Membela Capresnya, Timses Jokowi Tuduh Prabowo Lunturkan Bahasa Nasional

0
124
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto,  membela capresnya, Jokowi. Hasto membela capresnya yang petahana itu dengan membuat pernyataan yang bermotif nasionalisme. Hasto kaget atas ajakan dari capres kubu penantang Jokowi yang menginginkan pada salah satu bagian pada pilpres 2019 nanti ada debat capres-cawapres dengan bahasa Inggris.

Sebelumnya diberitakan bahwa Ketua DPP PAN, Yandri Susanto, mengusulkan format debat capres dan cawapres Pilpres 2019 menggunakan bahasa Inggris. Menurut Yandri, usulan itu bisa menjadi pertimbangan KPU.

“Boleh juga kali, ya. Ya, makanya hal-hal detail seperti ini perlu didiskusikan,” kata Yandri seusai rapat sekjen di Posko Pemenangan PAN, Jl Daksa I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Menanggapi ajakan debat capres tersebut, Hasto memberikan jawaban dengan argumen rasa semangat kebangsaan. Semangat kebangsaan dalam pengertian menempatkan rasa cinta Tanah Air, kebanggaan terhadap jatidiri dan kebudayaan bangsa, serta sejarah kemerdekaan bangsa sebagai hal prinsip yang tidak boleh dikalahkan hanya oleh ambisi kekuasaaan.

Sebab, lanjut Hasto, sejarah mengajarkan bahwa bangsa Indonesia bersatu karena semangat kebangkitan nasional dan sumpah pemuda.

“Bagaimana mungkin semangat menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia, kini direduksi sebagai sekedar ketrampilan berbahasa asing? PDI Perjuangan berpendapat bahwa usulan tim kampanye Prabowo-Sandi tersebut kontrapoduktif dengan semangat Sumpah Pemuda. Apakah ini karena isu yang beredar bahwa Tim Kampanye Prabowo-Sandi di back-up oleh konsultan asing?” kata Hasto, Sabtu (5/9/2018).

Lebih lanjut, Hasto beralih dengan menyatakan bahwa debat yang dilaksanakan oleh KPU merupakan bagian dari kegiatan kenegaraan. Kegiatan kenegaraan tersebut, lanjut Hasto,  diwajibkan menggunakan bahasa Indonesia. Karena itu, tambahnya, usulan menggunakan bahasa Inggris sebagaimana disampaikan Tim Prabowo-Sandi jelas melanggar UU 24/2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

“Jadi kita mempertanyakan usul yang jelas jauh dari memperkuat semangat kebangsaan di tengah era globalisasi saat ini,” ungkap Hasto.

Di samping itu, Hasto juga menekankan bahwa dalam era kolaborasi dan persaingan antarbangsa terjadi secara sekaligus dan sengit, maka setiap pemimpin negeri terlebih capres dan cawapres seharusnya kokoh dan bangga dengan identitas nasionalnya. Bukan pada masalah yang sebaliknya dengan menampilkan hal-hal yang justru menggerus nasionalisme Indonesia.

“Mari kita perkuat nasionalisme Indonesia, termasuk dalam era milenial saat ini. Tim Kampanye Prabowo-Sandi belajarlah dengan Nadiem Makaramim, Iman Usman, Belva Devara, Wishnutama, Erick Tohir dan tokoh-tokoh muda lainnya yang dengan caranya menunjukkan semangat bangga dengan Indonesia,” demikian Hasto.

Kalau memang capresnya berani dan siap untuk diajak debat capres dengan menggunakan bahasa Inggris, lebih elok, baik dan bijaksana sekiranya ajakan tersebut diterimanya  dengan senang hati. Memang, sekarang eranya sudah jauh lebih maju dibanding beberapa dekade yang  lalu.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here