaskan bahwa Jokowi merupakan musuh sejarah. Sebab, dia menghilangkan peristiwa penting bangsa yang ada di Lombok.

“Jokowi jangan coba-coba menghilangkan jejak sejarah Bandara Lombok. Jokowi jangan jadi musuh sejarah,” ujarnya dalam akun Twitter pribadi, Rabu (12/9).

“Modus baru, ganti nama bandara agar bisa ada tanda tangan Jokowi,” kata Wakil sekjen PD, Andi Arief, di Twitter, Rabu (12/9/2018).

“Pak Jokowi, apakah Anda tidak punya rasa malu mau mengganti prasasti Bandara Lombok dengan prasasti baru bertandatangan Anda? ini Video SBY meresmikan membangun dan meresmikan Bandara Lombok,” lanjut cuitan Andi.

Sekjen PD, Hinca Pandjaitan, juga angkat bicara. Dia mengatakan bahwa Bandara Lombok adalah salah satu karya SBY sebagai presiden saat itu. Hinca juga mengunggah video tentang Bandara Lombok.

“Yang membedakan sejarah dengan yg lain adlh sifat otentik dan kejujurannya tuk disampaikan dan diturunkan ke generasi berikutnya. Bandara Internasional Lombok adalah salah satu karya pemerintahan @SBYudhoyono , prasasti yang ditandatangani pun masih basah dan diingat rakyat NTB,” kata Hinca di Twitter.

Itulah sebabnya, Partai Demokrat mewanti-wanti Presiden Joko Widodo untuk tidak mengganti prasasti pembangunan Bandara Internasional Lombok yang dibubuhkan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyonos (SBY) pada  tahun 2011  itu.

Sebagaimana diketahui bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Bandara Internasional Lombok (BIL), pada  Kamis (20/10/2011) pagi. BIL adalah satu-satunya bendara berskala internasional di NTB sebagai pengganti bandara lama Selaparang yang sudah tidak mampu lagi menampung penumpang yang terus meningkat setiap tahunnya.

Bandara ini menempati area seluas 551 hektar atau delapan kali lipat dari luas bandara lama. Dalam sambutannya Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi menjelaskan bahwa selesainya pembangunan Bandara Internasional Lombok merupakan bukti bahwa Provinsi NTB bisa maju dan akan terus maju.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here