Karena Hanya Urus Impor Beras, Diubah Saja Kemendag Menjadi Kementerian Impor Pangan

0
361
Foto:ist

Jakarta, namalonews.com – Di bawah kendali Enggartiasto Lukita, masyarakat mempunyai kesan bahwa yang tampak Kementerian perdagangan hanya mengurusi impor pangan, khususnya beras. Itulah sebabnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang terus melakukan kebijakan impor pangan tanpa ada persetujuan Kementerian Pertanian dan Bulog (Badan Urusan Logistik) menuai kecaman.

Yang memulai mengkritik atas kebijakan Kemendag tersebut adalah ekonom senior, Rizal Ramli. Baru-baru ini, Rizal Ramli mengritik keras kementerian yang dipimpin oleh Enggartiasto Lukita tersebut. Alhasil, kritikan itu menghasilkan somasi Partai Nasdem (Nasional Demokrat) kepada Rizal Ramli karena sudah menyeret nama ketua umumnya, Surya Paloh, termasuk Presiden Joko Widodo.

Kebijakan impor beras tersebut jelas aneh. Aneh karena impor beras tersebut dilakukan  ketika ketika stok beras nasional yang kini mencapai 2,4 juta ton sesuai data Bulog. Stok itu tersimpan di gudang Bulog.

Adalah seorang anggota Komisi IV DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Ono Surono. Ia  menyatakan bahwa jumlah beras yang disimpan di gudang Bulog tersebut merupakan titik aman untuk pangan nasional.

“Info saat ini stok beras di Bulog sudah 2,4 juta ton dan boleh dikatakan aman untuk nasional,” kata Ono, Rabu (19/9/2018).

Itulah sebabnya, atas dasar tersebut, angggota DPR asal Indramayu tersebut menyatakan bahwa tidaklah perlu Kemendag melakukan impor beras.

“Kalau saya sih simple saja apabila stok aman, tidak terjadi lonjakan, harga beras dan produksi stabil, ya harus ditolak,” tegasnya.

Ono memandang aneh ketika Kemendag hanya mau urus impor saja tanpa mau tahu produksi padi, stok atau cadangan beras, harga dan masalah gudang yang sudah penuh.

“Kalau begitu ubah saja namanya menjadi Kementerian Impor Pangan,” pungkasnya.

Akhirnya, Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, buka suara soal polemik impor beras. Menurut Darmin, jika pemerintah tidak memutuskan impor beras bisa bikin repot. Darmin memastikan keputusan impor beras sudah dipertimbangkan dengan sangat matang.

“Kalau tidak impor waktu itu repot kita,” kata Darmin di kantornya, Kementerian Koordinator Perekonomian Jakarta Pusat, Rabu (19/9/2018).

“Jadi itu sudah dengan pertimbangan matang walaupun kementerian terkaitnya bilang oh 3 bulan produksinya 13,7 (juta ton proyeksinya). Ya kalau 13,7 ya beli dong ya kan. Kita minta hanya 2,2 (juta ton),” sambung Darmin.

Penulis : Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here